Figure 3D, tigerella, dan sandal mendong

Friday, January 22nd 2016. | Peluang Usaha

Eh, telah akhir  pekan lagi. Sepekan enggak berjumpa, terasa lama juga. Bagaimana kalau kita membuka perjumpaan kita ini dgn blended ice cream. Ayo, silakan dinikmati, blended ice cream bikinan Tarjo, lelaki asal Tangerang.

Nah, si Tarjo memereki blended ice-nya: Starbooth Coffee.  Tarjo memulai usaha minuman ini semenjak awal 2013 dan mulai  menawarkan kemitraan usaha pada pertengahan tahun yg sama. Saat ini dia telah memiliki 400 mitra yg tersebar di sekitar Jabodetabek, kota-kota di Pulau Jawa dan Sumatera.

Dia menawarkan paket kemitraan dgn investasi senilai Rp 6,5 juta. Dari nilai tersebut, mitra akan mendapatkan booth, peralatan jualan seperti blender, ice box, wadah, seragam, banner, dan bahan baku awal berupa bubuk minuman sebanyak 4 kg untuk 200 cup dan bahan baku utama lainnya.

Yang lebih penting, Tarjo tak mengutip biaya royalti kepada mitra. Hanya,  si mitra wajib membeli bahan baku bubuk minuman seharga Rp 45.000−Rp 55.000 per kg. Tarjo menghitung, mitra dapat menjual minuman 100 cup per hari dgn peraihan keuntungan Rp 500.000 per hari. Dalam sebulan, mitra dapat meraup keuntungan Rp 15 juta. Setelah dikurangi biaya pembelian bahan baku, sewa tempat dan biaya operasional lainnya, mitra masih dapat meraup laba bersih sekitar 35% dari keuntungan tiap bulan. Alhasil, balik modal dapat diraih sekitar satu bulan sampai dua bulan.

Eh, kita disuguhi jus tomat juga. Ada apa ini? Enggak ada apa-apa, Cuma mau memberi tahu bahwa tomat yg dijadikan jus ini bukan tomat biasa. Tomat ini merupakan jenis tomat tigerella.  Kalau kita melihat si tigerella secara utuh,  tomat ini memiliki warna merah ranum dgn garis-garis kuning seperti serat pada permukaan luarnya. Tomat jenis ini belum banyak dikenal di Indonesia. Nah, terbukti  kan ini bukan tomat biasa.

Karena enggak biasa, peminatnya kini telah semakin banyak,  terutama dari para pecinta tanaman dan hortikultura. Itulah sebabnya, budidaya dan penjualan bibit tomat tigerella semakin marak.  Salah satu pembudidaya tigerella adalah Nindy.

Nindy mengawali usahanya dgn iseng.  Dia menanam begitu saja si tigerella di pekarangan rumah semenjak 1,5 tahun lalu. Namun, sebab masih langka, Nindy mulai melakukan pembibitan dan menjualnya.  Kenapa? Karena, “Lebih banyak yg mencari bibitnya untuk dirawat di pekarangan rumah ketimbang mencari buahnya,” kata dia. Sementara buahnya biasanya dia konsumsi sendiri.

Nindy mengatakan rasa tomat ini lebih segar dan sedikit asam dari tomat pada umumnya. Jika buah hasil panennya dijual, dia membanderolnya sekitar Rp 10.000 per buah. Biasanya orang membeli untuk mengambil bijinya untuk ditanam. Saat ini, Nindy memiliki beberapa pohon tomat tigerella. Menurutnya, satu pohon bisa menghasilkan puluhan biji sampai ratusan biji. Hasil pembibitan dia jual di pasar online melalui situs www.benihbijibunga.blogspot.com. Satu kemasan yg terdiri dari 10 bibit tomat tigerella dia jual seharga Rp 12.000. Dalam sebulan Nindy mengatakan dapat mendapat orderan sebanyak 50 bungkus sampai 100 bungkus. Omzet yg dapat Nindy dapatkan sekitar Rp 1,2 juta per bulan.  Mau ikutan membudidayakan tomat tigerella? Beli saja bibitnya ke Nindy.

Oke, Nindy selamat berkebun tigerella. Tapi, kalau memang cinta sama si tigerella kita dapat bikin duplikatnya atau si Nindy sekalian kita bikin duplikatnya. Untuk itu kita kenalan dulu Harry Liong.

Pria ini adalah salah satu pengusaha figur 3D di Jakarta dgn merek Sugacubes 3D Studio.  Dengan teknologinya, Harry enggak cuma dapat bikin figur 3D tapi juga dapat bikin action figure.  Action figure adalah patung yg karakternya diambil berdasarkan film, komik, videogame, atau acara TV. Nah, kalau produk figur 3D ini siapa saja boleh menjadi objek figurnya. Produk figur 3D juga tak dapat digerakkan, sementara action figure sebagian anggota tubuh seperti tangan atau kaki dapat digerakkan.

Bisnis figur 3D customized ini masih cukup jarang ditemukan di Indonesia karena keterbatasan teknologi serta tenaga ahli. Pembuatannya menggunakan teknologi 3D printing lewat tiga kali proses produksi. Teknologi 3D printing ini di Indonesia telah cukup lama eksis, namun penggunaannya masih bersifat teknis seperti keperluan alat kedokteran atau maket bangunan, belum sampai di industri kreatif. Nah, teknologi ini baru digunakan baru-baru ini di sektor kreatif.

Harry membawa bisnis figur 3D ini ke Indonesia dgn mencoba menjalankan semua proses produksi di tempat usahanya sendiri di Jakarta. Investasi mendatangkan mesin 3D printing yg cukup mahal membuat usaha ini belum banyak dilirik di Indonesia. Nilainya mencapai miliar rupiah.

Harry menjelaskan, bahan baku pembuatannya menggunakan pasir komposit alias sandstones dan melewati tiga langkah utama. Pertama, konsumen difoto dalam sebuah studio foto dgn puluhan kamera untuk menangkap semua detail yg mengelilingi objek 360 derajat.  Kedua, hasil foto dua dimensi dijadikan data digital dan diolah menggunakan software khusus menjadi data tiga dimensi. Data objek akan diperhalus, dan dapat dimodifikasi sesuai permintaan. “Pelanggannya dapat meminta misalnya badannya mau dikuruskan atau digemukkan, jadi hal ini juga berlaku sama seperti editing foto di Photoshop,” ucap Harry.

Ketiga, melalui data digital, data siap untuk dicetak di mesin 3D printing yg menghasilkan cetakan. Kemudian dgn cetakan ini, dibentuk figur 3D dgn bahan baku sandstone tersebut. Tahap akhir, keempat, patung yg telah jadi diberi warna agar tampak lebih hidup, seperti di foto. Menurut Harry, tingkat akurasi hasilnya mencapai 90% sehingga wajah mirip dgn aslinya. Produk ini pun hasilnya tahan lama, selama tak terjatuh atau terkena sinar matahari langsung.

Jadi, kalau Anda mau bikin patung, dgn teknologi figur 3D akan lebih hidup. Ngomong-ngomong soal hidup, di wilayah candi Borobudur banyak orang bertahan hidup dgn menjadi kusir andong. Di wilayah ini terdapat lebih dari 60 kusir andong yg aktif beroperasi di candi Borobudur.  Karena itu, semenjak 1989, berdiri sebuah paguyuban para kusir andong di tempat ini.

Salah satu kusir andong adalah Oji yg menawarkan jasa wisata andong semenjak 2003. Sebelum dapat menawarkan jasa andong, Oji terlebih dahulu belajar merawat kuda. Saat ini, Oji memiliki tiga kuda untuk digunakan bergantian menarik andong. Menurut Oji, kuda berusia dua tahun telah dapat untuk dilatih untuk menarik andong. Jika kuda jinak, dalam waktu 10 hari saja telah dapat digunakan. Namun, untuk kuda yg tergolong liar diperlukan waktu sekitar dua bulan sampai jinak dan dapat menarik andong.

Biasanya, Oji memasang tarif sekitar Rp 15.000-Rp 20.000 untuk sekali antar dari Terminal Borobudur menuju Candi Borobudur. Namun, bila penumpang ingin sekaligus masuk ke area Candi Borobudur dan berkeliling di dalamnya, Oji mematok tarif Rp 50.000 sekali naik per tiap pengunjung. Oji mengatakan mampu meraih keuntungan sekitar Rp 100.000 per hari jika sedang sunyi pengunjung. Namun, ketika musim liburan tiba Oji mengatakan dapat mendapatkan penghasilan sampai empat kali lipat dalam sehari. “Ketika hari Waisak, saya dapat bisa keuntungan sampai Rp 1,2 juta sehari karena pengunjung membeludak,” ungkap Oji.

Semoga saja Candi Borobudur selalu ramai dikunjungan wisatawan. Eh, Mas Oji dapat enggak antar kita ke Gang Kopo, Bandung, naik andong? Ada-ada saja, memangnya ada apa di Gang Kopo?

Gang Kopo, tepatnya di Babakan Rahayu merupakan sentra roti. Sentra ini konon telah eksis semenjak 1980-an. Selain menjadi tempat produksi, Gang Kopo ini juga banyak didatangi para pembeli yg dapat langsung melihat produksi roti. Para pembeli biasanya ramai mendatangi sentra ini sekitar pukul 5 sore sampai 9 malam.

Udiya, salah satu pembuat dan pedagang roti di sentra ini bercerita, dia telah menjalankan usaha ini semenjak 1997. Pria berusia 50 tahun ini menjual dua jenis produk adonan tepung, yaitu bakpia isi susu dan baguette isi keju. Harga jualnya Rp 2.000 per kotak berisi enam. Selain menjual per kotak, di warung-warung produknya dapat dijual satuan seharga Rp 500 per buah.

Dia juga menerima orderan roti atau kue asalkan bahan baku dapat mudah didapat dan harga jual mampu menutup biaya produksi. Contohnya saja, pia yg dia produksi kecil dan agak tipis bisa diolah menjadi pia agak tebal seperti yg dijual di Yogyakarta. Sudiya mampu memproduksi sekitar 70 kantong plastik yg masing-masing berisi 40 kotak roti per hari. Dia mengatakan perolehan keuntungan kadang tak menentu. Rata-rata dia dapat mendapat Rp 1 juta per hari.

Lumayan juga omzetnya. Tapi, yg penting sekarang kita sikat dulu si roti dari Gang Kopo. Ternyata ngobrol-ngobrol dapat membuat lapar juga. Bagaimana kalau kita undang Bagus Pursena untuk makan roti.

Bagus Pursena itu  pengusaha kerajinan porselen yg sukses mengembangkan pasar sampai luar negeri. Dia adalah pendiri dan pemilik PT Nuansa Porselen Indonesia dgn merek Cupinari dan Nuanza Ceramic. Produk Cupinari dibuat dari porselen yg membuat figurin baik model manusia atau binatang, dan juga tropi klasik. Adapun merek Nuanza Ceramic memproduksi materi yg terbuat dari keramik seperti tiles/ ubin mozaik, peralatan makan (teko, cangkir, piring, wastafel), dan hiasan interior.

Pria berusia 51 tahun ini mendirikan Nuanza Ceramic pada tahun 2007 di Boyolali, Jawa Tengah. Kini ia memiliki kantor pusat dan showroom di Jakarta. Meski berkantor di Jakarta, semua produksinya dikerjakan di lereng gunung Merapi, Boyolali, Jawa Tengah. Sebab bahan baku banyak dia ambil dari daerah itu.

Dalam sebulan kapasitas produksi banyak. Misalnya untuk produk ubin/ tiles dapat mencapai 1.000 m². Untuk produk figurin dapat mencapai 500 unit per bulan. Harganya pun bervariasi. Untuk tiles misalnya, ia menjual dgn kisaran Rp 2 juta−Rp 5 juta per m². Sedangkan untuk produk figurin dan tableware dihargai Rp 500.000 sampai Rp 12,5 juta per unit. Tidak heran Bagus dapat menghasilkan keuntungan sampai Rp 1 miliar per bulan.

Sandal mendong dan daun kelor
Waduh, kita harus berpisah dgn Bagus Pursena, karena kita akan menemui Rinny Yulyta. Perempuan ini dgn kreatif menyulap mendong menjadi sandal hotel. Lewat naungan perusahaan Cynthia Rama Jaya, Rinny memproduksi 500 sampai 1.000 lembar rajutan sandal hotel tiap bulan.

Harga bahan baku lembaran mendong seharga Rp 10.000 per lembar. Dia menjual produk ini berkisar Rp 5.000 per pasang sampai Rp 20.000 per pasang,  tergantung tingkat ketebalan sandal dan tambahan pernak-pernik ataupun logo. Rata-rata orderan yg datang dari hotel sebanyak 500 sampai 3.000 pasang sandal per bulan. Alhasil, keuntungan yg diraih Rinny dapat puluhan sampai ratusan juta per bulan.

Kalau ada sandal, tentu ada kesetnya. Biar ruangan kita tak terkotori oleh kotoran yg terbawa oleh sandal. Nah, kita dapat melirik keset karakter. Lumayan juga lo berbisnis keset karakter. Hanya dgn menjadi reseller saja, hasil yg didapat lumayan gede. Adalah Bagus Saputra, salah satu reseller keset karakter asal Jakarta.

Bagus memasok aneka keset sampai ribuan buah. Pria yg menjalani bisnis reseller keset karakter semenjak 2014 ini juga menawarkan peluang menjadi agen penjual lagi. Harga jual untuk para agen penjualnya seharga Rp 40.000 per unit.  Adapun harga jual untuk pembeli ritel sekitar Rp 46.000 per unit. Pengusaha yg telah memiliki 10 reseller ini bilang, biasanya keset jualannya dapat laku terjual sampai 500 buah dalam sebulan. Darisitu omzetnya dapat mencapai Rp 20 juta per bulan. Bagus telah mengirim orderan ke berbagai wilayah di Indonesia lewat toko online kesetkarakter.blogspot.com.

Silakan disambi camilannya. Ini ada cireng isi yg bermerek Cireng Bandung Isi. Usaha ini telah berdiri semenjak tahun 2006 silam di Jakart Selatan. Menawarkan kemitraan usaha semenjak 2008 silam, Cireng Bandung Isi telah memiliki 130 gerai yg tersebar di Jabodetabek dan Bandung. Perinciannya, 10 gerai milik pusat dan sisanya milik mitra usaha.  

Eko June, Staf Pemasaran Cireng Bandung Isi, menjelaskan bahwa pusat menawarkan investasi paket standar senilai Rp 1,5 juta dan paket konter senilai Rp 6 juta. Eko menargetkan, mitra dapat mencetak penjualan sampai 60 buah cireng per hari dgn harga jual Rp 2.000 per cireng. Bila target tercapai, maka mitra bisa meraup keuntungan Rp 120.000 per hari atau sekitar Rp 3,6 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya-biaya operasional, mitra masih dapat mendapatkan keuntungan bersih sekitar 40% dari keuntungan.

Ayo, dimakan lagi cirengnya. Ngomong-ngomong soal makanan, jadi ingat Jody Brotoseno. Jody merupakan anak dari pengusaha yg sukses membesarkan jaringan resto Obonk Steak and Ribs.

Waroeng Steak and Shake adalah usaha yg dijalani Jody Brotoseno dan istrinya, Siti Hariani, setelah mereka menikah pada 1998.  Berbekal pengalaman sebagai karyawan biasa resto sang ayah, Jody memulai usaha steik dari nol. Pasar yg dia tuju adalah anak muda dan mahasiswa, sehingga harga menu yg ditawarkan menyesuaikan. Konsumen dapat menyantap menu steik yg notabene adalah makanan mahal cukup dgn merogoh kocek Rp 14.000−Rp 39.000 per porsi.

Hingga Juni 2015, Jody telah memiliki 60 cabang yg ada di seluruh Indonesia. Kini dgn 60 gerai yg berdiri, ia telah mempekerjakan lebih dari 1.500 karyawan. Jody bilang, satu gerai dapat menjual sekitar 200 porsi sampai 300 porsi per hari dgn total keperluan daging semua gerai sampai ratusan kilogram tiap bulan. Tidak heran, keuntungan usaha tiap gerai mencapai ratusan juta per bulan.  Ah, Jodi bikin iri saja.

Ada ungkapan dunia tak seluas daun kelor. Itu telah jelas, soalnya daun kelor dapat membikin pembudidayanya keliling dunia. Soalnya, dari membudidayakan daun kelor hasilnya lumayan besar.

Kita jumpai saja salah satu pembudidaya kelor, FX Budianto, petani kelor asal Yogyakarta. Budianto bilang, selain daun semua bagian tanaman kelor dapat dimanfaatkan seperti kulit kayu, kembang, biji, dan akar untuk membuat obat herbal. Saat musim hujan, Budianto bilang produksi panen secara jumlah memang lebih banyak daripada musim kemarau, namun risiko daun tak kering dan berjamur juga tinggi. Kalau telah begitu otomatis tak laku. Saat musim kemarau, tak ada risiko jamur atau tak kering, namun masalahnya daun banyak yg rontok.

Rata-rata Budianto cukup dapat menjual sekitar 40 kg−80 kg daun kelor per bulan. Budianto juga menjual biji kelor. Ia bilang harga biji kelor cukup mahal. Saat ini dia menjual biji kelor seharga Rp 50.000 per ons. Dari penjualan daun dan biji, Budianto dapat meraup keuntungan Rp 20 juta−Rp 25 juta per bulan. Daun kelor yg telah dikeringkan paling banyak dicari sekarang ini. Saat proses pengeringan, daun dijemur maksimal selama sehari dan hari berikutnya diangin-anginkan saja. Setelah itu daun kelor kering telah dapat dikemas dan dijual.

Sayangnya, daun kelor menjadi tanda bahwa kita harus mengakhiri jumpa kita kali ini. Selamat berakhir pekan, semoga akhir pekan Anda menyenangkan.

Search terms:

cara cepat dapat survey jakpat,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.