Buah manis Tsummadana dari tugas semasa kuliah

Wednesday, May 2nd 2018. | Peluang Usaha

Apa yg Anda lakukan bila merasa salah jurusan ketika kuliah? Berhenti kuliah atau sekadar lulus karena terlanjur memulai? Pengalaman Tsummadana Wulan Setyoningrum dapat jadi contoh positif bagi anak muda. Sejatinya, perempuan yg akrab disapa Wulan ini bercita-cita jadi dokter. Lantaran terhambat biaya kuliah, dia mengambil jurusan Teknik Informatika di Universitas Dian Nuswantoro (Udinus), Semarang.

Meski mengatakan kecewa, Wulan tak lantas berhenti kuliah. Justru sebagai model pengabdian pada orangtua, ia menyelesaikan kuliah dgn prestasi cumlaude. Menurut Wulan, ia terselamatkan oleh mata kuliah Kewirausahaan. Saat itu, dosennya memberi tugas merintis usaha tanpa modal.

Tugas itu membuat semangat kuliahnya membuncah. “Karena saya dapat jualan, jadi itu yg saya pilih,” kata dia. Wulan pun mulai menjual baju muslimah.

Awalnya pada 2009, Wulan menjual baju bekas layak pakai miliknya di pasar. Melihat barangnya laku, ia kian semangat menjual baju muslim. Ia pun bekerjasama dgn tiga merek baju muslim. “Saya buka sistem pre-order. Pembeli membayar uang muka sehingga saya tak perlu modal ketika memesan baju,” ujarnya.

Di samping itu, Wulan pernah bergabung dalam bisnis multilevel marketing (MLM) baju muslimah di Semarang selama dua tahun. Wulan mengatakan mendapat banyak pelajaran bisnis dari MLM tersebut. “Apa yg saya dapatkan selama MLM saya terapkan di bisnis sendiri,” ungkap dia.

Lantaran kebanjiran permintaan, Wulan akhirnya turut memproduksi baju muslim sendiri dgn merek Miulan Hijab. Pasalnya, pemasok yg bekerjasama dengannya tak sanggup lagi memenuhi permintaan tersebut. “Saya melihat itu sebagai peluang karena supplier telah angkat tangan,” cetusnya.

Selain itu, Wulan ingin menciptakan lapangan kerja untuk anak muda yg tinggal dekat rumahnya, wilayah Ngemplak, Simongan, Semarang. Untuk memenuhi permintaan, ia tetap bekerjasama dgn pemasok. Waktu itu, omzetnya sekitar Rp 20 juta per bulan.

Kini, Wulan memproduksi berbagai baju muslim, terutama kerudung dan gamis. Harga produknya berkisar dari Rp 40.000–Rp 400.000 per potong. Saban bulan, perempuan kelahiran Semarang, 23 Desember 1990, ini dapat memproduksi lebih dari 10.000 potong kerudung dan 2.000 gamis.

Tak berhenti pada baju muslim, semenjak tahun lalu, Wulan mulai membuat boneka muslimah. Boneka ini ia banderol seharga Rp 95.000–Rp 155.000 per buah.  Meski tergolong produk baru, ia dapat menjual sampai 1.000 boneka per bulan.

Berdayakan masyarakat

Sejak awal memasarkan produk Miulan Hijab, Wulan menggunakan sistem reseller. Ia belajar dari bisnis MLM yg sempat ia ikuti. Namun, ia menolak usahanya sebagai usaha MLM. “Saya mendorong distributor untuk berjualan, bukan sekadar cari agen sebagai downline,” tegasnya.

Untuk tiap kota, ia cukup membolehkan seorang distributor untuk menghindari persaingan tak sehat. Ia juga menekankan agar distributor tak berlaku nakal dgn banting harga. Bagi distributor, ia menetapkan potongan harga 30%. Sementara itu, diskon produk untuk agen ditentukan oleh distributor. Wulan juga memberi target penjualan pada masing-masing distributor.

Wulan menyadari bahwa penjualan baju muslim di dalam negeri bersaing ketat. Di situlah, dia menekankan pentingnya inovasi dan branding. Tiap bulan, ia menelurkan desain model baju muslim terbaru.

Karena tak punya background desainer, Wulan rajin melihat referensi desain baju muslim di internet. Awalnya, ia mempercayakan desain pada ibunya yg memang hobi menjahit. Sekarang, ia telah punya tim desain yg dipercayai untuk memperbaharui model produk Miulan Hijab. Akan tetapi, sentuhan akhir, terutama pada bagian warna, tetap berada di tangan Wulan.

Wulan cenderung memilih warna cerah untuk produk Miulan Hijab. Ini disesuaikan dgn target pasarnya, yakni perempuan mulai 17 tahun sampai ibu muda berusia 35 tahun. “Warna cerah menunjukkan bahwa konsumen Miulan Hijab adalah orang-orang yg penuh semangat,” tutur sulung dari empat bersaudara ini.

Sampai sekarang ini, Wulan mengatakan masih kesulitan memenuhi permintaan pasar. Dari pengalaman, Wulan bilang, usaha baju muslim dapat naik sampai tiga kali lipat saban tahun. Apalagi menjelang Lebaran, permintaan sangat banyak. Dia pun menggaet mitra usaha yg dapat mendukung bagian produksi. “Saya tak dapat bikin stok karena produk Miulan selalu habis, jadi mau tak mau harus kerjasama dgn orang lain,” kata perempuan yg kini mempekerjakan 32 karyawan ini.  

Untuk mengatasi kewalahan dalam bidang produksi, Wulan punya strategi jitu. Ia sempat curhat pada ibunya mengenai kendala tersebut. Lalu sang ibu menyarankan agar Wulan minta bantuan ibu rumahtangga.

Mulai tahun lalu, ia memberdayakan ibu rumahtangga yg tinggal di sekitar rumahnya. Para ibu rumahtangga tersebut bertugas untuk membuat aksesori yg akan ditempelkan di baju. “Saya memberi bahan dan alat untuk membuat hiasan kembang, lalu mereka kerjakan di rumah,” jelasnya.

Saat ini, ada sekitar 40 ibu rumahtangga yg diberdayakan oleh Wulan. Dalam sehari, ibu rumahtangga itu dapat memperoleh penghasilan sekitar Rp 30.000–Rp 40.000 dgn membuat aksesori kerudung.

Berkat kegigihannya dalam usaha, Wulan mendapat penghargaan wirausaha dari sebuah bank untuk kategori bidang usaha kreatif. Di masa mendatang, Wulan berharap produknya dapat dipakai sampai luar negeri. “Saya juga berharap anak muda tak menyia-nyiakan waktu tak jelas, tapi berkar-ya sehingga semakin banyak produk Indonesia dapat go international, “ ujar Wulan.    

 

Diminta menjadi PNS

Sudah lima tahun lebih Tsummadana Wulan Setyoningrum malang melintang menjadi pengusaha baju muslimah. Ternyata, kesuksesannya tak mengubah pendirian orangtua yg menginginkan Wulan jadi pegawai negeri sipil.

Wulan bercerita, semenjak lama orangtuanya, Supartono dan Mustami, berharap ia menjadi pegawai negeri sipil (PNS) seusai mendapat gelar sarjana. Namun, karena merasa asyik jadi jadi pengusaha, Wulan mencari dalih. “Saya bilang mau melanjutkan kuliah, setelah itu baru jadi PNS,” ucap perempuan berusia 24 tahun ini.

Wulan memahami keinginan orangtuanya tersebut. Sebagai orangtua, mereka melihat, pengusaha merupakan pekerjaan yg kurang jelas karena pendapatan kerap tak menentu.

 Di sisi lain, Wulan merasa bertanggung jawab terhadap karyawan dan orang-orang yg menjadi distributor dan reseller Miulan Hijab. “Kalau saya berhenti, mereka jadi terhenti juga usahanya. Saya tak mau itu,” ungkap dia.

Maka, setelah tamat kuliah dari Udinus, ia melanjutkan ke jenjang pendidikan Magister Manajemen di Universitas Diponegoro. Wulan ingin memantapkan pengetahuannya dalam bisnis. Ia juga bersyukur ada moratorium penerimaan PNS. Sebab, itu berarti, ia dapat melanjutkan passion­-nya sebagai wirausahawan.

Produk baru

Tahun ini, ia akan berekspansi dgn membangun gudang dan outlet Miulan Hijab. Selanjutnya, Wulan juga mempersiapkan beberapa produk baru, seperti baju renang muslimah dan baju muslim pria.  

Wulan menambahkan, untuk berusaha, modal bukanlah persoalan utama. Bila tak punya modal, kreatiflah dalam merintis usaha, misalnya dgn menjual produk orang lain. “Usaha itu ada prosesnya, jadi jalani saja dulu dari yg paling kecil dan terus berinovasi agar usaha terus berkembang,” ucap dia.                               

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.