Menkeu: Kelesuan Ekonomi Global Akan Berlanjut Hingga Akhir 2015

Saturday, November 11th 2017. | Berita

IndonesiaBisnis.net – Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, kelesuan perekonomian global akan terus berlanjut sampai akhir 2015 karena masih ada ketidakpastian dan risiko yg melanda dunia.

“Yang boleh disimpulkan adalah sampai akhir tahun 2015, memang belum kelihatan ada perbaikan signifikan,” katanya dalam rapat dgn Komisi XI DPR RI di Jakarta, Selasa (15/9/2015) malam.

Menkeu menjelaskan perekonomian global sekarang ini benar-benar mengalami kelesuan, karena negara berkembang yg selama ini menjadi penyangga perekonomian dunia turut mengalami perlambatan, seperti yg dialami negara maju.

“Kalau pada 2011-2012 semua bilang emerging market menyelamatkan dunia, sekarang malah banyak problem di emerging market, terutama setelah quantitative easing berhenti. Brasil dan Rusia bahkan kontraksi dan tumbuh negatif ekonominya,” katanya.

Menurut dia, perekonomian global sekarang ini berbeda dgn 20 tahun lalu. Karena pada kondisi sekarang guncangan maupun risiko sekecil apapun dapat berpengaruh dan menyebar ke berbagai negara dalam waktu singkat.

Salah satu risiko tersebut adalah terjadinya depresiasi mata uang terhadap dolar AS yg hampir dialami negara maju maupun negara berkembang akibat belum adanya kepastian penyesuaian suku kembang The Fed (Bank Sentral AS).

Risiko lainnya, lanjut dia, adalah harga komoditas global yg belum menunjukkan adanya tanda-tanda perbaikan sampai pertengahan 2015, terutama harga minyak dunia yg terus jatuh dan berpotensi mengganggu perekonomian di Timur Tengah.

“Harga komoditas kalau kita berharap membaik, akan sulit. Goldman Sachs bahkan memprediksi harga minyak dapat turun sampai 20 dolar per barel. Kalau terjadi, otomatis harga komoditas terbawa turun. Tentunya ini menjadi perhatian di sisi penerimaan dan secara umum untuk ekspor,” ujar Menkeu.

Risiko terbaru adalah aksi devaluasi Yuan dgn tujuan untuk memperbaiki kinerja ekspor dan mendorong pertumbuhan ekonomi Cina, yg berpotensi diikuti oleh negara-negara lain untuk saling melemahkan mata uangnya.

“Kalau negara-negara saling berlomba-lomba melakukan devaluasi, ekspor kita makin berat. Memang dalam konteks globalisasi, makin sulit negara mengisolasi diri dari berbagai dampak yg sedang terjadi di global,” kata Menkeu.

Namun, menurutynya ada harapan perekonomian global mulai membaik di 2016, asalkan ada kepastian terkait kenaikan suku kembang The Fed dan Cina tak lagi melakukan devaluasi Yuan dalam skala besar.

“Banyak harapan 2016 akan lebih baik karena telah ada kepastian kenaikan suku kembang The Fed dan Cina mungkin telah tak melakukan devaluasi dalam skala lebih besar sehingga dapat mengurangi uncertainty,” katanya. (Antara)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.