Yuk, dari food truck menjamu Wahyu sang pejuang

Thursday, March 29th 2018. | Peluang Usaha

Bro dan sis, pagi ini kita beruntung karena di hadapan kita telah terhidang kopi.  Yang bikin hari ini agak berbeda karena kopi yg dihidangkan pun berbeda. Ya, ini adalah kopi seduh dingin alias cold brew coffee. Meskipun kopi dingin, minuman kita ini bukanlah kopi yg  dicampur dgn es batu.  Cold brew merupakan salah satu metode menyeduh kopi. Bila rata-rata kopi diseduh dgn air panas, dgn metode ini kopi diseduh dgn air bersuhu kamar atau air dingin. Waktu penyeduhan dapat berlangsung antara 12–24 jam. Setelah diseduh, hasilnya adalah kopi konsentrat yg bisa dinikmati dgn tambahan susu atau es.

Salah satu yg menyediakan menu kopi seduh dingin adalah No Sleep Coffee, yg juga menjadi pelopor produk cold brew coffee di Jakarta. Merek kopi dingin ini diperkenalkan Riska Ilmi, Ardianto Putra, Gian, dan Pulung Aldila. Riska bercerita, mereka berempat bertemu ketika masih sama-sama kuliah di Malaysia dan merupakan penggemar kopi. Bahkan Pulung sempat belajar pembuatan cold brew coffee di luar negeri.

Ada dua varian kopi dingin seduh No Sleep Coffee, yakni long black dan ice latte. Harga kopi siap minum dalam setiap kemasan berukuran 300 ml adalah Rp 25.000 per botol. Awalnya, No Sleep Coffee ditawarkan ke kerabat dan kenalan para pendirinya. Lama-kelamaan semakin banyak yg pesan.

Dulu barista No Sleep Coffee cukup membuat 80 botol kopi per minggu, kini order meningkat pesat jadi 1.000–1.500 botol saban bulan. Menurut penuturan Riska, sepanjang 2014, ia dan teman-teman dapat mengantongi keuntungan Rp 500 juta. Adapun margin keuntungan dari bisnis ini dapat mencapai 100%. “Seperti produk A&S lain, cold brew coffee ini marginnya 100%,” cetusnya.

Sruuut! Enak juga menyeruput kopi jenis ini, kita tak perlu khawatir bibir kita akan tersentuh air panas. Segar sekali.  Kalau telah segar, kita sikat iga panggang yuk. Kontan.co.id telah menyediakan hidangan dari Iga Panggang Panglima.

Adalah Budi Marsanto yg mengusung merek Iga Panggang Panglima. Usaha ini telah berjalan semenjak tahun 2006 di Panglima Polim, Jakarta Selatan.  Setelah dua tahun berjalan, akhirnya Iga Panggang Panglima pindah ke Gandaria.

Olahan iga  yg disajikan Iga Panggang Panglima dijamin mamamia lezato. Soalnya, si peracik iga panggang ini, Budi Marsanto, memiliki pengalaman mumpuni soal meracik makanan. Budi pernah bekerja selama enam tahun di restoran yg menyajikan menu steik dan iga di Australia.

Jika Anda kesengsem sama lezatnya Iga Panggang Panglima, Budi membuka kesempatan untuk menjadi mitra usaha. Anda cukup menyediakan anggaran senilai Rp 100 juta. Budi tak memungut biaya royalti. Hanya, mitra wajib memasok bahan baku utama seperti iga sapi, daging sapi, dan bumbu dari pusat. Untuk  makanan pendamping seperti kentang dan sayuran dapat diambil dari tempat lain.  

Harga jual menu makanannya dibanderol di bawah Rp 100.000 per porsi. Targetnya rata-rata 50 porsi iga terjual saban hari dgn estimasi keuntungan sekitar Rp 4 juta−Rp 5 juta per hari. Alhasil, keuntungan dalam sebulan dapat mencapai Rp 150 juta. “Kalau lokasinya ramai pengunjung, omzetnya dapat melebihi Rp 100 juta dgn laba bersih 30%. Balik modal dapat ditaksir sekitar setahun,” kata Budi.

Terima kasih Budi atas iga panggangnya.  Masih pengin makan, yuk kita beli sushi. Kebetulan di depan ada food truck yg lagi parkir.  Tapi, tahu enggak beda food truck  sama moko alias mobil toko. Pasti tahu. Kalau food truck, di dalam mobil ada aktivitas masak-memasak; kalau moko,  biasanya cukup menjadi tempat menata produk yg akan dijual.

Food truck mulai ramai semenjak 2013. Jika tahun sebelumnya jumlah food truck dapat dihitung dgn jari, sekarang ini, menurut Asosiasi Food Truck Indonesia, telah lebih dari 40 unit food truck yg tersebar di Jakarta.

Food truck kerap jadi pusat perhatian sebab desain mobil yg unik. Di balik desain yg unik itu ternyata ada jasa karoseri.  Salah satu yg kecipratan rezeki pembuatan food truck adalah PT  Delimajaya Carrosserie Industry di Bogor, Jawa Barat. Winston Wiyanta, Managing Director PT Delimajaya Carrosserie Industry, mengatakan, perusahaannya mulai menerima orderan pembuatan food truck semenjak 2013.

Delimajaya telah membuat 30 unit food truck semenjak 2013. Winston bilang, food truck tak cukup dipesan oleh pengusaha baru. Ada juga restoran yg telah melirik usaha food truck. Misalnya saja, Bakmi GM, Sushi Tei, Bebek Dower, Roti K, Fat Belly, Sabroso Pollo, dan Steak Holycow. “Food truck bukan cukup kendaraan niaga, tapi juga media promosi untuk restoran tersebut,” ujar Winston.

Delimajaya membanderol food truck seharga Rp 225 juta–Rp 325 juta untuk tipe kecil, Rp 400 juta–Rp 550 juta untuk tipe sedang, dan Rp 600 juta–Rp 750 juta untuk tipe besar. Harga tersebut telah termasuk sasis kendaraan.

Tetapi, Delimajaya juga dapat memodifikasi mobil seken milik klien menjadi food truck. Tarif pembuatan ada di kisaran Rp 75 juta–Rp 250 juta, tergantung jenis kendaraan. Harga dan tarif tersebut belum termasuk peralatan dapur yg akan dipasang dalam mobil. “Untuk kitchen equipment, klien cukup menambah biaya kurang dari Rp 75 juta,” cetus dia.

Winston mengatakan, dari pembuatan food truck, Delimajaya dapat meraup margin keuntungan sekitar 15%. Menurut Winston, food truck dapat jadi peluang usaha bagi pemilik karoseri

Kalau begitu, ayo kita terus melaju dgn food truck. Kita mau ke Bandung  mau menemui Wahyu Adji Setiawan.  Dia memproduksi dan menjual tas dgn merek sendiri, yaitu Evrawood. Harga jual tasnya di Indonesia mulai Rp 400.000, untuk pasar luar negeri harga jualnya berkisar Rp 1,8 juta–Rp 2,5 juta. Saban bulannya, Adji dapat memproduksi seribu unit tas. Kebayang dong berapa omzetnya Adji.

Tapi, sukses enggak datang begitu saja. Adji juga sempat merasakan pahit getirnya berusaha. Sejak duduk di bangku SMU, Adji telah biasa berjualan untuk menambah uang sakunya. Bisnis tas yg digelutinya sekarang berawal dari orderan tas dari seorang dosen ketika kuliah dulu pada sekitar tahun 2006.

Dari sinilah pria kelahiran Kebumen, 10 Maret 1986, melihat usaha membuat tas ternyata lebih mudah dibandingkan usaha kaos yg digeluti. Di konveksi banyak kendalanya, selain banyak ukuran, sering terjadi revisi yg membuang banyak waktu dan tenaga.

Akhirnya, dia memutuskan banting setir bidang usaha, yakni pembuatan tas pada  awal 2010. Tasnya dimereki Ortiz. Dia sempat mendapat kontrak dari pembeli sebanyak 6.000 tas selama setahun. Namun, pada pertengahan 2010, Adji mendapat somasi dari pemilik merek sah Ortiz, yakni sebuah perusahaan mode ternama dari Spanyol.

Tak mau membayar denda sebesar Rp 7 miliar, awal 2011 Adji membangun kembali bisnisnya. Kali ini, dia mematenkan merek Evrawood, langsung ke Singapura. Dia merekrut orang-orang baru sebagai tim Evrawood.  Selain di Indonesia, sekarang ini, tas kasual urban Evrawood telah dipasarkan di beberapa negara, seperti Jerman, Belanda, Singapura, dan Malaysia.  

Ah, jadi pengin seperti Adji. Nah, biar kita dapat punya waktu banyak untuk merenung ide bisnis apa yg akan kita jalani, bagaimana kalau kita berpisah dulu. Selamat berakhir pekan, semoga akhir pekan bro dan sis menyenangkan.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.