Pemahat yang berbekal teknologi digital

Wednesday, August 23rd 2017. | Peluang Usaha

JAKARTA. Perkembangan dan inovasi di bidang seni dgn sentuhan teknologi modern semakin berkembang, terutama di negara-negara maju. Salah satunya adalah teknologi pembuatan figur tiga dimensi (3D) customized. Produk yg dihasilkan merupakan perpaduan kemajuan teknologi, desain grafis, foto dan kreativitas. Tidak seperti patung action figures atau cosplay yg di jual berupa produk jadi, tapi produk ini dapat dipesan dgn wajah dan konsep yg diinginkan konsumen.

Harry Liong, salah satu pengusaha figur 3D di Jakarta dgn merek Sugacubes 3D Studio menjelaskan, action figure adalah patung yg karakternya diambil berdasarkan film, komik, videogame, atau acara TV. Nah, kalau produk figur 3D ini siapa saja boleh menjadi objek figurnya. Produk figur 3D juga tak dapat digerakkan, sementara action figure sebagian anggota tubuh seperti tangan atau kaki dapat digerakkan.

Bisnis figur 3D customized ini masih cukup jarang ditemukan di Indonesia karena keterbatasan teknologi serta tenaga ahli. Pembuatannya menggunakan teknologi 3D printing lewat tiga kali proses produksi. Teknologi 3D printing ini di Indonesia telah cukup lama eksis, namun penggunaannya masih bersifat teknis seperti keperluan alat kedokteran atau maket bangunan, belum sampai di industri kreatif. Nah, teknologi ini baru digunakan baru-baru ini di sektor kreatif.

Tren figur 3D telah mulai tren di Amerika Serikat (AS) semenjak tahun 2013 silam dan baru mulai dikenal di Indonesia semenjak awal tahun ini. Lantaran membutuhkan modal yg cukup besar, sekarang ini sebagian besar pelaku usaha memproduksi di luar negeri.

Muljadi Honggo, pengusaha figur 3D lewat brand Klikminime dari Jakarta mengatakan, dia menjalin kemitraan dgn perusahaan Qminime dari Hong Kong untuk menjalankan bisnis ini. Produk 3D figure ini unik dan belum banyak ditemukan khususnya di Jakarta. Itulah sebabnya, ia mengagumi karya artistik ini, sampai berani memasarkannya.

Andalkan teknologi

Ada tiga produk yg di jual di Klikminime, yakni patung karikatur 3D, foto kaca 3D, dan boneka muka 3D. Dalam sebulan, Muljadi mampu memproduksi 25 buah 3D figure dalam tenggang waktu 35 hari. Harga jualnya berkisar dari Rp 1,55 juta sampai Rp 6 juta per unit. “Saya dapat meraup keuntungan sebesar Rp 35 juta per bulan,” kata Muljadi.

Untuk produksi, Mulyadi bilang, semua masih dilakukan di luar negeri. Desain badan telah ada template dari perusahaan di Hong Kong yg bekerjasama dengannya. Sementara, untuk pembuatan kepala dan wajah, Klikminime mengikuti foto yg dikirimkan konsumen yg akan dibuatkan dalam versi karikaturnya.

Yudi, pemilik usaha My 3D Figure juga bekerjasama dgn pembuat di luar negeri yakni di Taiwan. Pria lulusan Asia Pacific Institute of Information Technology (APIIT) di Malaysia ini memang memiliki hobi mengoleksi action figure sehingga tertarik untuk berbisnis yg terkait dgn hobinya tersebut.

Yudi menjelaskan, proses pembuatan figur 3D ini memakan waktu sampai tiga minggu. Patung badan terbuat dari polymer clay atau tanah liat. Sedangkan untuk kepala terbuat dari polyester resin atau resin fiber. “Untuk bagian tubuhnya telah ditentukan oleh pabrik, jadi proses pembuatannya dapat lebih singkat,” kata Yudi.

Sementara Harry, membawa bisnis figur 3D ini ke Indonesia dgn mencoba menjalankan semua proses produksi di tempat usahanya sendiri di Jakarta. Investasi mendatangkan mesin 3D printing yg cukup mahal membuat usaha ini belum banyak dilirik di Indonesia. Nilainya mencapai miliar rupiah.

Dia menjelaskan, bahan baku pembuatannya menggunakan pasir komposit alias sandstones dan melewati tiga langkah utama. Pertama, konsumen difoto dalam sebuah studio foto dgn puluhan kamera untuk menangkap semua detil yg mengelilingi objek 360 derajat.  Kedua, hasil foto dua dimensi dijadikan data digital dan diolah menggunakan software khusus menjadi data tiga dimensi.

Data objek akan diperhalus, dan dapat dimodifikasi sesuai permintaan. “Pelanggannya dapat meminta misalnya badannya mau dikuruskan atau digemukkan, jadi hal ini juga berlaku sama seperti editing foto di Photoshop,” ucap Harry. 

Kemudian langkah ketiga, melalui data digital, data siap untuk dicetak di mesin 3D printing yg menghasilkan cetakan. Kemudian dgn cetakan ini, dibentuk figur 3D dgn bahan baku sandstone tersebut. Tahap akhir, patung yg telah jadi diberi warna agar tampak lebih hidup, seperti di foto. 

Menurut Harry, tingkat akurasi hasilnya mencapai 90% sehingga wajah mirip dgn aslinya. Produk ini pun hasilnya tahan lama, selama tak terjatuh atau terkena sinar matahari langsung.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.