Hujan melambatkan produksi batu bata (2)

Thursday, July 6th 2017. | Peluang Usaha

LAMPUNG. Sentra pembuatan batu bata di Dusun Pagersari, Desa Fajar Agung Barat, Kecamatan Pringsewu, Lampung, berkembang pesat semenjak tahun 2.000-an. Saat itu, banyak warga desa yg sebelumnya berprofesi sebagai petani alih profesi menjadi perajin bata.

Mereka tertarik terjun ke usaha karena tingginya permintaan bata di Lampung dan sekitarnya. Selain tingginya permintaan, usaha  ini juga tak membutuhkan biaya investasi yg mahal.

Bahan baku tanah untuk pembuatan bata juga melimpah. Margono, salah seorang perajin bata mengatakan, tak kesulitan mendapatkan bahan baku pembuatan batu bata. Selama ini, ia mendapatkan pasokan tanah dari Desa Bumisari, Bumiratu, dan Banyumas. Letak ketiga desa itu tak jauh dari Desa Desa Fajar Agung Barat.

Margono mengatakan, setiap sebulan sekali rutin mengambil tanah dari tiga desa itu. “Sekali ngambil dapat lima dump truck,” ujarnya. Menurut Margono, tanah satu dump truk dihargai Rp 250.000. Tanah sebanyak itu dapat diolah menjadi 4.500 bata sampai 5.000 bata.

Ia membeli tanah langsung dari pemilik lahan. Margono menggunakan tiga jenis tanah, mulai tanah kuning, tanah liat, dan tanah hitam. Ketiga jenis tanah itu dicampur menggunakan air lalu diaduk. Setelah itu, adukan dipadatkan menggunakan mesin penggiling. Tanah yg telah padat lalu dicetak menggunakan cetakan berukuran 6 sentimeter (cm) x 10 cm x 20 cm.

Setelah dicetak, batu bata mentah kemudian disusun dan dijemur sampai kering. Bila cuaca sedang panas, penjemuran cukup memakan waktu selama 15 hari. Penjemuran ini bertujuan agar bata kuat dan tak mudah patah.

Setelah pengeringan selama 15 hari, kemudian batu bata dibakar menggunakan merang atau kayu. Jika menggunakan merang membutuhkan waktu selama seminggu. Sedangkan pembakaran dgn kayu cukup memerlukan waktu selama dua hari.

Margono sendiri lebih memilih pembakaran dgn menggunakan kayu karena prosesnya lebih cepat. “Jadi dari awal proses pembuatan sampai siap jual itu sebulan jika kondisi panas. Tapi kalau cuaca hujan dapat mencapai dua bulan sampai tiga bulan,” jelas Margono.

Lamanya proses produksi ini karena semuanya masih dilakukan secara manual. Para perajin belum yg ada menggunakan peralatan canggih dalam proses produksi.

Perajin bata lainnya, Alia  bilang, proses pembuatan bata sangat tergantung kepada cuaca. Bila cuaca panas, waktu yg dibutuhkan mulai dari produksi awal sampai batu bata siap jual cukup sekitar satu bulan. Tapi saat musim hujan, proses pembuatan dapat memakan waktu sampai tiga bulan.

Selama ini, Alia mendapat bahan baku tanah dari Pajaresuk, Pringsewu. Beda dgn Margono, ia cukup menggunakan dua jenis tanah, yakni tanah merah dan tanah putih. “Kalau tanah merah dari pegunungan dan tanah putih dari sawah,” ungkapnya. Untuk proses pembakaran, ia lebih sering memakai merang karena hasil batu batanya jauh lebih bagus. (Bersambung)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.