BI akan revisi proyeksi pertumbuhan kredit 2015

Wednesday, July 4th 2018. | Keuangan

JAKARTA. Bank Indonesia akan merevisi proyeksi pertumbuhan penyaluran kredit tahun 2015 ini. Koreksi ini menyusul revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi 2015 yg telah dilakukan bank sentral Indonesia. Otoritas moneter merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun bershio kambing kayu ini menjadi 5,1% dari yg sebelumnya diproyeksikan sebesar 5,4%-5,8%.

Revisi proyeksi ini dilakukan guna merespons perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional yg sepanjang kuartal T-2015 cukup tumbuh di level 4,71%. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Halim Alamsyah menuturkan, perlambatan pertumbuhan ekonomi nasional akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan kredit yg disalurkan perbankan.

Halim bilang, Bank Indonesia akan melakukan revisi proyeksi pertumbuhan kredit setelah menunggu masukan revisi rencana bisnis bank (RBB).

“Mungkin akan ada revisi atas target pertumbuhan kredit awal di level 15%-17% di 2015, karena kami telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi. Jadi pertumbuhan kredit saya kira akan mengikuti pertumbuhan ekonomi yg melambat. Pertengahan tahun bank-bank akan melakukan revisi RBB. Angkanya nanti menunggu revisi RBB,” jelas Halim di Jakarta, Jumat (5/6).

Pembahasan revisi proyeksi pertumbuhan kredit akan dilakukan bank sentral pada akhir Juni nanti, setelah menerima seluruh revisi yg dilakukan perbankan dalam RBB 2015. Dalam rangka memitigasi perlambatan pertumbuhan kredit tersebut, Bank Indonesia melakukan beberapa relaksasi ketentuan makro prudensial, diantaranya adalah pelonggaran loan to value (LTV) untuk kredit properti dan kredit kendaraan bermotor (KKB).

Relaksasi tersebut, kata Halim, bertujuan untuk mendorong industri perbankan agar lebih tertarik untuk menyalurkan kredit. Halim bilang, pelonggaran kebijakan uang muka rumah dan KKB ini akan mampu mendorong pertumbuhan kredit menjadi lebih tinggi lagi.

“Relaksasi LTV bertujuan agar kredit properti dan lainnya dapat tumbuh lebih tinggi lagi. Kami juga memantau sektor-sektor kredit mana yg dapat didorong, karena kalau cuma kebijakan moneter sendirian tentu tak mampu,” ujar Halim.

Oleh karena itu, bank sentral Indonesia berharap agar pemerintah bisa sesegera mungkin melaksanakan rencana-rencana dan program-program yg penting, terutama pembangunan proyek infrastruktur. “kami juga berharap nanti ekonomi dunia di semester II dapat lebih baik, sehingga harga-harga komoditas tak turun terus sehingga dapat menolong peningkatan ekspor,” kata Halim.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.