Tujuh langkah meraih kemerdekaan finansial

Sunday, August 27th 2017. | Personal Finance

Sudah 70 tahun Indonesia merdeka. Usia yg telah renta sebenarnya. Namun rakyat Indonesia yg dapat disebut merdeka secara finansial, ternyata masih terbilang minim. Bahkan, masyarakat kelas menengah pun masih banyak yg belum sampai pada tahap itu. Boro-boro meraih kemerdekaan finansial, sebagian besar belum paham arti kemerdekaan finansial.

Apa yg dimaksud kemerdekaan finansial?

Menurut Eko Endarto, perencana keuangan Financia Consulting kemerdekaan finansial adalah ketika seseorang mencapai tujuan keuangan, yg mencakup setidaknya tiga tujuan yakni anggaran pendidikan anak, anggaran pensiun, dan proteksi terlindungi melalui asuransi.

Jadi, saat mereka memerlukan anggaran untuk keperluan tadi, keuangan mereka secara keseluruhan tak terganggu. Maka, “Kemerdekaan finansial itu bukan berarti punya uang yg banyak,” tegas Eko.

Eko mengatakan bahwa kemerdekaan finansial bukan berarti ketiga tujuan keuangan tadi, secara nominal, telah tercapai. “Masih setor dananya secara rutin itu juga telah dapat dibilang telah merdeka finansial,” ujarnya.  

Menurut Eko Pratomo, penulis buku Finansial Wisdom pengertian kemerdekaan finansial seringkali diartikan secara kurang tepat. Ada yg berpendapat bahwa kemerdekaan finansial adalah suatu kondisi di mana seseorang telah punya aset yg memberikan pasive income atau punya kelebihan pendapatan.  “Istilah yg tepat, menurut saya, kemandirian finansial,” kata Eko Pratomo. Sesuai dgn  hukum Pareto, maka baru sekitar 20% masyarakat yg mencapai kemandirian finansial, sedangkan sisanya belum.    

Sejauh ini, menurut Eko Pratomo, sebagian besar masyarakat belum sadar bahwa ada keperluan di masa depan yg harus disiapkan jauh-jauh hari. “Anak telah kelas 2 SMA baru kelabakan menyiapkan biaya masuk kuliah, padahal seharusnya semenjak anaknya lahir harus telah disiapkan anggaran pendidikannya,” jelasnya.

Di antara sebagian kecil masyarakat yg sadar terhadap keperluan di masa depan adalah S.Dewi, seorang dokter gigi spesialis yg memiliki klinik sendiri di Yogyakarta. Dokter gigi  ini menuturkan semenjak anak pertamanya lahir tahun 2009 ia langsung menyiapkan anggaran pendidikan melalui produk asuransi pendidikan. “Waktu itu setoran preminya Rp 100.000 per bulan dan tahun depan telah selesai 17 tahun akan cair dananya,” jelas ibu dua orang putri ini.

Sejak melepaskan status PNS, Dewi sadar harus siap menghadapi aneka risiko finansial. Karena itu, ia memiliki anggaran darurat di deposito berjangka 1 bulan agar mudah dicairkan jika dibutuhkan. Selain itu Dewi  juga memiliki proteksi asuransi jiwa dan kesehatan. Kini ia merasa telah mencicipi kemerdekaan finansial. “Kalau saya lebih karena merasa butuh, jadi harus dapat menyisihkan secara rutin,” jelasnya.

Lain halnya dgn yg dialami oleh Pitoyo. Pegawai bank yg tinggal di Jakarta  ini mengatakan terlambat dalam menyiapkan kemandirian finansial. “Saya baru sadar itu saat anak pertama masuk sekolah dasar dgn membuat asuransi pendidikan, padahal seharusnya semenjak lahir telah disiapkan,” kata ayah tiga anak ini.

Makanya, saat anak kedua dan ketiga lahir, ia lantas menyiapkan tabungan pendidikan.   Sedang anggaran darurat ia memilih menempatkan dalam model tabungan. “Dana darurat ini sangat penting dan terasa sekali kebutuhannya saat jumlah anak bertambah,’jelasnya. Dalam waktu dekat ia memilih investasi properti dgn alasan lebih mudah dilihat hasilnya.

Hal penting yg harus disadari dalam menuju kemerdekaan finansial adalah punya pola hidup sesuai dgn besarnya gaji atau penghasilan, sehingga pengeluaran dapat diatur lebih kecil ketimbang penghasilan. “Jangan sampai misalnya gaji Rp 10 juta terus dihabiskan. Setidaknya belanjakan cukup Rp 7 juta,” jelas Eko Pratomo.Sisanya, tentu saja untuk mengangsur keperluan masa depan yg harus terpenuhi dgn cara disiapkan jauh-jauh hari pendanaannya.

Tetap konsisten
Apakah Anda ingin mewujudkan kemerdekaan finansial? Agar cita-cita ini dapat dicapai, maka Anda harus disiplin dalam setiap langkah. Secara garis besar ada tujuh langkah yg harus ditempuh dalam meraih kemerdekaan finansial.

• Identifikasi aset
Langkah ini penting dilakukan untuk mengetahui mana aset yg produktif dan yg kurang produktif. Aset produktif, seperti rumah yg dapat disewakan, tentu dapat menjadi pasive income. Sedang aset yg kurang produktif perlu Anda pikirkan solusinya, agar dapat ditingkatkan menjadi produktif ataukah justru lebih efisien jika dijual. Namun, menurut Eko Endarto, aset ini tak terlau berpengaruh dibanding utang.

• Melunasi Utang
Jika Anda memiliki utang konsumtif seperti utang kartu kredit, maka langkah utama sebelum ke langkah selanjutnya adalah melunasi utang terlebih dahulu. Ingat kembang kartu kredit sangat tinggi dan jangan sampai Anda cukup mampu membayar sebatas cicilan minimum. Gunakan kartu kredit sebagai alat pembayaran dan mampu Anda bayar lunas saat tagihan datang di bulan berikutnya. Jangan sekali-kali Anda berpikir bahwa kartu kredit adalah tambahan anggaran tunai. Risikonya Anda dapat terjebak dalam jeratan tagihan.

Jika Anda memiliki utang seperti KPR maka disarankan total cicilan tak lebih dari 30% sampai 40% dari penghasilan. “Kalau total cicilan telah di atas 40% penghasilan, maka dapat dipastikan keuangan tak nyaman karena belum dapat menyisihkan untuk anggaran pendidikan anak dan anggaran pensiun.

• Antisipasi risiko
Sebelum berinvestasi, harap diingat bahwa seluruh hasil investasi dapat sia-sia jika Anda tak punya proteksi berupa asuransi baik jiwa maupun kesehatan. Eko Endarto menyarankan untuk mengasuransikan terkait prioritas, utamanya adalah pihak dgn  tanggungjawab keuangan besar, dapat suami atau istri atau keduanya jika sama-sama bekerja.

Nah, jika Anda berhubungan dgn agen asuransi yg memberikan ilustrasi proposal produk asuransi, jangan langsung terpaku pada ilustrasi tersebut. Anda yg lebih tahu keperluan proteksi yg Anda perlukan.

Ada tip dari Eko yg dapat juga Anda jadikan pedoman dalam mengukur nilai uang pertanggungan yg sesuai dgn keperluan Anda. Uang pertanggungan untuk asuransi jiwa setidaknya sebesar 50 kali pengeluaran bulanan Anda. Uang pertanggungan yg ideal adalah 100 kali pengeluaran bulanan Anda.

Asuransi jiwa dibutuhkan untuk kedua orangtua atau setidaknya yg memiliki tanggung jawab keuangan keluarga. Sedang asuransi kesehatan wajib dimiliki seluruh anggota keluarga. Jika Anda ingin setoran premi yg hemat, pilihlah produk asuransi yg dgn satu setoran premi tetapi telah mencakup asuransi kesehatan untuk suami-istri dan anak-anak.

Sejak program BPJS Kesehatan diluncurkan pemerintah, hampir sebagian besar perusahaan asuransi mengeluarkan produk baru yg menarik untuk Anda pilih secara cermat.

• Siapkan anggaran darurat
Dana darurat adalah anggaran yg disiapkan untuk hal-hal yg tak diinginkan atau bila ada keperluan mendesak yg harus dipenuhi. Berapakah besaran anggaran darurat dan sebaiknya disimpan di manakah anggaran darurat tersebut?

Eko Endarto menyarankan besaran anggaran darurat minimal adalah 3 kali pengeluaran bulanan. Penempatan anggaran dapat pada tabungan sebesar 1 kali pengeluaran dan deposito sebesar 2 kali pengeluaran bulanan. Namun jika Anda mampu menyisihkan anggaran darurat sesuai angka ideal yakni 6 kali pengeluaran bulanan, maka penempatan anggaran darurat dapat Anda sebar ke tiga atau empat jenis produk keuangan dgn komposisi tabungan 1 kali pengeluaran bulanan, deposito 2 kali, emas atau reksadana pendapatan tetap 3 kali.

Yang patut diingat, jika anggaran darurat Anda pakai, misalnya guna menambah biaya rumah sakit karena melebihi limit asuransi, maka Anda harus memulai mengumpulkan anggaran darurat secara bertahap sampai terkumpul jumlah anggaran semula.

Setiyo Wiwoho, Group Head Consumer Banking Bank Mandiri bilang penempatan anggaran darurat sebaiknya diatur dgn komposisi 30% dalam model tabungan dan sisanya ke deposito berjangka 1 bulan. “Deposito harus ambil yg 1 bulan supaya tak kena penalti sebesar 0,5%, jadi lebih likuid jika hendak ditarik,” ujarnya.

Bunga tabungan sekarang ini berkisar 0% sampai 2%. Sedang kembang deposito berkisar 5% sampai 7,75%. Pilihan penempatan anggaran darurat lainnya adalah reksadana pasar uang, pencairan anggaran perlu waktu C+1.

• Tetapkan tujuan
Kemerdekaan finansial akan dapat Anda raih dan rasakan saat semua tujuan keuangan Anda tercapai.

Setiap orang tentu memiliki tujuan keuangan sendiri-sendiri sesuai skala prioritas. Anda yg berstatus lajang tentu punya tujuan keuangan berbeda dgn orang yg telah berkeluarga. Orang yg berkeluarga juga punya jumlah tanggungan yg berbeda-beda. Saat ini, ada sebagai masyarakat yg sering disebut generasi sandwich yakni mereka yg punya tanggungan anak sekaligus harus membantu orangtua dan mertua. Nah, generasi inilah yg memiliki tanggungan paling besar.

Tujuan-tujuan keuangan seperti anggaran pendidikan, anggaran pensiun, membeli rumah harus dijabarkan lebih lanjut dan mendetail, misalnya berapa keperluan dananya dan kapan harus terkumpul.

Lalu mengancik langkah berikutnya bagaimana mencapai tujuan keuangan tersebut. Caranya adalah menghitung berapa lama waktu yg terdapat untuk pengumpulan anggaran, berapa yg harus disisihkan setiap bula. Lantas, sebaiknya ditempatkan pada produk investasi apa agar hasilnya dapat memenuhi target.

Salah satu strategi yg disarankan Eko Pratomo agar setiap keluarga mampu mencapai tujuan keuangan adalah membuat akuntansi di rumah alias budgeting. Anda harus dapat membedakan antara keperluan dan keinginan agar mampu menentukan skala prioritas.

Selain itu Anda perlu membekali diri dgn pengetahuan finansial agar tak salah strategi ataupun salah menempatkan anggaran.

• Pilih instrumen investasi
Perkembangan instrumen investasi terus terjadi. Jangan sampai Anda ketinggalan informasi jika hendak meraih kemerdekaan finansial.

Tapi, jangan juga terjebak investasi bodong karena tergiur iming-iming imbal hasil tinggi.  “Jangan berinvestasi pada produk yg Anda tak kenal,” ujar Michael Tjoajadi, Direktur PT Schroder Invesment Management Indonesia. Bahkan, Michael juga menyarankan, Anda harus benar-benar mengenal profil emiten, jika ingin berinvestasi di pasar modal. Kalau tak, sebaiknya Anda berinvestasi lewat reksadana saham.

Memilih instrumen investasi memang harus disesuaikan dgn profil risiko Anda sebagai investor. Ada tiga jenis investor yakni konservatif, moderat dan agresif.

Nah, tergolong tipe investor apakah Anda? Jika Anda masih terbilang konservatif, maka sebaiknya memilih instrumen investasi dgn tingkat risiko paling kecil. Namun konsekuensinya adalah imbal hasil investasi yg bakal Anda peroleh juga lebih kecil ketimbang portofolio investasi lain.

Sebaliknya jika masih berusia muda dan terhitung investor agresif, maka Anda dapat memilih instrumen dgn tingkat risiko tinggi, tetapi  memberikan imbal hasil investasi yg juga tinggi, seperti saham atau reksadana saham.

Dalam memilih instrumen investasi jika telah memiliki pengetahuan finansial yg cukup, misal informasi dari buku, koran, internet, maka Anda dapat melakukan sendiri pemilihan instrumen investasi baik jenis investasinya maupun pemilihan produknya.

Namun jika Anda masih ragu terhadap kemampuan dan pengetahuan terhadap produk investasi, Anda bisa menggunakan jasa perencana keuangan untuk membantu dalam memilih produk investasi yg tepat sesuai profil dan risiko yg berani Anda tanggung.

Ingat prinsip berinvestasi pasti semua ada risikonya. Hal yg dapat Anda lakukan adalah bagaimana meminimalkan dan menghadapi risiko tersebut.

Anda dapat menyisihkan anggaran investasi secara bertahap, atau menjajal portofolio sesuai pilihan. Nanti, seiring dgn pengalaman berinvestasi, maka intuisi Anda sebagai investor akan terlatih.

• Berinvestasi
Langkah ketujuh inilah yg menjadi penentu Anda dalam meraih kemerdekaan finansial. Aksi Anda berinvestasi secara tepat akan menentukan berapa lama waktu yg Anda butuhkan sampai sampai di titik kemerdekaan finansial.

Kuncinya, menurut sumber-sumber KONTAN, jangan mudah panik saat situasi ekonomi agak memburuk seperti sekarang. Lakukan investasi secara rutin dan konsisten sampai tujuan keuangan Anda tercapai.

Selain itu, ingatlah pepatah jangan menaruh telur dalam satu keranjang.  Selamat berinvestasi.

Merdeka!                              

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.