Sentra Roti: Terkendala bahan baku terigu & telur

Saturday, January 28th 2017. | Peluang Usaha

BANDUNG. Sentra produksi roti di Babakan Rahayu, Gang Kopo, Bandung telah dikenal semenjak tahun 1980-an. Di lokasi ini terdapat sekitar 13 pembuat roti. Kendati diramaikan banyak pemain, persaingan di antara pembuat roti tetap berjalan sehat.

Hal ini disebabkan masing-masing pembuat memproduksi roti dgn ciri khas masing-masing. Jadi tak ada kesamaan produk di antara mereka. Alhasil, para pembuat telah memiliki pelanggan sendiri-sendiri.

Mereka juga kompak dalam menjalankan usaha. Saat menjelang Hari Raya Idul Fitri, misalnya, mereka kompak untuk tak berjualan. Begitu juga saat harga bahan baku sedang naik, mereka kompak menaikkan harga jual roti.

Menurut Sudiya, salah seorang pembuat, harga bahan baku seperti tepung terigu atau telur kerap mengalami kenaikan. Saat harga bahan baku naik, ia melihat dahulu apakah pembuat lain menaikkan harga atau tak.

Tapi menurutnya, rata-rata harga yg mereka tawarkan masih tergolong murah. Itu juga yg membuat sentra ini tak pernah sunyi pengunjung. Selain itu, konsumen juga memiliki banyak pilihan karena masing-masing pembuat memiliki produk berbeda-beda. “Jadi pembeli bisa memilih roti atau kue yg ingin dibelinya,” kata pria berumur 50 tahun ini.

Menurut Sudiya, sampai sejauh tak ada kendala berarti dalam memasarkan produknya. Kendala utama adalah kenaikan harga bahan tepung terigu. “Kadang kualitas tepung terigunya juga tak bagus sehingga roti tak mengembang sempurna dan tak layak dijual,” jelasnya.

Produsen lainnya, Daup mengakui bahwa persaingan di antara pembuat masih sehat. “Tidak ada kendala dgn persaingan,” ujarnya.

Namun sama halnya  dgn Sudiya, kendala yg dihadapinya adalah kenaikan harga bahan baku yg melonjak tinggi. Ia bilang, harga tepung terigu kerap naik drastis. Saat terjadi lonjakan harga terigu, ia bersama pembuat lainnya kerap memutuskan untuk tak produksi. “Dari pada rugi,” katanya.

Daup bilang, dirinya pernah beberapa kali menghentikan produksi akibat lonjakan harga bahan baku yg naik terlalu tinggi. Salah satunya saat krisis moneter tahun 1998. “Saat  itu saya terpaksa berhenti agak lama,” ucapnya.

Bila kenaikan harga terigu tak terlalu tinggi ia tetap berproduksi. Namun, volume produksinya saja yg dikurangi.  Selain terigu, harga telur juga kerap mengalami kenaikan sehingga mempengaruhi produksi roti di sentra ini.

Ia berharap, pemerintah dapat membantu menjaga stabilitas harga terigu dan telur di pasaran. Ia mengatakan, menjelang bulan Ramadan ini, harga dua komoditas itu, terutama telur mulai mengalami kenaikan.

Sampai sekarang ini, Daup dan pembuat roti lainnya masih fokus memasarkan produknya di wilayah Bandung dan sekitarnya. Ada pun keuntungan yg diterimanya berkisar antara Rp 2,8 juta-Rp 3,5 juta per hari. Ia belum bisa melebarkan usahanya di luar Bandung karena terkendala modal. “Keinginan sih ada,” ujarnya. (Selesai)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.