Menyisakan isi kocek untuk bekal anak kelak

Friday, June 1st 2018. | Personal Finance

Sebagian orang menganggap, peribahasa “Harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama” belum cukup menjadi pedoman hidup. Selain nama baik untuk dikenang, orang ingin meninggalkan wa-risan berharga bagi buah hati kelak ketika ia meninggal.

Maklum, setiap orang menginginkan yg terbaik bagi generasi penerusnya. Begitu juga, setiap orang ingin anak-anaknya dapat bahagia dan sejahtera   alih-alih mengalami kesulitan keuangan di masa depan.  

Meski begitu, mewariskan harta kekayaan sebetulnya tak selalu menjadi kewajiban. Budi Raharjo, perencana keuangan dari One Shildt Consulting, mengatakan, mewariskan harta kekayaan kepada anak dapat wajib dapat juga tak. Bagi mereka yg menjadi tulang punggung keluarga, menyiapkan warisan tentu menjadi urusan wajib. Namun, jika anak-anak Anda telah hidup mandiri dan tak lagi tergantung kepada Anda, meninggalkan warisan bukanlah sebuah kewajiban.

Meski tak selalu menjadi kewajiban, sebagian orang tetap merasa wajib memberikan harta warisan kepada anaknya kelak ketika ia meninggal dunia. Masalahnya, tak setiap orang memiliki harta berlimpah yg dapat diwariskan kepada generasi penerus. Alih-alih menumpuk harta warisan, keuangan keluarga dalam kondisi pas-pasan untuk biaya hidup. Kalau telah begitu, mewariskan harta kekayaan sepertinya cukup menjadi niat nan mulia.

Memupuk harta
Tenang, meski kondisi keuangan terbatas, bukan berarti Anda tak dapat mewujudkan niat memberikan harta warisan kepada keturunan. Namun, upaya ini tergantung dari seberapa besar niat Anda.

Yang jelas, untuk memupuk harta warisan, Anda harus siap menyisihkan anggaran setiap bulan meski kondisi keuangan mepet. Pastikan anggaran darurat, yaitu anggaran pendidikan anak, dan anggaran untuk biaya hidup, telah terpenuhi terlebih dahulu.

Asuransi jiwa
Dana yg Anda sisihkan setiap bulan dapat digunakan untuk membeli asuransi jiwa. Sari Insaniwati, perencana keuangan Mitra Rencana Edukasi, mengatakan, asuransi merupakan instrumen paling ringan untuk memupuk harta warisan. Dengan anggaran terbatas, Anda dapat memilih besaran premi yg terjangkau.

Idealnya, Sari mengatakan, porsi anggaran untuk premi asuransi sebesar 10%–15% dari total pendapatan setiap bulan. Nah,  uang pertanggungan asuransi jiwa itu kelak dapat dinikmati ahli waris sebagai biaya hidup ataupun sebagai harta warisan.

Properti
Selain asuransi, properti merupakan instrumen favorit memupuk harta warisan yg tak memberatkan. Jika masih memiliki sisa anggaran, tak ada salahnya Anda membeli rumah melalui kredit pemilikan rumah (KPR).  Sari menyarankan, cicilan KPR sebaiknya tak lebih 25% dari total pendapatan.

Selain menjadi keperluan primer sebagai tempat tinggal, rumah dapat menjadi harta warisan bagi anak cucu. Keuntungan lain, program KPR biasanya dibundel dgn asuransi jiwa. Sehingga, jika tulang punggung keluarga meninggal dunia, keluarga yg ditinggalkan tak memperoleh beban utang KPR. “Rumah otomatis menjadi milik ahli waris,” kata Budi.

Selain itu, jika Anda memiliki anggaran berlebih, tak ada salahnya membeli tanah berharga murah. Tanah dapat menjadi harta warisan bagi anak cucu. Apalagi, sebab harga tanah terus naik, nilai harta warisan pun akan semakin besar.

Investasi di pasar modal
Dari total pendapatan, Sari menyarankan, sebesar 60% biasanya digunakan untuk membiayai keperluan hidup. Lalu, sebesar 20% pendapatan digunakan untuk membayar cicilan KPR dan sebesar 10% untuk membayar premi asuransi. Nah, 10% sisanya sebaiknya mulai dialokasikan untuk membeli produk-produk investasi di pasar modal sebagai instrumen membiakkan harta warisan.

Sari menyarankan, Anda dapat masuk ke investasi saham ataupun reksadana. Yang jelas, investasi di pasar modal merupakan investasi jangka panjang. Anda juga tak perlu mengkhawatirkan keterbatasan anggaran. Sebab, anggaran investasi di pasar modal dapat dalam jumlah mini. Investasi di reksadana, contohnya, bisa dilakukan cukup dgn Rp 100.000 per bulan.

Menabung emas
Emas, baik berupa perhiasan maupun logam mulia, telah menjadi instrumen harta waris-an semenjak zaman baheula. Nah,  Anda dapat juga mulai menabung emas untuk memupuk harta warisan.

Dengan anggaran terbatas, Sari mengatakan, Anda dapat mulai menabung emas sedikit demi sedikit mulai dari 1 gram. Jika ada anggaran lebih, Anda pun bisa menambah tabungan emas. Meski harganya berfluktuasi, emas merupakan instrumen yg tahan terhadap inflasi. Dalam jangka panjang, emas dapat menjadi warisan berharga bagi keluarga.

Yang menarik, Sari menambahkan, warisan dalam model emas tak terkena pajak. Meski begitu, perencana keuangan dari Zeus Consulting Achmad Gozhali, mengingatkan, memupuk harta warisan dalam model emas sebaiknya dilakukan saat ada anggaran lebih. Pasalnya, selain harganya fluktuatif, emas tak likuid.

Mewariskan bisnis
Di tengah kondisi keuangan nan mepet, bisnis sampingan dapat menjadi jalan keluar menambah penghasilan. Nah, bisnis yg Anda bangun juga bisa menjadi sarana memupuh harta warisan. Selain itu, bisnis tersebut sekaligus dapat diwariskan kepada keluarga.

Namun, Sari mengingatkan, selain mewariskan bisnis, Anda sebaiknya juga meninggalkan anggaran cadangan bagi anggota keluarga. Setidaknya, anggaran cadangan tersebut sebesar biaya hidup satu tahun seluruh keluarga plus biaya pendidikan anak. Dana cadangan ini akan memberikan rasa nyaman bagi keluarga selama masa penyesuaian dalam menjalankan bisnis yg Anda tinggalkan.

Jika aneka cara di atas masih dirasa memberatkan karena kondisi keuangan yg pas-pasan, Anda tak perlu memaksakan diri. Memupuk harta warisan dapat dilakukan setelah anggaran mencukupi. Maklum, tak ada patokan waktu yg pasti untuk memupuk harta warisan.

Yang jelas, lanjut Budi, memberikan warisan jangan sampai menjadi beban. Sebab, sifat harta warisan sebetulnya sisa. Jika ada sisa, barulah sisa anggaran tersebut menjadi harta warisan. Namun, jika masih ada keperluan lain seperti anggaran pendidikan anak, anggaran warisan tentu bukan prioritas.

Jadi, bijaklah untuk memupuk harta warisan. Jangan sampai nama menjadi belang cukup gara-gara menumpuk harta untuk diwariskan.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.