Strategi membeli rumah, selagi numpang sama mertua

Sunday, August 13th 2017. | Personal Finance

Kebutuhan papan atau tempat tinggal, tak bisa disangkal lagi, merupakan salah satu keperluan pokok yg harus dipenuhi setiap orang agar bisa hidup layak dan nyaman. Namun, tak semua orang mampu memenuhi keperluan tersebut seketika dgn keringatnya sendiri kendati telah berkeluarga  bahkan telah beranak pinak. Sebagian orang mungkin masih tinggal di rumah orang tua atau mertua. Ada yg terpaksa menumpang karena belum mampu membeli rumah, ada pula yg memilih tinggal bersama orang tua karena alasan khusus. Sebagian yg lain, mungkin masih menikmati tinggal di rumah dinas. Nah, apakah Anda termasuk salah satu dari kelompok tersebut?

Tinggal di rumah orang tua atau di rumah dinas, boleh jadi terasa nyaman-nyaman saja bagi Anda sampai kini. Namun, ada baiknya Anda mulai berpikir lebih jauh untuk tinggal di rumah sendiri. Rumah dinas ada batas pakainya. Ketika kelak tiba-tiba Anda terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), jatah rumah dinas tentu turut hilang. Di sisi lain, bernyaman-nyaman tinggal di rumah orang tua setelah menikah juga sejatinya kurang bijak. Bagaimanapun, memutuskan berkeluarga berarti Anda siap hidup mandiri.

Budi Raharjo, perencana keuangan OneShildt Financial Planning, menilai, ketika kita masih tinggal di rumah dinas atau menumpang rumah mertua, acap kita terlena alias terlalu nyaman sehingga lupa dgn keperluan atas rumah pribadi. Maklum, menumpang tinggal di rumah dinas dan rumah mertua kebanyakan gratis. Kalaupun ada pengeluaran terkait rumah seperti listrik atau air, sifatnya adalah pengeluaran operasional yg nominalnya relatif tak besar.

Gaya hidup masih belum terpapas penghematan, tiba-tiba anak pertama lahir disambung anak berikutnya. Alih-alih menyisihkan penghasilan untuk pembelian rumah, kocek Anda mungkin telah keburu kering dibelanjakan demi memenuhi keperluan sehari-hari dan tuntutan gaya hidup. Jika telah begitu, bukan mustahil sampai usia senja kelak, Anda tak juga mampu memiliki rumah sendiri meski penghasilan dan gaya hidup terbilang besar. Anda tentu tak ingi cerita akhir seperti itu terjadi. Bagaimanapun, tinggal di rumah yg dibeli dgn keringat sendiri akan terasa lebih nyaman dan membanggakan.

Bila demikian, saatnya bagi Anda untuk mulai memikirkan strategi pembelian rumah sendiri. Ingat, harga rumah sulit turun. Malah biasanya terus naik seiring permintaan yg hampir selalu ada. Menunda pembelian rumah artinya harus membayar lebih mahal kelak. Posisi tinggal di rumah dinas atau menumpang rumah orang tua sebenarnya memberi keuntungan dari sisi kocek. Anda tak memiliki pos pengeluaran khusus untuk biaya tempat tinggal. Misalnya, biaya sewa rumah. Dengan begitu, sisa gaji tentu lebih banyak dan dapat kita tabung untuk modal pembelian rumah, kata Budi. Lantas, bagaimana strategi membeli rumah selagi Anda menumpang di rumah dinas atau rumah mertua? Silakan simak saran dan trik dari para perencana keuangan berikut ini:

 

• Tetapkan tujuan
Menetapkan tujuan bersama menjadi langkah awal yg perlu Anda tempuh. Bicarakan dgn pasangan tentang rencana pembeli rumah sendiri. “Pasangan suami istri harus kompak untuk mengumpulkan anggaran pembelian rumah,” kata Mike Rini, perencana keuangan dan Chief Executive Officer MRE Financial & Business Advisory. Dalam perencanaan keuangan, sebuah tujuan seperti pembelian rumah harus spesifik. Misalnya, kapan anggaran pembelian akan digunakan, lalu hendak membeli rumah atau apartemen, metode pembelian apakah tunai bertahap atau lewat fasilitas kredit pemilikan rumah (KPR) dari perbankan. Kemudian, kisaran harga rumah yg diincar berikut lokasi rumah, dan sebagainya. Tujuan keuangan yg spesifik akan membuat Anda lebih bersemangat dalam mewujudkannya.

 

• Periksa kantong
Setelah mantap merencanakan pembelian rumah, saatnya menyusun strategi pengumpulan anggaran. Tapi, sebelum ke sana, Anda perlu melihat kemampuan kantong. Seberapa besar kemampuan kocek Anda dalam membeli rumah? Pastikan beban utang-utang konsumtif seperti kartu kredit telah Anda bereskan. Tujuannya, agar ruang fiskal di kantong lebih lega tanpa beban utang konsumtif. Periksa juga pos-pos pengeluaran. Menghemat pengeluaran yg dapat dihemat agar anggaran yg Anda sisihkan untuk pembelian rumah dapat lebih banyak.

Memeriksa kesehatan kantong juga penting untuk menilai jenis properti yg mampu Anda beli. Tidak perlu memaksakan diri membeli yg jauh di atas kemampuan kantong yg sebenarnya. Terlebih jika Anda membeli melalui skema KPR dgn masa cicilan sampai puluhan tahun.

 

• Skema pembelian
Harga rumah tak murah. Mengumpulkan anggaran sekian ratus juta bahkan mungkin lebih mustahil dapat dilakukan dgn cepat apabila posisi Anda adalah karyawan bergaji bulanan kelas menengah. Namun, dgn kemampuan finansial yg terbatas, memiliki rumah bukanlah hal mustahil. Anda dapat memanfaatkan KPR dari perbankan sebagai skema pembelian rumah. Apabila memilih KPR, fokus pengumpulan anggaran pembelian dapat dipersempit sebesar anggaran uang muka atau down payment (DP). Besar DP umumnya sekitar 30% dari harga rumah. Pastikan juga kantong Anda bisa untuk menanggung cicilan bulanan KPR kelak. Maksimal beban total tanggungan utang, termasuk utang kartu kredit, adalah 30% dari penghasilan.

“KPR merupakan salah satu jenis utang produktif yg menguntungkan,” imbuh Budi. Akan tetapi, jika kantong cukup tebal, Anda dapat menimbang pembelian properti dgn cicilan bertahap ke pengembang. Banyak developer menawarkan pembelian rumah dgn skema cicilan 12 kali sampai 36 kali. Besar kembang dari developer biasanya lebih kecil daripada kembang KPR bank.

 

• Mulai menyisihkan pendapatan
Setelah bersepakat dgn pasangan tentang tujuan besar tersebut dan menyesuaikan dgn kondisi kantong, saatnya kini menyisihkan pendapatan untuk keperluan pembelian rumah. Berapa yg harus kita sisihkan? Budi menyarankan Anda untuk menyisihkan sekitar 15%?20% dari total penghasilan bulanan untuk keperluan anggaran pembelian rumah. Adapun Mike menyarankan, paling tak sebesar 30% dari total penghasilan gabungan suami istri harus disisihkan setiap bulan untuk anggaran pembelian rumah. Begitu juga apabila ada pendapatan ekstra atau pendapatan tahunan, seperti uang bonus kerja atau tunjangan hari raya (THR).

“Sisa pendapatan sebanyak 70% alokasikan sebanyak 20% untuk anggaran darurat dan tujuan keuangan lain, sedang 50% untuk biaya hidup sehari-hari,” saran Mike. Mike cenderung menyarankan untuk mengumpulkan anggaran uang muka (down payment) pembelian rumah saja. Besarnya sekitar 30% dari harga rumah. “Beli rumahnya mencicil lewat KPR saja,” kata dia.

 

• Menabung atau investasi?
Pandji Harsanto, perencana keuangan independen, berpendapat, apabila target pembelian rumah adalah dua tahun mendatang, kumpulkan dananya di tabungan saja karena risikonya minim. Anda dapat memindahkannya ke deposito yg berbunga lebih tinggi ketimbang tabungan biasa, saat anggaran telah mencapai nominal tertentu. Pilih tenor deposito sesuai dgn target waktu penggunaan anggaran. Namun, jika target pemakaian anggaran di atas 5 tahun, lebih baik berinvestasi saja. “Dengan investasi, ada harapan anggaran berkembang dan tak tergerus inflasi,” imbuh Budi.

Umumnya orang menabung anggaran pembelian rumah dalam jangka pendek-menengah antara 3 tahun sampai 5 tahun. Sebagai contoh, Anda ingin membeli rumah seharga Rp 800 juta sekarang ini, empat tahun lagi. Jadi, Anda harus menyiapkan DP sekitar Rp 240 juta. Dengan anggapan inflasi harga properti 15% per tahun, maka besar DP tahun 2018 mencapai Rp 419,76 juta. Kebutuhan anggaran sebesar itu dapat terkumpul dgn menyisihkan anggaran Rp 5,06 juta per bulan selama empat tahun, di instrumen investasi dgn return 25% per tahun.

Nah, bagaimana jika Anda ingin mengejar pembelian rumah sekarang karena menimbang risiko inflasi, namun anggaran DP belum cukup? Bolehkah berutang untuk menutupnya? Pandji menilai, berutang untuk menutup keperluan DP boleh ditempuh cukup jika beban cicilannya mampu Anda tanggung berikut cicilan KPR kelak. Ingat rumus penting: total beban utang tak boleh lebih dari 30% dari penghasilan. Upayakan mencari pinjaman lunak tanpa kembang dari pemberi kerja atau kerabat. Alternatif lain, saran Mike, carilah unit rumah yg DP-nya dapat dicicil.

“Biasanya, proyek rumah yg masih inden memberi fasilitas cicil DP,” kata Mike. Namun, ingat, membeli properti inden juga memiliki risiko wanprestasi jika reputasi developer kurang bagus. Pilih properti dari pengembang tepercaya agar lebih aman.

 

• Siap-siap biaya lain
Membeli rumah melahirkan rentetan biaya lain yg juga perlu disiapkan dananya, antara lain, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan (BPHTB), biaya provisi, biaya administrasi, biaya notaris, biaya appraisal, kemudian asuransi kebakaran. “Juga ada biaya balik nama antara Rp 3 juta sampai Rp 5 juta,” ungkap Mike.

Yang tak kalah penting, pilih rumah yg cukup dekat dgn fasilitas publik, seperti KRL, pasar, dan rumah sakit. Juga, tak perlu tergiur tawaran pembelian properti berhadiah langsung. “Karena, tak ada makan siang gratis,” tegas Mike. Nah, kini, saatnya Anda menyusun strategi sendiri.

 

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.