Mantan pelaut yang sukses mendayung lampu benang

Friday, September 21st 2018. | Peluang Usaha

JAKARTA. Hobi travelling dapat memberi banyak inspirasi, termasuk ide bisnis. Seperti Guntoro Rusli, seorang perajin lampu karakter asal Surabaya, Jawa Timur ini yg sukses menjadi perajin lampu karakter benang yg dapat menjual sampai 2.000 unit per bulan.

Guntoro memulai usaha ini sebab sering mengumpulkan suvenir setiap kali ia berkunjung ke suatu tempat baik di dalam maupun di luar negeri. Sebelum memulai karir sebagai perajin lampu, Guntoro adalah seorang pelaut yg banyak menghabiskan waktu di luar negeri. “Ide membuat lampu datang saya berkunjung ke Amerika Serikat dan Thailand. Mereka menjual berbagai aneka lampu dan saya dan istri memutuskan mencoba produksi,” kata Guntoro.

Usaha ini dia dirikan dgn nama Light Craft Indonesia di tahun 2009. Sejak Februari 2011, usahanya resmi berbadan hukum dgn nama CV Multicraft Indonesia. “Ini untuk mempermudah mengurus surat-surat perizinan dagang untuk ekspor,” kata dia.

Yenny Wibowo, istrinya yg berprofesi sebagai desainer interior dan event organizer kebetulan memiliki jaringan cukup luas. Ini membuat produknya dgn mudah dikenal. Sekarang pemasarannya tak cukup di kota-kota besar di Indonesia tapi juga sampai ke Malaysia, Singapura, bahkan Italia.

Light Craft pada mulanya khusus membuat lampu-lampu dgn berbagai model dari benang dan rotan. Benang yg digunakan adalah benang polyester dan irisan rotan isi. Saat ini, selain memproduksi lampu unik dari benang, Guntoro juga membuat suvenir. Kapasitas produksi lampu 2.000 unit per bulan, sedangkan suvenir dapat sampai 5.000 unit per bulan.

Pria lulusan sarjana perhotelan dari Universitas Kristen Petra Surabaya ini mengatakan tak pernah mengikuti pelatihan untuk membuat produk kerajinannya, namun cukup otodidak.

Khusus untuk produksi kap lampu, Guntoro menggunakan alat tenun yg mengharuskan memakai selusin roll benang untuk tiap warna. Untuk satu jenis lampu karakter memerlukan empat sampai 10 warna benang. Jadi dalam prosesnya dapat membutuhkan 48 roll sampai 120 roll benang untuk produksi per karakter. Prosesnya terdiri dari penenunan benang, pengeringan lem, dekorasi, serta finishing. “Bagian tersulit bukanlah membuat bola benang, tapi menciptakan desain dan dekorasi, ” ujar Guntoro.

Proses desain Light Craft dilakukan oleh staff desain di luar waktu produksi. Sebab memerlukan waktu berminggu-minggu untuk menciptakan setiap prototipe produk yg bagus dan berkualitas.

Rata-rata harga lampu Light Craft di kisaran Rp 35.000 per unit untuk jenis lampu hias string light sampai Rp 1,2 juta per unit untuk jenis lampu shade ukuran 100 cm. Produk yg paling banyak diminati sampai sekarang adalah jenis cotton ball light seharga Rp 125.000 per unit.

Dengan kapasitas total sampai 10.000 unit per bulan, Guntoro bisa mengantongi keuntungan sampai Rp 300 juta per bulan.Kendala utama dalam usaha ini adalah sulitnya mencari SDM yg kreatif dan cekatan. Selain itu pengadaan bahan baku terutama lampu cukup sulit karena lampu yg sesuai dgn spesifikasi produknya masih harus diimpor.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.