Wahyu raih sukses dengan tas merek sendiri

Saturday, October 31st 2015. | Peluang Usaha

Sekarang era wirausaha Banyak orang tertarik menjadi pengusaha semenjak muda. Bahkan, semenjak duduk di bangku sekolah. Wahyu Adji Setiawan, salah satunya. Sejak duduk di bangku SMU, Adji, panggilan akrabnya, telah biasa berjualan untuk menambah uang sakunya. “Saya jual barang-barang mode dari Bandung, seperti kaos, celana dan tas,” kata dia.  

Bisnisnya pun terus berlanjut saat Adji melanjutkan pendidikan ke Universitas Negeri Surabaya. Lantaran sering terlihat jualan, baru satu semester menjalani kuliah, dia mendapat tawaran untuk mengelola toko Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) di kampusnya. Di toko itu, dia menjual beraneka barang, mulai dari aksesori HP, kaos, stiker, dan soft drink.  

Jiwa pengusaha yg terbentuk semenjak muda pun memudahkannya untuk mencium peluang. Setahun kuliah, Adji memberanikan diri turut tender kaos untuk mahasiswa baru. Dia pun berhasil memenangkan tender pembuatan 1.200 kaos.

Namun, setelah menemukan konveksi yg sanggup mengerjakan proyeknya, Adji mulai menghadapi masalah. “Uang mukanya tak cukup karena pabrik minta uang muka 50%, sementara dari kampus cukup cukup membayar 30% uang muka,” kata dia.

Dari situ, kemudian Adji belajar soal negosiasi, sampai akhirnya cukup perlu meninggalkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai jaminan. “Pasalnya, saya tak ada uang sama sekali,” ujar dia. Lantas, satu per satu order berdatangan, baik pembuatan kaos maupun jaket.

Tak cukup sesama mahasiswa, usaha Adji juga tercium oleh dosennya. Sekitar 2006, salah satu dosen menawari pria kelahiran Kebumen, 10 Maret 1986, ini order untuk membuat tas seminar sebanyak 200 unit, tapi cukup dalam seminggu.  

Tanpa pikir panjang, Adji lantas menyanggupinya dan memesan tas ke Tanggulangin, sentra produksi tas di Sidoarjo, Jawa Timur. Dari sinilah, Adji melihat kemudahan berbisnis tas dibanding kaos. “Konveksi banyak kendalanya, selain banyak ukuran, sering terjadi revisi yg membuang banyak waktu dan tenaga,” tutur dia. Akhirnya, dia memutuskan banting setir bidang usaha, yakni pembuatan tas.

Langgar paten

Terjun ke dunia bisnis semenjak muda, Adji cukup gesit menangkap pasar. Tak susah baginya memutar haluan, dari bisnis konveksi ke tas. Order pembuatan tas segera menghampirinya. “Banyak perusahaan di Surabaya yg memesan tas ke saya, baik tas untuk bepergian maupun tas untuk umroh atau haji,” kenang dia.

Namun, seiring berjalannya waktu, dgn makin banyaknya orderan, Adji mulai menemui masalah dgn perajin. “Untuk mendapatkan perajin ini gampang-gampang susah,” serunya. Dalam pengamatannya, perajin suka tak tepat waktu dan sering mendahulukan proyek yg lebih besar.

Dari masalah itu, Adji mengambil solusi mengatur para perajin dgn sejumlah perjanjian kontrak. “Salah satu pasalnya, jika terjadi keterlambatan, kami akan mengutip denda,” ujar dia.

Sebagai pengusaha, Adji tak boleh berhenti berpikir. Pemikirannya harus terus berkembang demi kemajuan bisnisnya. Dari pembuatan tas travel ini, dia tertarik untuk mengembangkan brand tas milik sendiri. “Idealisme saya sangat tinggi saat itu, ingin punya merek dgn desain sendiri,” jelas dia.

Maklum, Adji ingin merasakan tantangan dgn tas merek sendiri. “Akan lebih menyenangkan dalam desain, kami harus kreatif, tak seperti tas orderan yg desainnya terus menerus,” ungkap suami Icha Artyas Annariswati ini.

Setelah membuat konsep dan mempunyai calon pembeli, awal 2010, Adji mulai produksi tas merek Ortiz. Berbeda dgn tas travel, Ortiz merupakan tas kasual yg khusus dipasarkan ke Singapura dan Malaysia. “Jadi, standar kualitasnya internasional,” kata Adji. Untuk Ortiz ini, Adji mendapat kontrak dari pembeli sebanyak 6.000 tas selama setahun.

Sayang, belum genap setahun berbisnis tas merek sendiri, hantaman datang. Pertengahan 2010, Adji mendapat somasi dari pemilik merek sah Ortiz, yakni sebuah perusahaan mode ternama dari Spanyol. Salah satu pasal dalam somasi tersebut menyebutkan, jika dalam waktu dua bulan tak ada penarikan produk, akan diberikan sanksi berupa denda sebesar Rp 7 miliar.

Tak mau membayar denda, Adji pun segera menarik semua produk yg telah beredar. Dia pun terpaksa membayar denda kepada distributor sebesar Rp 600 juta karena tak dapat memenuhi kontrak yg telah disepakati. “Dari situ, saya baru tahu, pendaftaran paten yg diakui secara internasional harus di Singapura,” ujar dia.

Akibat dari peristiwa itu, Adji terpaksa berhenti produksi selama dua bulan. “Tagihan dari vendor dan pemasok banyak yg tak terbayar,” kata dia.

Tak ingin terpuruk lebih lama, dia pun memberanikan  diri mendatangi vendor dan pemasoknya untuk meminta pembayaran mundur. Karena kepercayaan telah terbangun, tak cukup pembayaran mundur, mereka juga memberi pinjaman berupa bahan baku untuk memulai produksi lagi.

Awal 2011, Adji membangun kembali bisnisnya. Kali ini, dia mematenkan merek Evrawood, langsung ke Singapura. Dia merekrut orang-orang baru sebagai tim Evrawood. Selain itu, Adji fokus pada kualitas, baik dari segi bahan maupun cara pembuatannya. “Kami menonjolkan kekuatan. Dalam kampanye produk, kami memberi garansi kerusakan sampai tiga tahun,” tutur pria 29 tahun ini.  

Selain di Indonesia, sekarang ini, tas kasual urban Evrawood telah dipasarkan di beberapa negara, seperti Jerman, Belanda, Singapura, dan Malaysia. Setiap bulan, kapasitas produksi pabrik tas ini dapat mencapai 1.000 unit. Jika di Indonesia produk Evrawood dijual mulai Rp 400.000, untuk pasar luar negeri harga jualnya berkisar Rp 1,8 juta–Rp 2,5 juta.   

Fokus, tekun, dan terus belajar

Pengalaman adalah guru paling berharga dalam kehidupan. Demikian juga dalam berbisnis. Beberapa pengalaman yg diperoleh Wahyu Adji Setiawan ketika menjalani sejumlah bisnis memberinya pelajaran untuk meniti kesuksesannya.

Ada tiga kunci yg terus Adjie pegang untuk meraih keberhasilan: fokus, terus belajar, dan tekun. Dia menceritakan pengalamannya terdahulu, yg merambah banyak usaha sekaligus, mulai dari konveksi, franchise crepes sampai jasa tur dan penyewaan bus. “Kalau telah siap tak masalah, saat itu semua bisnis saya belum tersistem dgn baik, hasilnya tak maksimal dan akhirnya semua tutup,” kata ayah Almira Ghina Nadjani ini.

Oleh karena itu, sekarang, dia lebih memilih fokus pada satu usaha dan mempelajari bidang usaha itu sampai menjadi ahli. “Tentunya juga harus tekun. Selesaikan menjadi besar, baru buka yg lainnya,” lanjut Adjie.   

Dari hasil riset perusahaannya, Adjie memperkirakan, pada 2020 nanti pembelian tas kelas menengah di Indonesia mencapai Rp 5,5 triliun. Melihat potensi pasar yg bagus, Adji telah menyiapkan berbagai rencana.

Dalam jangka pendek, Evrawood akan memperluas pasar di Indonesia. Maklum, sekarang ini, 70% pasar Evrawood berada di luar negeri. Perluasan pasar domestik itu dilakukan dgn membuka gerai Evrawood di 15 kota besar di Indonesia.

Selain itu, PT Evrawood Paraja Modatama akan membuat produk turunan dari Evrawood, mulai dari sepatu, t-shirt, kemeja, celana, dan lainnya. “Saya bermimpi, Evrawood menjadi  perusahan fesyen terkemuka, baik tingkat nasional maupun internasional,” cetus Adjie. Dalam jangka panjang, dia akan membuat merek baru dgn segmen pasar yg berbeda.               

 

Search terms:

cara membuat tas selempang dari kain flanel, cara membuat tas selempang dari baju bekas, tas selempang dari kain perca, cara membuat tas selempang kecil dari kain flanel, proposal bisnis tas, Cara membuat tas dari ulo, Kreatif cara membuat dompet dari ulos batak,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.