BI Waspadai Terjadinya "Perang Mata Uang" di Masa Depan

Friday, November 18th 2016. | Berita

IndonesiaBisnis.net – Bank Indonesia akan mewaspadai potensi terjadinya perang mata uang atau “currency war” yg mungkin terjadi sebagai dampak dari rencana penyesuaian suku kembang acuan Bank Sentral AS (The Fed) secara berkala.

“Saya melihat tiga tahun ke depan akan terus ada ‘currency war’, karena kalau seandainya program peningkatan kembang di AS berjalan secara berkala, pasti berdampak pada mata uang negara lain yg satu sama lain akan menjaga posisi kompetitif mata uangnya,” kata Gubernur BI Agus Martowardojo di Jakarta, Senin malam.

Perang mata uang yg dimaksud adalah suatu kondisi dimana masing-masing negara “sengaja” untuk melemahkan mata uangnya terhadap mata uang negara lain, dgn tujuan mempermudah ekspor dan memperbaiki neraca perdagangan.

Agus menjelaskan sekarang ini kondisi global sedang mengalami fenomena penguatan dolar AS yg menyebabkan terjadinya depresiasi nilai mata uang di berbagai negara berkembang ekonomi dan menimbulkan risiko dalam jangka panjang.

“Hari ini semua lebih dalam dari (rupiah) kita tekanannya, tapi ini semua reaksi dari perkembangan ‘risk on’ dan ‘risk off’ di luar negeri. Saya melihat bahwa kita memang harus menghadapi ini dgn baik dan waspada,” katanya.

Untuk itu, ia kembali menegaskan dalam jangka pendek dan menengah, BI berupaya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS agar para pelaku pasar tak memiliki kekhawatiran terhadap kondisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan.

“Kalau ada tekanan ekstrem, kita menjaga supaya volatilitasnya ada dalam batas yg bisa diterima untuk meraih kepercayaan pasar. Pasar harus tahu BI selalu ada untuk menjaga stabilitas (rupiah),” kata Agus.

Terkait pergerakan rupiah yg cenderung melemah sampai pertengahan tahun, Agus memperkirakan rupiah dapat kembali stabil setelah Juni dgn rata-rata sepanjang tahun 2015 pada kisaran Rp13.000-Rp13.200 per dolar AS.

“Untuk rupiah ‘year to date’ masih pada Rp12.911 per dolar AS, dan biasanya (perlemahan) ini musiman sampai akhir Juni, karena ada sentimen dan banyak yg harus dibayar (menggunakan dolar). Tapi nanti akan normal dan fundamental membaik, sehingga pada kuartal tiga dan empat rupiah rata-rata Rp12.500,” katanya.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro menambahkan depresiasi mata uang yg terjadi di beberapa negara, termasuk Indonesia, sebagai akibat dari penguatan dolar AS dan itu terjadi karena dunia sedang menunggu kepastian terkait penyesuaian suku kembang The Fed.

“Yang terjadi adalah dolar menguat terhadap segalanya dan itu tak terelakkan karena tingkat kembang AS (berpotensi) naik, otomatis (nilai mata) uang bergerak ke arah dolar AS. Itu natural sebagai respon terhadap kemungkinan kenaikan tingkat suku kembang,” ujarnya.

Dari segi pemerintah, kata Bambang, salah satu hal yg bisa diupayakan sebagai antisipasi agar fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tak terlalu bergejolak adalah dgn memperkuat struktur fundamental perekonomian nasional.

“Kita jaga fundamentalnya. Kita menjaga ‘current account deficit’nya dan defisit anggarannya. Itulah yg harus kita lakukan,” katanya.

Sebelumnya, nilai tukar rupiah yg ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Senin sore bergerak melemah sebesar 90 poin menjadi Rp13.380 dibandingkan posisi sebelumnya di posisi Rp13.290 per dolar AS yg dipicu oleh tekanan eksternal. (Antara)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.