Sukini setia menelisik rezeki keripik

Thursday, July 6th 2017. | Peluang Usaha

Sukini tak pernah menyangka, usaha kecil-kecilan yg dimulainya 19 tahun lalu dapat berkembang seperti sekarang. Dulu niatnya cukup menambah penghasilan keluarga. Kini, usaha keripik tempe yg ia beri nama Suka Nicky jadi pemasukan utama keluarga asal Desa Gumiwang, Kecamatan Purwonegoro, Banjarnegara, Jawa Tengah ini.

Setelah menikah dgn Siswanto pada 1988, Sukini dikaruniai dua orang putra. Saat itu, suaminya masih jadi pekerja lepas untuk proyek tambang dgn penghasilan tak menentu. Lantaran keperluan rumah tangga semakin meningkat, Sukini merasa bertanggung jawab untuk membantu suami. “Saya cukup tamatan SMA, jadi rasanya tak dapat bekerja dgn orang lain,” ujarnya.

Pada 1996, Sukini pun memulai dari hal yg ia lakukan sehari-hari, yakni memasak, walaupun ia mengatakan tak terlalu jago masak. Niatnya cukup mendukung suami memenuhi keperluan keluarga.

Bermodalkan tiga tandan pisang seharga Rp 10.000, Sukini mengolahnya jadi keripik pisang. Setelah dibungkus secara sederhana, keripik pisang itu dibawanya ke pasar dan dititipkan pada toko. Sukini bercerita, dari hasil penjualan pertama, ia meraup untung Rp 13.000.

Usaha kecil itu pun terus dilakoninya. Akan tetapi, lama-kelamaan, ia kesulitan mendapatkan bahan baku pisang untuk diolah. Pasalnya, pisang tergolong buah musiman. Ketika musim kemarau, bahan baku langka dan mahal harganya.

Sekitar tahun 2000-an, Sukini pun beralih memasarkan produk keripik tempe. “Saya ingin punya produk yg bahan bakunya mudah didapat alias ada terus,” kata dia.

Awalnya, Sukini menggunakan tepung beras untuk menggoreng tempe. Produknya ia beri nama Aneka Rasa. Namun, merek usaha ini ia ganti menjadi Suka Nicky supaya lebih menarik dan gampang diingat. “Biar konsumen suka dgn keripik buatan saya, bukan keripik yg lain,” kelakar dia.

Tak seperti usaha keripik tempe lain, Sukini cukup memasarkan satu varian keripik Suka Nicky. Sukini bilang, ia pernah coba membuat keripik tempe rasa pedas, gurih, dan manis. Ternyata, produk itu kurang laku di pasaran. Masyarakat lebih suka dgn keripik tempe dgn rasa orisinal.

Penjualan keripik tempe Suka Nicky pun semakin berkembang. Dahulu, Sukini harus menjual produknya dari satu toko ke toko lain. Sementara sekarang ini, ia tak perlu repot-repot mendatangi pembeli. Justru, pembeli yg mendatangi dapur produksinya.

Cara ini dianggap Sukini lebih efisien. Dus, ia dapat fokus memikirkan produksi. Walaupun tak lagi turun tangan membuat keripik tempe, Sukini tiap hari berada di dapur produksi untuk mengontrol kualitas produknya. Ia membanderol keripik tempe Suka Nicky seharga Rp  25.000 –Rp 35.000 per kilogram. Saat ini, kapasitas produksinya mencapai ratusan kilogram sehari.

Rajin turut pelatihan

Sukini mengatakan, usahanya dapat bertahan lama karena ia menjaga kualitas produk. Walaupun ia membuat keripik tempe di dapur yg cukup berukuran 70 m2, Sukini selalu menekankan kebersihan dan kerapian dapurnya. “Jangan sampai meracuni konsumen karena produk tak bagus,” tegas perempuan kelahiran 4 Juni 1968 ini. Dengan kualitas terjaga, ia percaya, konsumen akan terus membeli produknya.

Sukini mengatakan, seorang pengusaha harus tahu cara membuat konsumen betah. Dus, ia selalu menjaga komunikasi dgn pembeli yg datang ke dapur produksinya. Ia tak sungkan menunjukkan cara pembuatan keripik tempe Suka Nicky agar konsumen percaya akan kualitasnya.

Di samping itu, yg membuat usahanya dapat berkembang sampai sekarang ialah karena ia rajin mengikuti pelatihan yg diadakan oleh dinas setempat. Melalui pelatihan, ia belajar banyak hal dari sesama pengusaha maupun profesional di bidang bisnis.

Pada tahun 2000, Dinas Pertanian Banjarnegara menyambangi dapur produksi Sukini. “Orang dinas menawarkan untuk membina saya dgn usaha keripik. Dari situ, saya dikenalkan oleh dinas lain,” cetus Sukini.

Berbagai pelatihan kerap diikuti oleh Sukini, terutama pelatihan untuk pengolahan hasil pertanian. Sukini menuturkan, dari pelatihan itu, ia memiliki jaringan perkenalan yg luas. Misalkan saja, ia mengikuti pelatihan di luar Banjarnegara. Kesempatan ini, ia gunakan untuk mengembangkan pasar.

Kesempatan pelatihan memang tak meningkatkan penjualan secara langsung. Akan tetapi, Sukini mengakui pelatihan dari dinas setempat membuat pasarnya semakin luas. Saat ini, keripik tempe Suka Nicky tak cukup dipasarkan di Banjarnegara. Produk Sukini telah meluas ke daerah lain, seperti Purbolinggo, Purwokerto, Semarang sampai Jakarta.

Berkat pelatihan yg ia ikuti, Sukini pun melakukan terobosan dalam usahanya. Sejak tahun 2004, Sukini tak lagi menggunakan tepung beras dan tapioka untuk membuat keripik tempe. Ia menggantinya dgn tepung mocaf yg berasal dari singkong.

Sukini pernah diikutkan pelatihan pengolahan pangan non-beras yg memperkenalkannya dgn tepung mocaf. Ketika pulang ke rumah, ia coba menggoreng keripik tempe dgn tepung mocaf. Tak disangka, hasilnya, keripik jadi lebih renyah dan proses menggoreng pun jadi lebih gampang. Selain itu, tepung mocaf relatif lebih murah dibandingkan tepung lainnya. “Ongkos produksi lebih hemat, tapi kualitas produksi lebih bagus,” tuturnya.

Terobosan yg dilakukan Sukini mengantarkannya mendapat penghargaan dalam Pameran Pangan Nusa (PPN) dan Pameran Produk Dalam Negeri (PPDN) 2014 untuk kategori makanan ringan. “Pemerintah menghargai UKM yg menggunakan tepung mocaf karena masih sedikit yg mau beralih,” ucap Sukini.    

Search terms:

nama untuk merk keripik tempe,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.