Cara mengatur portofolio saham

Tuesday, May 30th 2017. | Personal Finance

JAKARTA. Anda mungkin pernah mendengar kalimat don’t put your eggs in one basket. Dalam dunia investasi, kalimat tersebut diartikan sebagai: jangan menaruh investasi Anda di satu portofolio. Begitu juga ketika berinvestasi saham.

Di tahun 50-an silam, ekonom asal Amerika Serikat Harry Markowitz mengajarkan menempatkan investasi di beberapa instrumen dapat mengurangi risiko investasi yg bersifat non sistematis. Begitu pula saat berinvestasi saham. “Rata-rata risiko portofolio saat investasi di satu saham adalah sekitar 30% per saham,” kata Lukas Setia Atmaja, Pakar Finansial dari Prasetiya Mulya Business School.

Lalu, apakah dgn menyebar investasi ke sangat banyak saham otomatis risiko non sistematis akan hilang? Ternyata tak. Menurut Lukas, diversifikasi portofolio tak akan menghilangkan seluruh risiko non sistematis.

Menurut hasil penelitian Lukas dan mahasiswanya, jumlah saham dalam satu portofolio paling banyak yg dapat mengurangi risiko portofolio adalah 30 saham sampai 40 saham. Lebih dari itu, risiko tetap tak akan berkurang.

Tapi, tentu saja, bila investor membeli 30 saham sampai 40 saham dalam satu periode, ini akan menyulitkan investor mengontrol portofolionya tersebut. Dari hasil perhitungan Lukas, agar kinerja portofolio investasinya tetap optimal, investor cukup membeli 10 jenis saham berbeda. “Dengan melakukan diversifikasi di 10 saham saja, kita telah dapat mengurangi risiko portofolio dari sekitar 30% sampai tinggal 10%,” jelas dia.

Tentu saja, agar kinerja portofolio investasi tetap optimal, investor tak dapat sembarangan memilih saham. Investor tetap harus memperhatikan fundamental saham tersebut, bagaimana prospek perkembangan bisnisnya di masa mendatang dan potensi kenaikan harga sahamnya.

Selain itu, saham-saham yg dipilih masuk ke dalam portofolio juga harus memiliki korelasi yg rendah. “Saham-saham yg masuk portofolio sebaiknya berasal dari sektor-sektor yg berbeda,” terang Lukas. Jadi, ketika ada satu sektor yg mendapat sentimen negatif, sektor lain masih dapat naik.

CEO Janus ID Aakar Abyasa Fidzuno punya pendapat sedikit berbeda. Menurut dia, investor dapat saja memiliki portofolio berisi kurang dari 10 saham. “Dengan jumlah di bawah 10, investor dapat lebih mudah mengawasi kinerja portofolionya,” kata dia.

Lalu, bagaimana cara mengurangi risiko portofolionya? Investor dapat memilih saham blue chips yg kinerjanya kerap positif. Sekadar contoh, saham INDF memberi return 8,07% per tahun dalam lima tahun terakhir. Sedang return BBCA mencapai 13,28% per tahun.


Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.