Guru Besar IPB Ragu Merauke Jadi Lumbung Padi

Friday, April 21st 2017. | Berita

IndonesiaBisnis.net – Guru Besar Intitut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas meragukan penetapan wilayah pertanian di Merauke, Papua. Terlebih luas lahannya mencapai 1,2 juta hektare.

Lahan seluas itu akan ditetapkan sebagai lumbung padi nasional untuk memenuhi keperluan rakyat. Penetapan itu dicanangkan Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Papua beberapa waktu lalu. Produksinya dalam waktu 3 tahun diprediksi mencapai sekitar 24 juta ton.

Selain sebagai lumbung beras nasional, produksinya juga diharapkan untuk mengekspor beras ke sejumlah negara. Karena itu, wilayah tersebut akan ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus pangan untuk produksi pertanian.

Menanggapi hal tersebut, Andreas mengatakan program lahan pertanian skala luas itu, sungguh bertentangan dan berlawanan dgn semangat reforma agraria serta perwujudan kedaulatan pangan. Menurut Andreas, hakikat dari program ini adalah mengundang seluas-luasnya investasi di sektor pangan atau ini barangkali yg disebut dgn monopoli kapital atas pangan.

“Ini tak efisien karena berisiko besar. Jadi, gerakan kembali ke petani kecil yaitu reforma agraria, petani kecil dan tuna tanah memiliki dan mengontrol lahan. Sejak dulu kita khawatir. Kritikan kami, tak ada keberhasilan food estate, tak ada. Jadi betapa pentingnya petani kecil karena 70 persen mereka yg menyokong pangan kita,” kata Andreas di Jakarta, Selasa (28/7/2015).

Andreas mempunyai argumen. Kata dia tahun 1939, program food estate telah dilakukan waktu zaman Belanda mengembangkan Kumbe Rice Estate. Namun, program tersebut mengalami kegagalan sebab mengalami banyak persolan yg luar biasa besar.

Kedua, saat Pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, SBY melakukan panen raya di Merauke dan memunculkan ide Merauke Integrated Rice Estate (MIRE) seluas 1,9 juta hektar.

Ketiga, Agustus 2008, Saudi Bin Laden Group berencana berinvestasi 4 miliar dolar AS untuk mengembangkan 500 ribu hectare lahan di Merauke. Namun pada 2009 gagal karena global financial downturn.

Keempat, di tahun yg sama MIRE berubah menjadi MIFEE (The Merauke Intergrated Food and Energy Estate) namun mengalami kegagalan.
Andreas mengatakan tak ada sejarah kesuksesan dalam food estate ini terutama padi di Indonesia. Menurutnya, persolana sosial yg luar biasa besar menjadi tantangan tersendiri untuk menerapkan program tersebut.

“Kalau mau menyokong pangan kita sendiri, budidayakanlah petani kecil. Ini program ini cukup untuk menarik investor saja. Makanya banyak mendulang kegagalan. Kunci swasembada itu ada di kesejahteraan petani. Kalau petani sejahtera, swasembada akan muncul dgn sendirinya,” katanya.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.