Asuransi penyakit kritis, perlukah?

Monday, May 29th 2017. | Personal Finance

JAKARTA. Belakangan ini, produk asuransi critical illness atau penyakit kritis marak ditawarkan perusahaan asuransi jiwa. Produk ini memberikan jaminan kepada tertanggung yg mengidap penyakit kritis bebas dari risiko financial.

Tidak cukup memberikan perlindungan atas penyakit kritis, perusahaan asuransi juga memberikan tambahan benefit atas produk critical illness yg ditawarkan. Misalkan, pengembalian uang jika tak terjadi klaim selama beberapa tahun. Kemudian, bisa menyertakan anggota keluarga sebagai tertanggung.

KONTAN merangkum, tiga perusahaan asuransi jiwa yg belum lama ini menelurkan produk critical illness. Ambil contoh, PT AXA Financial Indonesia menawarkan produk Maestro Complete CI Cover dan Maestro Juvenile CI untuk produk critical illnessnya. Lalu, PT Asuransi Cigna Indonesia (Cigna) dgn produk Family Perlindungan Optima. Kedua perusahaan asuransi jiwa tersebut memberikan perlindungan lebih dari 10 penyakit kritis.

Terakhir, PT Central Asia Financial atau Asuransi Jagadiri lewat produk Jaga Sehat Keluarga melindungi tak cukup satu tertanggung tapi bisa lima orang dalam keluarga. Produk ini mengklaim melindungi seluruh penyakit, bahkan penyakit HIV AIDS.

Namun apakah produk asuransi ini mesti dimiliki?

Freddy Pieloor, Perencana Keuangan dari Money n Love Planning & Consultinge bilang, sebaiknya ditimbang-timbang lagi kalau ingin membeli produk asuransi ini. Selain bukan keperluan penting, produk asuransi critical illness juga dinilai mubazir. Ia membandingkan produk tersebut dgn hadirnya BPJS Kesehatan.

“Kalau sekarang ini telah ada BPJS Kesehatan yg memberikan perlindungan lengkap untuk segala penyakit. Apa perlu asuransi tambahan?” ujar Freddy.

Kalau pun ingin memiliki produk yg melindungi beberapa penyakit kritis. Freddy menyarankan, lebih baik memilih untuk memperbesar premi asuransi kesehatan yg sebelumnya telah dimiliki. Ketimbang membeli produk baru. Atau, menambah besar iuran wajib BPJS Kesehatan.

Freddy juga mengingatkan agar tak terlena dgn gimick penjualan asuransi critical illness berupa pengembalian uang jika tak ada klaim. Serta menyertakan anggota keluarga.

Nasabah harus cermat menghitung premi dan klaim yg diterima. Termasuk juga ketentuan pencairan klaim, apakah klaim baru bisa dilakukan setelah terdiagnosa penyakit parah atau pencairannya bertahap.


Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.