Oleh-oleh coklat khas daerah menggeliat harum

Wednesday, June 6th 2018. | Peluang Usaha

JAKARTA. Cokelat telah biasa menjadi oleh-oleh mereka yg berlibur atau bertugas dari luar negeri. Kini, beberapa pembuat cokelat lokal juga ingin menjadikannya oleh-oleh khas daerah. 

Di beberapa kota, ada cokelat lokal yg telah populer. Di Yogyakarta, misalnya, ada Cokelat Monggo, di Bandung dan Garut terkenal dgn Chocodot, di Makassar ada Cokelat Makalate, dan Lampung ada Kakoa. 

Sebagai pembeda, cokelat lokal ini juga menjual inovasi dgn meramu cokelat dgn aneka rempah dan buah lokal. Cokelat Monggo dan Kakoa mengisi cokelat dgn jahe, mete, pala, mangga, dan durian. 

Bahkan, Cokelat Monggo baru saja mengeluarkan cokelat rasa rendang. “Kami mengadaptasi rasa lokal,” kata Thierry Detournay, pendiri Cokelat Monggo. 

Total Jenderal, Cokelat Monggo punya 20 varian rasa, Selain rasa, kemasan juga dibuat berbeda. Kakoa, misalnya, mengemas cokelat dgn kemasan motif batik.

Pembelian 6 varian rasa lengkap dapat dimasukkan dalam boks bertali nan unik. “Kami berencana menggunakan zip bags yg sangat cocok dgn produk ini,” ujar Sabrina Mustopo, Pendiri Kakoa. Selain dijual di kota asal, cokelat lokal ini juga berusaha memperbesar pasar dgn membuat jaringan reseller dan masuk ke ritel modern. 

Cokelat Makalete sekarang ini dari Makassar telah menyebar ke Padang, Palembang, Bandung, Kebumen, Yogyakarta, Surabaya, Lampung, Samarinda, dan Gorontalo.

“Tidak ada ongkos kirim untuk minimal pembelian 10 batang cokelat,” tutur Irwan Miri, Pemilik Cokelat Makalate. Chocodot dari Garut telah merambah ke Bali dan Yogyakarta. Cokelat Monggo malah telah masuk ke pelbagai hotel dan cafe, seperti Ritz Carlton, JW Marriot, The Phoenix, K&S Grill, Zango, Mediterrania, Indische, Via-Via Cafe, Kamuela dan Dijon. 

Yuswohadi, Pengamat Pemasaran menyarankan pembuat jangan bernafsu memperluas pemasaran ke banyak daerah. “Hal ini justru membuat nilai limited produk tersebut tak lagi tinggi,” ujarnya. 

Pieter Jasman, Ketua Umum Asosiasi Industri Kakao Indonesia (AIKI) berharap fenomena ini mendorong konsumsi cokelat dalam negeri naik jadi 1 kg/ kapita/ tahun dari sekarang 0,8 kg. “Serapan lokal dapat lebih dari 20% produksi,” katanya. 

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.