Berkali-kali bangkit dari imbas krisis ekonomi (2)

Sunday, January 21st 2018. | Peluang Usaha

Pantang menyerah menjadi motto hidup dalam menjalani bisnis ala Fernanda Reza Muhammad. Pasalnya, pria yg kerap disapa Reza ini memulai bisnis ketika krisis moneter mendera Indonesia di tahun 1998. Pada saat itu pula, dia baru saja terkena PHK dari tempat kerjanya.

Agar dapat melanjutkan hidup, Reza memutuskan untuk membuka usaha dekorasi kulit kerang berupa tutup kloset dgn modal Rp 40 juta. Keterampilan membuat tutup kloset dari kulit kerang ini dia pelajari secara otodidak. Bahan dasar kerajinan ini adalah kerang dan pasir pantai yg kemudian dibalut dgn resin.

Saat itu, dia cukup mampu memproduksi produk ketika ada orderan dari konsumen. Reza mencoba untuk memperkenalkan produk kerajinannya kepada perusahaan-perusahaan perlengkapan kamar mandi di luar negeri lewat email. 

Rupanya strategi promosi seperti itu cukup berhasil. Dia mendapat respon positif pertama kali dari pembuat perlengkapan kamar mandi dari Australia. Lambat laut, produknya makin banyak peminatnya, terutama dari luar negeri.

Pada awal menjalani usaha ini, Reza cukup memproduksi kurang dari satu kontainer atau kurang dari 1.200 unit barang per bulan. Dia dibantu lima orang dalam produksi. Dia mampu mendapatkan konsumen dari sejumlah negara  diantaranya AS, Bahrain dan Brazil. Seiring permintaan yg semakin bertambah, jumlah produksinya pun meningkat tajam. “Kami sampai kewalahan untuk mengerjakan permintaan,” katanya.

Membesarkan usaha kerajinan dari kulit kerang ini menurut Reza memang tak mudah, dibutuhkan ketekunan dan fokus untuk membuat usaha dapat tetap eksis. Pasalnya, kejayaan usaha besutannya ini sempat meredup saat munculnya pembuat baru baru asal China di tahun 2003. “Saat itu produk dari China muncul tapi harganya jauh lebih murah,” katanya pada KONTAN.

Dampaknya, jumlah orderan konsumen turun siginifikan sampai 60% dari biasanya. Kondisi ini berlangsung selama dua tahun. Pada saat sulit tersebut, dia harus mengutas tabungannya untuk mempertahankan usaha.

Salah satu strategi yg dia jalankan adalah mempertahankan kualitas produk dgn fokus menyasar kalangan kelas menengah atas. Selain itu, Reza lebih gencar lagi berpromosi. Dia semakin rajin mengikuti pameran produk di luar negeri. Berkat kesabarannya, dia mendapatkan banyak konsumen dari negara yg belum pernah dimasuki seperti Afrika, China dan negara lainnya.

Lantaran berfokus pada pasar ekspor, resesi global yg terjadi semenjak akhir 2008 silam turut berimbas pada usahanya. Omzetnya sempat terpangkas sampai 50%. Dari situ, Reza mulai melirik untuk juga menggarap pasar lokal. “Saya lantas sering turut pameran kerajinan di dalam negeri juga,” ujar Reza.

Kini, omzetnya makin membaik seiring pengetatan biaya operasional yg dia lakukan. Salah satu strateginya adalah dgn memangkas jumlah karyawan dari 100 orang menjadi 40 orang saja sekarang ini.

Reza juga rajin menambah variasi produk kerajinan kerangnya agar konsumen memiliki pilihan yg lebih banyak. (Bersambung)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.