BCA optimis KPR kuartal II akan meningkat

Wednesday, May 9th 2018. | Keuangan

JAKARTA. Bank Indonesia (BI) dalam Survei Harga Properti Residensial mencatat pertumbuhan Kredit Pemilikan Rumah (KPR) pada triwulan pertama sebesar 0,12% secara kuartalan (qtq) atau mencapai Rp 317,8 triliun. Angka itu lebih rendah dibandingkan dgn kuartal sebelumnya yg tercatat 2,56%.

Perlambatan tersebut dipicu oleh melambatnya pertumbuhan penjualan properti residensial. Perlambatan pertumbuhan penjualan properti residensial tercermin dari menurunnya angka pertumbuhan penyaluran kredit perbankan pada sektor properti.

Bank Central Asia (BCA) memproyeksikan kuartal II-2015, pertumbuhan penyaluran KPR pada kuartal II-2015 akan tumbuh 15% dibandingkan dgn kuartal T-2015. Direktur Konsumer BCA, Henry Koenafi menuturkan, optimisme ini sebab perseroan memberikan program paket Ulang Tahun perseroan.

Pada program paket Ulang Tahun BCA ini, perseroan menawarkan suku kembang fix sebesar 8,88% dan campuran 9,99%. “Dengan program ini maka pada kuartal II-2015, KPR akan lebih jalan daripada kuartal T-2015,” ujar Henry kepada KONTAN, Minggu (17/5).

Menurut Henry, relaksasi aturan loan to value (LTV) yg tengah dikaji Otoritas Jasa Keuangan (OJK) akan sangat membantu mendorong pertumbuhan KPR. Meski begitu, relaksasi itu tak akan berdampak signifikan pada pertumbuhan KPR industri perbankan.

“Karena aturan LTV itu lebih berpengaruh ke pasar KPR melalui developer dan porsi itu tak besar bagi overall keseluruhan KPR BCA,” jelas Henry.

Catatan saja, BI melalui survei yg dilakukan di 16 kota pada kuartal pertama 2015 tercatat, indek harga properti berada  di level 184,25, atau tumbuh 1,44% secara kuartalan atau tumbuh 6,27% secara tahunan (yoy).

Angka itu masih lebih rendah jika dibandingkan pertumbuhan pada kuartal empat 2014 yg tumbuh 1,54% secara kuartalan atau 6,29% secara tahunan (yoy). Perlambatan kinerja properti tercermin dari melambatnya pertumbuhan penjualan properti residensial pada triwulan T-2015 menjadi 26,62% secara kuartalan (qtq), dari 40,07% (qtq) pada triwulan sebelumnya.

Perlambatan penjualan terutama terjadi pada rumah tipe menengah. Perkembangan ini sejalan dgn melambatnya pertumbuhan KPR. Penyebab lesunya penjualan properti diantaranya adalah kenaikan harga bangunan (30,99%), upah pekerja (24,13) dan kenaikan harga bahan bakar minyak (23,67%).

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.