Kebijakan GWM-LDR belum akan berdampak signifikan

Thursday, December 3rd 2015. | Keuangan

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) segera merampungkan aturan kebijakan makroprudensial terbaru bagi perbankan. Bank sentral pada Juni mendatang akan merilis aturan mengenai perluasan cakupan definisi simpanan dgn memasukkan surat-surat berharga yg diterbitkan bank dalam perhitungan rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) dalam kebijakan GWM-LDR.

Relaksasi LDR yg turut memperhitungkan surat-surat berharga yg diterbitkan oleh perbankan akan masuk pada konsep Liquidity Funding Ratio (LFR) dan akan menggantikan LDR. Dengan definisi LDR yg baru ini, bank-bank yg telah memenuhi persyaratan untuk memberikan kredit kepada sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) sampai dgn tahun ini lebih besar daripada yg ditentukan yaitu 5%, akan mendapatkan kelonggaran berupa ekspansi kredit sampai 94%.

Relaksasi GWM-LDR dgn hitungan LFR ini dilakukan dalam rangka momentum menjaga pertumbuhan ekonomi. Selain itu, insentif berupa pelonggaran ekspansi kredit mencapai 94% itu dilakukan untuk mendorong peningakatan dan pertumbuhan kredit sektor UMKM. Selain itu, bank sentral memberikan persyaratan tambahan. Ekspansi kredit bank boleh mencapai 94%, asalkan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) dari bank tersebut baik secara gross maupun juga NPL kredit sektor UMKM, tak boleh melebihi 5%.

Perbankan menyambut baik definisi perluasan LFR ini. Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI), Haru Koesmahargyo menuturkan, tujuan akhir dari relaksasi ini adalah ekonomi bisa bergerak dan bertumbuh. Dengan relaksasi ini maka bank akan memiliki kelonggaran sehingga memiliki kemampuan untuk menambah kemampuan penyaluran kredit lebih banyak.

Meski begitu, kata Haru, yg harus diperhatikan oleh regulator adalah pemberian insentif bagi nasabah kredit sektor UMKM. Dengan pemberian insentif kepada debitur UMKM, maka akan ada pelonggaran dari sisi nasabah pula. Sehingga, peningkatan pertumbuhan kredit sektor UMKM lebih dapat cepat terealisasi.

“Peningkatan permintaan dan pertumbuhan kredit sektor UMKM tak signifikan. Insentif buat bank adalah membantu dari sisi bank. Tapi sekali lagi, permintaan kredit dari debitur turun. Sehingga dampaknya tak akan signifikan,” jelas Haru.

Haru menyebutkan, sampai dgn Mei ini, pertumbuhan kredit secara keseluruhan melambat. Meski begitu, perlambatan kredit mikro relatif lebih rendah dibanding dgn perlambatan kredit lainnya. Lebih lanjut Haru mengungkapkan, pertumbuhan kredit segmen menengah di BRI merupakan kredit yg tumbuhnya paling melambat.

Search terms:

bokep indo anak sd,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.