Generasi baru pematung di zaman serba digital

Monday, July 9th 2018. | Peluang Usaha

JAKARTA. Kecintaan Harry Liong kepada dunia seni, khususnya seni rupa mengantarkan Harry menjadi seorang wirausahawan muda yg sukses meraup keuntungan ratusan juta setiap bulan. Lewat usaha dgn merek dagang Sugacube, pria lulusan Ohio University, Amerika Serikat  ini menjual patung figur berkarakter (action figure) tiga dimensi (3D) yg dapat dipesan oleh konsumen dgn wajah mereka sendiri atau customized 3D printed figurines.

Awal ketertarikannya berbisnis mainan  3D customized ini adalah dari kegemarannya mengoleksi action figure dan cosplay semenjak tahun 2013. Dari situ, dia mulai memiliki ide menciptakan cuan dari hobinya ini. Harry melakukan riset dan trial and error selama setahun sebelum menjalankan usaha ini,  April 2014 di Jakarta.

Dia mendapat tawaran seorang kolega dari Spanyol untuk membuka usaha patung figur 3D di Indonesia. Harry bilang, pebisnis patung figur 3D ini masih jarang ditemukan di sini, sebab membutuhkan kemampuan dan teknologi 3D printing yg cukup baru. Jika ada, sebagian besar proses produksinya dilakukan di luar negeri.

Modal yg dia keluarkan saat merintis bisnis ini tak sedikit, khususnya untuk pengadaan mesin cetak yg bernilai miliaran rupiah. Jika ditotal, Harry mengeluarkan modal sekitar Rp 5 miliar. Itu sebabnya, harga jual produk tak murah dan menyasar kalangan menengah ke atas.

Dibantu lima orang karyawan, Harry dapat memproduksi sekitar tujuh sampai 12 unit patung figur berkarakter dalam sebulan berukuran 7 sentimeter (cm)−20 cm. Membuat patung 3D membutuhkan tenaga fotografer, desainer grafis, dan 3D artist.

Harga jualnya berkisar Rp 700.000 sampai Rp 4,3 juta per unit, sesuai dgn tingkat kerumitan detail patung dan ukurannya. Dia mengatakan dapat meraup keuntungan sampai ratusan juta rupiah jika pemesanan sedang banyak.

Biasanya pelanggan cukup kirim foto wajahnya atau dapat datang langsung ke studionya di Jakarta untuk melakukan pemotretan sebagai salah satu proses dalam  produksi. Selama ini karya-karyanya banyak digunakan sebagai kado atau hadiah, atau sebagai pajangan untuk pribadi.

Dari segi bisnis, Harry bilang potensi bisnis sekarang ini bagus, 3D printing ini akan dibuat untuk semua industri kreatif seperti design house, rumah produksi dan animator. “Kalau di luar negeri, ada Madame Tussaud, di Indonesia juga ada tapi kita baru dapat buat miniaturnya saja,” kata dia.

Lantaran masih terbilang baru di Indonesia, kendala yg kerap masih dia alami adalah brand awareness yg masih rendah di masyarakat, sehingga dia harus gencar berpromosi dan menjelaskan tentang produk ini yg terbilang baru di Indonesia. Masyarakat masih butuh waktu untuk mengetahui bahwa sekarang ini produk kenang-kenangan tak cukup lewat foto atau lukisan saja.  Hingga kini Harry banyak melakukan pemasaran melalui media sosial seperti Facebook, Twitter, dan Instagram.

Dia mengatakan, banyak orderan datang berasal dari rekomendasi konsumennya dari mulut ke mulut. Beberapa artis pernah memesan padanya, seperti grup band Noah, The Sigit dan pemain film Ringgo Agus Rahman.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.