Tren bunga rendah menyebar di dunia

Monday, September 19th 2016. | Keuangan

JAKARTA. Tren perlambatan ekonomi memang terjadi di banyak negara semenjak beberapa tahun belakangan, tak terkecuali Indonesia. Untuk menggerakkan ekonomi agar tak kian melambat, banyak negara memilih untuk terus memangkas suku kembang acuan.

Yang terbaru adalah China yg kemarin menurunkan kembali suku kembang 25 basis poin menjadi 5,1% serta Serbia yg memangkas kembang kembang 50 basis poin menjadi 6,50%. Ini adalah kali kedua bagi China dan Serbia menyesuaikan kebijakan bunganya  di tahun ini.

Harapannya, kebijakan ini dapat menjadi stimulus untuk mendongkrak ekonomi, meringankan beban utang perusahaan akibat ekspansi ekonomi. Bagi China, kebijakan ini dapat mengungkit ekonomi yg pada kuartal pertama tahun ini cuma tumbuh 7%.

Selain China dan Serbia, banyak negara yg telah memangkas bunganya. Sejak awal tahun, ada 22 negara yg telah menggunting suku bunganya.

Bahkan, beberapa negara telah memangkas suku kembang lebih dari dua kali. Tujuannya seragam: memberikan stimulus kembang rendah agar ekonomi bergulir.  

Menurut data Cbrates, pada bulan ini, ada empat negara yg menurunkan suku bunganya. Pada awal Mei, Australia dan Rumania memangkas suku kembang 25 basis poin. Sebelumnya, Australia telah mengurangi suku kembang pada Februari 2015.

Selain Australia, negara-negara yg telah memangkas suku bunganya lebih dari satu kali semenjak Januari 2015 adalah Rumania, Pakistan, Rusia, China, Swedia, Hungaria, Thailand dan Serbia.

Pertanyaan kini mengarah ke Indonesia., Apakah, Bank Indonesia (BI) akan menyusul langkah bank sentral negara lain yg juga memangkas kembang agar ekonomi tak kian melambat? 

Keputusan ada di tangan BI. Yang pasti, pemerintah terang-terangan telah meminta BI menurunkan kembang acuan BI rate. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Tirta Segara mengatakan, rapat penentuan suku kembang acuan baru akan digelar Selasa pekan depan. “Untuk Indonesia, saya belum dapat comment,”  ujar Tirta, Senin (11/5).

Terakhir kali, BI menurunkan kembang pada pertengahan Februari 2015 yakni sebesar 25 basis poin menjadi 7,50%.

Andai kembang turun, Kepala Eksekutif Pengawasan Perbankan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nelson Tampubolon bilang, kebijakan ini harus diikuti dgn penurunan kembang kredit. “Kalau kembang kredit tak turut turun, ini cukup akan memperbesar margin bank,” kata  Nelson.  

Hitungan Muliaman Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK, industri perbankan punya ruang penurunan suku kembang kredit sebab likuiditas bank mulai longgar.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.