Manfaatkan kain sisa sebagai bahan produksi (2)

Thursday, October 27th 2016. | Peluang Usaha

BANDUNG. Sentra produksi baju anak yg terletak di Gang Pesantren, Jalan Pagarsih, Bandung telah cukup terkenal dgn harga jualnya yg miring. Sebab bahan baku kain diambil langsung dari pabrik garmen. Sebagian besar pembuat mengambil kain-kain sisa produksi dari pabrik garmen secara cuma-cuma. Itu sebabnya, harga jual pakaian anak di tempat ini dapat lebih murah dari tempat lain. Tapi ada juga pembuat yg lebih banyak membeli kain dari agen. 

Tempat sentra ini berada di gang sempit dan menyatu dgn rumah tempat tinggal warga. Sebab, para pembuat menggunakan rumahnya sebagai tempat produksi. Lantaran berada di gang, tempat ini cukup dapat dilalui oleh motor, sehingga pengunjung yg datang menggunakan mobil harus parkir di tempat lain dan berjalan untuk sampai sentra ini.

Irvan Mauludin, pemilik Toko Irvin Collection bercerita, untuk kegiatan produksi dia sebagian besar menggunakan bahan baku limbah kain dari pabrik garmen. Dia mengumpulkan sendiri dgn cuma-cuma ketika ada orderan datang. 

Dia mengatakan orderan yg datang tak menentu tiap harinya, namun lumayan stabil dan cenderung tak turun. Itu sebabnya Irvan tak ingin pindah atau membuka usaha baju anak di tempat lain. Dia sejatinya melanjutkan usaha sang ayah yg telah berjalan semenjak tahun 1991. Dia mulai mengambil alih kegiatan produksi di tahun 2013 silam.

Lantaran bahan baku kain dia dapatkan dgn cuma-cuma, ongkos produksi jadi lumayan murah. Dia cukup harus mengeluarkan biaya gaji pegawai dan biaya pembelian benang jahit. Di rumahnya, Irvan memiliki mesin jahit dan mesin sablon sendiri.

Dia dibantu tiga karyawan. Dua orang bertugas memotong kain dan menjahit, satu orang sisanya bertugas menyablon pakaian. “Saya memberdayakan saudara sendiri untuk membantu produksi,” katanya.

Namun Epi, pembuat baju anak lainnya merasakan penurunan permintaan semenjak pertengahan tahun lalu. Meski tak mengetahui penyebabnya, dia mengatakan tahun ini menjadi tahun yg paling sunyi pembeli dibanding tahun-tahun sebelumnya. Rata-rata dia cuma dapat meraup keuntungan sekitar Rp 5 juta per bulan.

Usaha Epi dapat sedikit terdongkrak ketika menjelang Lebaran. Para momen tersebut biasanya permintaan meningkat. “Saya dapat bisa keuntungan sampai Rp 60 juta,” ujarnya.

Adapun Encep, penjual grosir baju anak di Toko Mentari, tak menggunakan kain limbah untuk produksi. Dia lebih banyak membeli kain ke agen jika ada permintaan. Lantaran menjual dgn sistem grosir, dia mematok pembelian minimal sebanyak 10 potong baju. Untuk mempermudah, dia telah membungkus pakaian anak dalam satu kantung berisi 10 potong pakaian. (Bersambung)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.