Permintaan batu bata melebihi kapasitas produksi

Sunday, July 15th 2018. | Peluang Usaha

LAMPUNG. Perekonomian masyarakat di Dusun Pagersari, Desa Fajar Agung Barat, Kecamatan Pringsewu, Lampung meningkat seiring dgn perkembangan sentra produksi batu bata di daerah itu. Industri ini menjadi pekerjaan utama sebagian besar penduduk di desa Fajar Agung Barat.

Tiap rumah di sentra industri batu bata ini memiliki halaman yg cukup luas di depan maupun di belakang sebagai tempat produksi. Proses produksi mulai dari pencampuran tanah, pencetakan sampai penjemuran dilakukan di halaman. Setelah dijemur, proses pembakaran juga dilakukan di halaman rumah. Biasanya sekali proses pembakaran berkapasitas 3.000 batu bata.

Bahan bakar yg digunakan adalah kayu bakar atau merang. Margono, salah satu perajin batu bata di tempat ini biasanya mengambil kayu bakar dari daerah Bumisari. Rata-rata Margono membutuhkan sekitar 500 keping kayu bakar tiap bulan untuk produksi.

Dia dan para perajin batu bata di tempat ini mengatakan sering kewalahan memenuhi permintaan yg datang. Margono mengatakan kadang batu bata yg dia produksi masih kurang, bahkan banyak konsumen yg telah bayar uang di muka padahal batu bata belum jadi.

Lantaran permintaan belum semua dapat dia penuhi, sekarang ini Margono cukup fokus pada pemasaran di wilayah lokal di sekitar wilayah Lampung. “Produksi untuk memenuhi permintaan dari wilayah Lampung saja masih kurang, terutama di saat musim penghujan,” kata Margono.

Saat ini, Margono memiliki dua karyawan tetap. Jika sedang kewalahan, Margono tak jarang menambah tenaga kerja dgn meminta bantuan ibu-ibu sekitar untuk mencetak batu bata. Untuk jasa cetak sebanyak 1.000 batu bata, ia memberi upah Rp 35.000. “Saya dapat menambah karyawan lepas sampai delapan orang,” kata Margono.

Biasanya, menambah karyawan ini dia lakukan pada bulan Mei dan Agustus bertepatan dgn selesainya panen kopi dan lada. Pada momen tersebut, permintaan makin tinggi. Karena, pada saat itu, para petani memiliki cukup uang hasil panen untuk membangun rumah.

Itu sebabnya, di antara para perajin batu bata, tak ada persaingan usaha. Produksi batu bata tiap perajin selalu diserap oleh pasar.

Tapi, Margono mengatakan memiliki cara khusus agar para pelanggannya dapat terus setia membeli batu bata miliknya, yakni selalu menjaga kualitas batu bata buatannya. “Saya membuat batu bata dari tiga jenis tanah, yakni tanah kuning, tanah liat, dan tanah hitam,” ujarnya. Selain itu, pelanggannya kerap diberi potongan harga.

Alia, perajin batu bata lainnya, memproduksi batu bata setiap saat, terutama ketika musim panas. Ini dia lakukan untuk dapat mendapatkan persediaan sebanyak mungkin. Ketika musim hujan tiba, dia tetap dapat memenuhi permintaan yg datang. (Selesai)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.