Sentra sangkar: Terkenal di Jawa sampai Sumatera

Sunday, November 15th 2015. | Peluang Usaha

KLATEN. Sentra pembuatan sangkar burung di Desa Juwiran, Kecamatan Juwiring, Klaten telah terkenal. Sentra ini  telah kesohor di kalangan para penjual dan penggemar burung kicau.

Sangkar burung buatan perajin di desa ini lumayan bagus. Bahannya menggunakan kayu jati dan bambu. Namun, rata-rata perajin cukup membuat sangkar dalam model polos. Dalam arti, untuk pengecatan, ukiran, dan tahap finishing lainnya dikerjakan sendiri oleh pihak supplier.

Ahmadi Yono, salah seorang perajin mengatakan telah membuat sangkar burung selama 19 tahun. Selama itu, ia cukup  mengerjakan pembuatan sangkar non-finishing. “Kami mengejar target, jadi tak sampai finishing,” katanya kepada KONTAN.

Lagi pula, kata Yono, yg menentukan warna itu pihak pengepul. Misalnya mau dicat warna apa dan ditambah ornamen apa, itu tergantung dari pihak pemesan. Semakin rumit aksesori atau model yg diinginkan, tentu semakin lama karena semua dikerjakan dgn tangan.

Yang paling mudah, kata Yono, membuat sangkar ukuran mini untuk burung kecil, seperti burung cucak hijau, burung pleci, atau burung ciblek. Selain bahan bakunya sedikit, dalam sehari juga dapat dikerjakan dalam jumlah banyak. “Kalau sangkar mini, ukurannya dapat dibuat variatif tak cukup segi empat, tapi dapat juga model segi lima, segi enam, dan model lainnya, sehingga lebih unik,” jelasnya.

Bahan baku bambu didatangkan masih dari area Klaten dan sekitarnya. Menurutnya, pasokan bambu hijau masih banyak ditanam di daerah Klaten. Sedangkan bahan kayu jati, harus memesan dari daerah Wonogiri. Kayu jati yg digunakan tak mesti kayu jati grade A. “Yang penting memakai kayu jati,” ujarnya.

Untuk pemasaran, awalnya lebih banyak dijual di sekitar Klaten, Solo, dan Yogyakarta. Kebetulan di daerah ini banyak pasar burung dan  masyarakat daerah itu banyak hobi memelihara burung. Namun, lima tahun belakangan ini, Yono mengatakan, banyak juga mendapat orderan dari pembeli dari Bali dan Jawa Timur.

Ia mengklaim, sangkar burung buatan Desa Juwiran banyak diminati karena terbaik di Jawa Tengah. Selain model sangkarnya bervariasi, teksturnya juga halus. Selain itu, harganya juga terjangkau.

Yono mengatakan tak pernah belajar secara khusus dalam membuat sangkar. Ia mengatakan, cukup sering melihat orang membuat sangkar semenjak remaja. Ia juga sering membantu perajin lain membuat sangkar setelah pulang bertani dari sawah.

Perajin lain seperti Dalimin Asmad (34), baru membuat sangkar semenjak tahun 2007. Ia awalnya mendapat program pelatihan dan pendampingan dari pemerintah daerah bekerjasama dgn mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS). Namun, program itu cukup berlangsung setahun.

Dari pelatihan itu, Dalimin kini mahir membuat aneka model sangkar burung lengkap dgn ukirannya.  Selain di Jawa, kini ia juga banyak mendapat orderan sampai Sumatera,  terutama Lampung, Medan, dan Pekanbaru. (Bersambung)

 

Search terms:

ukuran sangkar segi 6, model sangkar terbaru 2015,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.