Mengenal risiko-risiko investasi

Thursday, June 1st 2017. | Personal Finance

JAKARTA. Investor yg memegang saham PT Waskita Karya Tbk pasti sumringah. Sepanjang tahun ini, harga saham emiten berkode WSKT ini telah naik sekitar 40%. Kinerja keuangannya juga ciamik. Di kuartal satu, emiten konstruksi ini berhasil mengantongi laba bersih sebesar Rp 127,3 miliar, melesat 1026% dibanding tahun sebelumnya.

Tapi beda lagi dgn pemegang saham PT Agung Podomoro Land Tbk. Gara-gara petingginya terseret kasus suap reklamasi, harga saham emiten berkode APLN ini malah merosot sekitar 24% semenjak awal tahun.

Tentunya, bila investor cukup menempatkan investasinya di saham APLN, ia jadi rugi besar. Namun ia dapat mengurangi kerugian tersebut bila menyebar investasinya di banyak instrumen atau banyak saham.

Menurut Lukas Setia Atmaja, Pakar Keuangan dari Prasetiya Mulya Business School, diversifikasi portofolio merupakan cara yg cukup efektif untuk mengurangi risiko investasi di pasar modal. Secara umum, ada dua jenis risiko yg dihadapi oleh semua investor.

Pertama, risiko sistematis alias risiko pasar. Risiko ini timbul karena kejadian makro, yakni kejadian yg mau tak mau menimpa seluruh instrumen investasi atau sektor bisnis tanpa pengecualian. Contohnya adalah perlambatan ekonomi atau fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Sebagaimana kita lihat tahun lalu, perlambatan ekonomi membuat kinerja emiten juga melemah. Otomatis, kinerja saham juga loyo. Semua saham terkena risiko sistematis ini tanpa kecuali.

Kedua, risiko non sistematis. Ini adalah risiko yg muncul akibat kejadian mikro, yg sifatnya spesifik cukup menimpa saham tertentu atau bisnis tertentu. Misalnya, kenaikan cukai rokok yg cukup mempengaruhi emiten-emiten pembuat rokok.

Atau contoh lainnya kasus suap reklamasi yg menyeret presiden direktur Agung Podomoro Land, sehingga akhirnya harga saham emiten ini juga turut merosot. “Risiko sistematis tak dapat dikurangi, tapi risiko non sistematis dapat dikurangi dgn prinsip diversifikasi,” cetus Lukas.

Jadi, kalau investor menyebar investasinya ke beberapa instrumen investasi, maka ia dapat mengurangi risiko non sistematis yg dapat terjadi.


Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.