Ekonom: Kabut Asap Tambah Angka Kemiskinan

Tuesday, December 19th 2017. | Berita

IndonesiaBisnis.net – Ekonom Universitas Paramadina Firmanzah menilai, kabut asap akibat kebakaran hutan yg menimpa daerah Sumatera dan Kalimantan bisa menambah angka kemiskinan jika tak segera diatasi.

“Daerah Sumatera telah terdampak perlambatan pertumbuhan ekonomi dan kini terpapar asap. Permasalahan asap itu jika tak diselesaikan maka akan menambah jumlah orang miskin,” tutur Rektor Universitas Paramadina itu dalam diskusi bertajuk “Orang Miskin Bertambah Banyak” di Jakarta, Minggu (27/9/2015).

Persoalan asap dan kebakaran hutan, menurut dia, berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi yg sangat rendah di daerah yg terpapar karena sebagian besar mata pencaharian masyarakat berbasis alam.

“Masyarakat tersebut bukan tipe yg memiliki tabungan untuk membuka usaha lain. Jadi, saat terjadi kebakaran hutan, perekonomian mereka akan terdampak langsung,” ujar Firmanzah.

 Apalagi, kata dia, harga pasar dunia harga komoditas, seperti sawit, juga sedang menurun drastis sehingga makin menekan masyarakat di daerah tersebut.

Selain akibat kebakaran hutan dan asap, dia memperkirakan angka kemiskinan juga akan naik diakibatkan fenomena El Nino yg menyebabkan kekeringan di sejumlah daerah.

Firmanzah mengatakan bahwa kekeringan di sejumlah daerah yg mengakibatkan puso atau sawah gagal panen juga berdampak pada penurunan perekonomian petani.

Menyinggung soal upaya pengentasan masyarakat dari kemiskinan, dia memandang perlu program yg tepat dan terukur serta penangan berbeda untuk tingkatan mendekati miskin, miskin, dan sangat miskin.

“Untuk yg sangat miskin, membutuhkan injeksi, lalu untuk yg aktif secara ekonomi tetapi tetap miskin dapat kredit usaha rakyat (KUR) dan anggaran desa,” tutur dia.

Untuk itu, kata dia, Presiden perlu menambah variasi wacana dan urgensi pengentasan masyarakat dari kemiskinan karena Presiden lebih fokus pada pembangunan infrastruktur.

Dia menuturkan, bahwa pengentasan masyarakat dari kemiskinan Indonesia pada tahun 2005–2009 pernah mencapai prestasi karena rata-rata penurunan kemiskinan mencapai 0,8 persen.

Namun, setelah 2009 Indonesia menghadapi kesulitan mengentaskan masyarakat dari kemiskinnan karena untuk mengentaskannya di garis paling bawah membutuhkan anggaran yg lebih besar.

Sementara itu, BPS mempublikasikan data survei angka kemiskinan pada bulan Maret 2015. Menurut BPS, terjadi lonjakan tambahan angka kemiskinan menjadi 11,22 persen atau sebanyak 28,59 juta dari 10,96 persen atau 27,73 juta pada bulan September 2014. (Antara)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.