Agar dompet tak bolong setelah menikah

Saturday, April 14th 2018. | Personal Finance

Felicia dan Dion sejatinya telah lama mempersiapkan anggaran untuk melangsungkan pernikahan. Bahkan sebelum sepasang kekasih ini mantap untuk melenggang ke pelaminan, mereka telah berinisiatif menyisihkan sebagian pendapatannya masing-masing untuk biaya pernikahan kelak.

Tapi tak selamanya rencana dapat berjalan mulus. Ketika telah mantap menikah dan mulai melakukan survei keperluan pernikahan, Felicia dan Dion terkejut. Ternyata biaya menggelar resepsi pernikahan mulai dari pakaian, katering, sampai sewa gedung jauh lebih tinggi dari yg diperkirakan. Dana yg telah dipersiapkan pun ternyata tak mencukupi.

Kebetulan, saat membaca majalah yg membahas seputar pernikahan, Felicia melihat iklan tawaran kredit dari sebuah bank. Bank itu menawarkan kredit tanpa agunan untuk keperluan biaya pernikahan. Setelah melakukan riset dan berdiskusi dgn keluarga, sepasang calon pengantin ini sepakat mengajukan permohonan kredit untuk menutupi kekurangan biaya pernikahan.

Urusan biaya pernikahan memang kerap membuat pusing calon pengantin. Apalagi kalau jumlah kerabat dan keluarga yg perlu diundang banyak. “Makin banyak yg diundang, makin besar biaya yg dibutuhkan,” cetus Winni Chandra,  pemilik wedding organizer Double B Wedding.

Biasanya, pengeluaran terbesar dalam penyelenggaraan pernikahan adalah pengeluaran untuk konsumsi, yg dapat mencapai 50% dari total pengeluaran. Sementara untuk gedung sekitar 10%–20% dari pengeluaran, dan sisanya untuk baju pengantin, undangan serta keperluan lain.

Mengajukan kredit ke bank dapat jadi pilihan untuk menutupi kekurangan anggaran saat menggelar pernikahan. Perbankan memang menawarkan kredit untuk keperluan penyelenggaraan pernikahan. “Karena permintaan untuk itu memang ada, jadi bank juga melihat ke arah sana,” tutur Fauziah Arsiyanti, perencana keuangan dari Fahima Advisory.

Ambil contoh Bank Mandiri. Bank dgn aset terbesar di Indonesia ini menawarkan kredit tanpa agunan (KTA) untuk keperluan pernikahan maksimal sampai Rp 200 juta. Debitur dapat mencicil pinjaman selama tiga tahun. Bahkan, kalau gaji si kreditur disalurkan melalui Bank Mandiri, ia dapat mencicil sampai lima tahun.

Memakai anggaran pribadi
Meski dapat menjadi salah satu cara lain pendanaan biaya pernikahan, para perencana keuangan sejatinya tak menyarankan calon pengantin menggunakan kredit demi membiayai pernikahan. Sebab, calon pengantin nantinya juga harus membayar kembang pinjaman.

Ujung-ujungnya, hal ini dapat membebani keuangan si pengantin ketika telah mulai berumah tangga. “Ini sangat rentan bagi keluarga muda yg masih awam dan rapuh dalam hal pengeluaran keluarga,” sebut Zizi, sapaan akrab Fauziah.

Kalaupun terpaksa meminjam, para perencana keuangan menganjurkan calon pengantin mencari pinjaman dari keluarga atau kerabat. Selain tanpa kembang, si pengantin tak terikat waktu pengembalian duit.

Tapi kalau anggaran pribadi dan anggaran pinjaman dari kerabat masih belum mencukupi juga, mencari anggaran ke bank dapat dilakukan. Bila sampai terpaksa mencari kredit ke perbankan, calon pengantin harus cermat berhitung agar kehidupan rumah tangganya kelak tak sampai terbebani utang kepada perbankan.

Matangkan rencana pernikahan
Calon pengantin harus memiliki perencanaan pernikahan yg matang. Dengan begitu, calon pengantin dapat membuat perhitungan biaya pernikahan semenjak awal. Bahkan, akan lebih baik jika calon pengantin dapat memastikan biaya yg akan dikeluarkan jauh-jauh hari.

Pengeluaran terbesar dalam menggelar pernikahan biasanya adalah biaya konsumsi dan gedung. Agar lebih hemat, Winni bilang, calon pengantin dapat memastikan pemesanan katering dan gedung jauh-jauh hari.

Biaya gedung dan katering pernikahan biasanya mengikuti harga ketika perjanjian dibuat. “Misal nikahnya tahun depan, maka jika diikat tahun ini maka harganya sesuai harga tahun ini,” imbuhnya.

Buat rencana alokasi anggaran yg ada
Setelah membuat perhitungan biaya pernikahan, calon pengantin dapat membuat perhitungan alokasi pendanaan yg terdapat. Perencana keuangan Shildt Consulting Budi Rahar-djo bilang, pengeluaran terbesar dalam penyelenggaraan pernikahan sebaiknya menggunakan sumber anggaran pribadi. “Misalnya untuk konsumsi habis sekian rupiah, mempelai dapat mempersiapkan anggaran semenjak awal untuk memenuhi target tersebut,” terang Budi.

Bila anggaran pribadi telah habis dialokasikan, calon mempelai dapat mengalokasikan anggaran pinjaman dari kerabat atau keluarga untuk keperluan pernikahan yg harus ada. Kalaupun dananya masih kurang, barulah meminjam dari perbankan.

Satu hal yg harus diingat, calon mempelai harus memastikan jumlah kredit yg diajukan ke bank sebaiknya adalah jumlah minimal anggaran yg dibutuhkan. Dana kredit bank cukup boleh dipergunakan sebagai penutup kekurangan biaya penyelenggaraan pernikahan. “Jangan sampai anggaran kredit menjadi anggaran ekstra atau anggaran tam-bahan untuk memperbesar pesta,” tegas Budi.

Dengan demikian, utang pengantin ke bank dapat ditekan. Harapannya, setelah memulai kehidupan rumahtangga, keuangan pengantin tak terganggu kewajiban pembayaran utang ke bank. “Jadi harapannya setelah menikah mereka dapat mengajukan kredit lain, seperti kredit rumah atau kendaraan,” kata Muhammad Ichsan, perencana keuangan dari Prime Planner Family.

Atur cicilan agar tak memberatkan
Ada tiga hal yg perlu diperhatikan calon mempelai saat mencari kredit untuk tambahan biaya nikah, yakni jangka waktu kredit, kembang, dan nilai kredit. Calon pengantin sebaiknya mematok jangka waktu pinjaman tak terlalu panjang. Meski biasanya perbankan memberi jangka waktu sampai tiga tahun, lebih baik bila calon pengantin dapat melunasi pinjaman kurang dari waktu tersebut. “Menurut saya tiga tahun telah terlalu lama untuk tenor kredit biaya pernikahan,” ujar Budi.

Ia menganjurkan agar tenor pinjaman kredit tak lebih dari satu tahun. Pasalnya, semakin lama tenor pinjaman, maka akan semakin sulit pula bagi pengantin untuk memenuhi keperluan perencanaan keuangan sebagai keluarga sebab masih harus menanggung beban utang pada bank.

Bahkan, bila telah memastikan perhitungan pengeluaran untuk pernikahan, calon pengantin bisa mengajukan kredit semenjak jauh-jauh hari sebelum pernikahan dilangsungkan. Dengan demikian, saat pernikahan berlangsung, utang yg tersisa telah tinggal sedikit, atau bahkan telah lunas dibayar.

Calon pengantin juga perlu rajin-rajin melakukan riset berbagai tawaran kredit tanpa agunan untuk pernikahan dari berbagai bank. Bandingkanlah ragam produk kredit yg ditawarkan bank. Pilih yg menawarkan kembang lebih rendah. Dengan begitu, keuangan keluarga di masa depan tak akan terlalu terbebani utang.

Selain itu, pastikan porsi kredit tak melebihi 15% dari total pendapatan kedua mempelai. Alhasil, pengantin tak terlalu kerepotan mengatur pendanaan untuk keperluan sehari-hari setelah menikah.

Atau dapat juga, cicilan kredit maksimal 35% dari take home pay salah seorang mempelai. “Kalau setahun, maksimal 70% total pendapatan setahun seorang mempelai,” ujar Budi. Sementara pendapatan pasangannya dapat digunakan untuk memenuhi keperluan hidup lain.

Jadi, harus cermat bila ingin menikah dgn bantuan anggaran dari perbankan.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.