Menjelang Lebaran, perajin tas dan dompet panen

Saturday, March 18th 2017. | Peluang Usaha

Hari Raya Idul Fitri membawa berkah bagi para perajin tas dan dompet di Yogyakarta. Mereka harus melipat gandakan jumlah produksi guna melayani lonjakan orderan. Pesanan tas melonjak saat Lebaran karena banyak warga asal Yogyakarta yg pulang kampung. Selain itu, banyak juga orderan dari luar daerah. Omzet perajin mencapai puluhan juta.

Para perajin tas di Yogyakarta ketiban rezeki pada Ramadan kali ini. Semakin mendekati Lebaran, mereka harus melipat gandakan jumlah produksi guna melayani lonjakan orderan.

Pesanan tas melonjak saat Lebaran karena banyak warga asal Yogyakarta yg mudik alias pulang kampung. Nah, banyak dari mereka yg membawa tas dan dompet sebagai suvenir atau oleh-oleh saat pulang kembali ke kota tempatnya bermukim.

Umumnya, produk tas yg banyak diburu konsumen terbuat dari bahan-bahan unik, seperti vinil, batik, dan lurik. Bowo Prasetiadi, seorang pembuat tas dan dompet dgn brand Raja Craft di Pasar Beringharjo, Yogyakarta bilang, orderan telah penuh semenjak dua bulan lalu. Ia pun telah tak menerima order yg pengerjaannya minta diselesaikan sebelum Lebaran. “Total orderan sekitar 3.000 pieces, termasuk jenis dompet dan tas,” kata Bowo.

Selain dijual langsung di tokonya, ia juga melayani orderan dari luar daerah, seperti Medan dan Makassar. Menurutnya, C-4 Lebaran barang yg dipesan harus telah sampai ke tujuan.

Sementara penjualan langsung di toko biasanya memasuki puncak penjualan pada C-2 sampai C-1 Lebaran. Bila hari biasa cukup dapat menjual 50 pieces-100 pieces tas dalam seminggu, maka menjelang Lebaran dapat terjual 2.000 pieces- 3.000 pieces.

Untuk tas dari bahan vinyl dihargai Rp 17.000-Rp 24.000 per pieces. Sedangkan tas dari bahan batik yg dikombinasikan dgn kulit dan vinil berkisar Rp 30.000-Rp 150.000.  Dengan harga jual tersebut, menjelang Lebaran ini Raja Craft dapat mengantongi keuntungan lebih dari Rp 60 juta. “Yang paling banyak peminatnya itu produk tas dari bahan vinil dan tas batik yg dikombinasikan dgn kulit serta vinil,” jelasnya.

Lonjakan orderan jelang Lebaran juga dirasakan House of Lawe di Yogyakarta. Herlin Siswanti, petugas pemasaran House of Lawe mengatakan, produk yg paling diminati menjelang Lebaran adalah tas, dompet, sarung handphone sampai sarung bantal yg bahannya berasal dari lurik. Biasanya konsumen memesan untuk dikemas dalam satu paket parsel. “Biasanya itu order untuk parsel, isinya dapat kombinasi sesuai keinginan konsumen, dapat liat katalog yg disediakan”, kata Herlin.

Menurut Herlin, peningkatan orderan menjelang Lebaran mencapai 50% dibanding hari biasa. Satu paket parsel dihargai Rp 200.000-Rp 500.000. Pesanan untuk parsel dalam sehari dapat mencapai 10 set, sedangkan sarung bantal mencapai 30 set.

Di tengah tingginya orderan, keuntungan yg diperoleh dapat mencapai Rp 10 juta- Rp 13 juta per bulan. Sementara keuntungan di hari biasa cukup berkisar Rp 5 juta per bulan. Pada hari biasanya, House of Lawe kebanyakan mendapat orderan online. “Tapi jelang Lebaran seperti sekarang, online dan offline banyak pesan,” katanya.       

 

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.