Gaji mini bukan berarti tak bisa berinvestasi

Thursday, June 8th 2017. | Personal Finance

Anda yg besar di era 1970-an dan 1980-an mungkin masih ingat film berjudul Kejamnya Bunda Tiri Tak Sekejam Bunda Kota. Film ini berkisah tentang kesulitan yg dialami dua orang pemuda, diperankan oleh komedian Ateng dan Iskak, saat merantau di Jakarta. Lantaran kesulitan mencari penghasilan, Ateng dan Iskak pun terpaksa menderita di Jakarta.

Atau mungkin Anda familiar dgn lagu “Siapa Suruh Datang Jakarta” yg ditulis Melky Goeslaw. Lagu ini kerap disebut saat membicarakan bagaimana kerasnya kehidupan di ibukota Indonesia ini.

Mungkin Anda sering mendengar orang mengatakan kehidupan di Jakarta dan kota besar lainnya penuh tantangan. Maklum, penghasilan yg diterima kerap  pas-pasan. Sementara biaya hidup sangat tinggi.

Bukan cuma orang-orang yg bekerja di sektor informal, lo, yg mengalami hal seperti ini. Seorang perantau atau pekerja pemula yg baru lulus kuliah juga sering mengalami kesulitan saat harus hidup di kota besar. Asal tahu saja, rata-rata biaya hidup di kota-kota besar di Indonesia memang cukup tinggi. Badan Pusat Statistik (BPS) pernah melakukan survei biaya hidup di Indonesia pada 2012 lalu. Menurut hasil survei yg diumumkan tahun lalu ini, rata-rata biaya hidup di Indonesia mencapai Rp 5,58 juta per bulan. Ada setidaknya 14 kota yg biaya hidupnya lebih besar dari rata-rata tersebut.

Hasil survei yg dilakukan lima tahun sekali ini mencatat Jakarta menempati posisi pertama sebagai kota dgn biaya hidup termahal di Indonesia. Rata-rata biaya hidup di Jakarta mencapai Rp 7,5 juta setiap bulannya.

Sekarang, bandingkan dgn upah minimum regional (UMR) wilayah Jakarta. Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mematok upah minium provinsi DKI Jakarta untuk 2015 sebesar Rp 2,7 juta. Tentu saja, bagi orang yg bekerja sebagai tenaga profesional, gaji yg diterima dapat lebih tinggi. Perencana keuangan menyebut, rata-rata gaji pertama tenaga kerja profesional berkisar Rp 4 juta–Rp 5 juta.

Dengan duit pas-pasan tersebut, tentu si pekerja harus pandai-pandai mengatur keuangan untuk menyiasati biaya hidup yg tinggi. Belum lagi, bila mengikuti aturan perencanaan keuangan yg benar, dia harus dapat menyisihkan anggaran untuk anggaran darurat.

Dia juga harus tetap memiliki anggaran yg cukup untuk membayar utang. Dan kalau masih memungkinkan, idealnya seseorang juga dapat menyisihkan anggaran untuk keperluan investasi dan proteksi.

Susun perencanaan
Sepintas, tampaknya sulit melakukan perencanaan keuangan dgn gaji sekecil itu. Tapi, perencana keuangan menuturkan hal tersebut bukan tak mungkin dilakukan. Orang-orang yg bergaji kecil dan tinggal di kota dgn biaya hidup tinggi tetap dapat melakukan perencanaan keuangan untuk keperluan keuangan yg akan datang.

• Berhemat
Cuma, agar perencanaan keuangan dapat berjalan baik, Anda harus dapat berhemat! Perencana keuangan menyebut penghematan merupakan kunci sukses perencanaan keuangan bagi orang dgn pendapatan rutin yg kecil.

Agar dapat melakukan penghematan dgn efektif, Anda sebelumnya harus mencermati pola keuangan. Susunlah daftar pengeluaran bulanan. Pisahkan pengeluaran yg dapat dihemat dgn yg tak.

Pengeluaran yg bersifat penting, seperti biaya sekolah anak, cicilan utang dan sejenisnya tentu sulit dihemat. Sementara biaya makan, transportasi, tagihan listrik, air dan telepon masih dapat dihemat. Misalnya, dalam hal makanan, Anda dapat berbelanja di pasar untuk membeli bahan masakan. “Memasak sendiri juga lebih hemat daripada jajan di luar,” kata Indah Hapsari, perencana keuangan dari Janus Consulting.

Selain itu, jangan tergoda melihat pusat perbelanjaan. Kebanyakan orang yg tinggal di kota besar sering mengunjungi mal untuk mencari hiburan, yg ujung-ujungnya dapat mengundang sikap konsumtif. “Kurangi waktu nongkrong di mal,” tegas Indah.

Anda juga dapat berhemat dgn melakukan sendiri beberapa kegiatan, misalnya mencuci kendaraan atau pakaian. Dengan alasan waktu atau tenaga, banyak orang di kota besar memilih membayar jasa orang lain untuk mencuci kendaraan atau binatu pakaian.

Setelah berhemat, Anda harus konsisten menyisihkan uang sesuai dgn anggaran. Berapa besar anggaran yg sebaiknya disisihkan setiap bulannya? “Idealnya, alokasi biaya hidup kita sekitar 50%-60% dari gaji,” terang Diana Sandjadja, perencana keuangan dari Tata Dana Consulting. Jadi, idealnya setiap orang menggunakan cukup 50%-60% dari penghasilannya untuk keperluan seperti makan dan transportasi sehari-hari.

Lalu, sisihkan anggaran untuk keperluan tempat tinggal. Ini dgn anggapan si pekerja masih belum memiliki rumah sendiri. Alokasikan sekitar 20%–30% pendapatan bulanan untuk keperluan tempat tinggal. Nah, sisanya, yakni sekitar 10%–20% pendapatan per bulan dapat dikelola sesuai metode perencanaan keuangan. “Jika gaji semakin besar, alokasi untuk investasi dan tabungan juga dapat diperbesar,” kata Prita Gozhie, Perencana Keuangan ZAP Finance.

Sesuai aturan perencanaan keuangan, maka hal pertama yg harus dilakukan adalah menyiapkan anggaran darurat. Mungkin Anda telah hapal, bagi orang yg masih lajang, anggaran darurat yg disiapkan minimal sebesar tiga kali biaya hidup bulanan. Tetapi, akan lebih baik kalau anggaran darurat yg disiapkan dapat mencapai 6–12 kali pengeluaran bulanan.

Kalau anggaran darurat telah terpenuhi, selanjutnya utang harus dilunasi. Karena itu, bila pendapatan bulanan Anda dan keluarga masih kecil, usahakan jangan sampai berutang.

Sasaran selanjutnya adalah proteksi kesehatan. Bila tempat kerja tak menyediakan fasilitas kesehatan, maka sisihkanlah anggaran untuk membeli asuransi kesehatan. Idealnya, pilihlah asuransi kesehatan yg murah dgn layanan paling lengkap.

Saat ini, pemerintah juga telah memiliki program kesehatan melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Biaya dapat ditekan dgn mengambil program proteksi kesehatan dari pemerintah, yg nilai preminya akan relatif lebih murah. “Kalau telah ada dari perusahaan, tak perlu beli asuransi dulu,” kata Diana.

Selain proteksi kesehatan, Anda juga perlu membeli asuransi jiwa bila telah memiliki keluarga. Hal ini untuk mengatasi risiko keluarga tak mendapat pemasukan bila kepala keluarga mengalami musibah.

Jika anggaran tak mencukupi untuk asuransi kesehatan dan jiwa, perencana keuangan menyarankan untuk mengutamakan asuransi jiwa murni. Supaya lebih murah, kepala keluarga dapat memanfaatkan asuransi mikro.

• Menyusun prioritas rencana keuangan
Setelah anggaran darurat dan proteksi kesehatan terpenuhi, Anda dapat mulai memikirkan tujuan keuangan lain dan apa yg harus dilakukan agar tujuan keuangan tersebut dapat terpenuhi. Lantaran penerimaan bulanan masih kecil, penyusunan perencanaan keuangan tak dapat dilakukan sembarangan.

Perencana Keuangan dari Janus Consulting Indah Hapsari menyarankan untuk membuat prioritas rencana keuangan di masa yg akan datang. Lalu, susun perencanaan keuangan dan cara mencapainya sesuai prioritas tadi. Dengan demikian, arus kas keuangan pribadi tak terganggu.

Misalnya, Anda memiliki tujuan keuangan membeli rumah, sekolah lagi dan menikah. Perencana keuangan menyebut, idealnya prioritas disusun dgn mempertimbangkan kemampuan pendanaan serta beban yg mungkin timbul sebagai akibatnya.

Ambil contoh, membeli rumah akan menimbulkan kewajiban lain yg mengikuti, seperti cicilan kredit. Artinya, akan ada beban di keuangan pribadi Anda untuk beberapa waktu ke depan.

Karena itu, sebaiknya anggaran yg dipenuhi terlebih dahulu adalah anggaran yg urgensinya tinggi dan tak menimbulkan beban di keuangan pribadi. Prita memberi saran, bila orang tersebut lajang, maka urutan pengelolaan keuangan dapat dari menikah, membeli rumah lalu kuliah lagi.

Tentu prioritas tujuan keuangan orang yg telah berkeluarga akan berbeda. Prioritas dalam rencana keuangan orang yg telah berkeluarga biasanya memiliki rumah sendiri. Lalu bila keluarga tersebut telah memiliki anak, maka biaya sekolah anak akan masuk keperluan prioritas.

Jangan lupa, bila anggaran yg terdapat telah memungkinkan, Anda juga harus mempersiapkan anggaran pensiun. Diana menyebut, meski biasanya fasilitas anggaran pensiun juga diberikan perusahaan, Anda sebaiknya berinvestasi lagi secara terpisah untuk anggaran pensiun Anda.

• Memilih instrumen investasi
Sebagaimana perencanaan keuangan umumnya, dalam memilih instrumen investasi yg cocok, Anda juga harus mempertimbangkan target jangka waktu pencapaian rencana keuangan. Agar hasil yg diperoleh dapat maksimal, sebaiknya rencana keuangan disusun dgn membuat target jangka waktu cukup panjang.

Ambil contoh, jika Anda memiliki rencana menikah atau kuliah lagi dalam waktu lima tahun ke depan, maka Anda dapat menanamkan anggaran di reksadana campuran. Sementara untuk rencana keuangan yg jangka waktunya lebih dari lima tahun, investasi dapat ditanamkan di reksadana saham.

Tapi kalau target pencapaian rencana keuangan tersebut adalah tiga tahun atau kurang, anggaran investasi dapat ditempatkan di reksadana pasar uang atau deposito, yg sifatnya lebih likuid dan fluktuasinya tak terlalu tinggi. Kalau ingin imbal hasil lebih besar, Anda dapat memanfaatkan reksadana pendapatan tetap.

Contoh lain, menyiapkan biaya sekolah untuk anak. Anda dapat menghemat dgn menyiapkan biaya sekolah cukup untuk SMA dan selanjutnya. Usahakan anak Anda dapat bersekolah di SD dan SMP Negeri, sehingga biaya sekolah dapat ditekan. “Paling butuh anggaran cukup untuk buku, seragam dan uang pangkal,” kata Prita.

Kalau kemudian pendapatan meningkat dan sisa anggaran bertambah, Anda dapat memanfaatkan anggaran tadi untuk menciptakan pemasukan baru. Caranya dgn memulai bisnis.

Yang perlu diingat, jangan tergoda mengotak-atik anggaran darurat yg Anda miliki. Selain itu, jangan sampai tergiur mengambil anggaran investasi untuk keperluan selain yg telah direncanakan.

Selamat mencoba.   

Search terms:

contoh keuangan warung sembako, contoh laporan keuangan warung semba, keuangan warung,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.