Ekonom BRI: Simpanan perbankan hanya naik Rp 485 T

Thursday, August 18th 2016. | Keuangan

JAKARTA. Potensi peningkatan anggaran pihak ketiga (DPK) tahun ini diperkirakan turun menjadi Rp 485 triliun dari Rp 600 triliun. Angka itu mengacu pada proyeksi perlambatan perekonomian yg cukup akan berkisar 5,2% saja di akhir tahun nanti.

Pernyataan tersebut disampaikan Anggito Abimanyu, Kepala Ekonom Bank Rakyat Indonesia (BRI), Senin (27/4). Menurut Anggito, dgn potensi penurunan pertumbuhan tersebut, maka bisa dikatakan kondisi likuiditas akan kembali mengetat. “Jadi, bank harus berpikir ulang agar dapat menarik simpanan masyarakat untuk kembali disalurkan ke sektor riil,” ucap Anggito.

Namun Anggito tak dapat memastikan apa yg akan terjadi atau tren yg bakal dilakukan perbankan untuk memenuhi likuiditasnya. Menurut Anggito, setiap bank memiliki strategi masing-masing dalam memupuk likuiditas, khususnya yg berasal dari penghimpunan anggaran masyarakat.

“Sebenarnya, likuiditas masih ada, tapi mahal. Jadi, bakal ada persaingan ketat untuk perebutan likuiditas,” ungkap Anggito. Tapi, Anggito melihat, bank-bank BUMN telah sepakat untuk tak lagi melakukan perang kembang simpanan, terlebih dgn adanya pembatasan tingkat suku kembang simpanan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Di akhir 2014, DPK perbankan mencapai Rp 4.151,45 triliun. Angka itu naik 13,3% dari posisi akhir 2013 yg sebesar Rp 3.663,97 triliun atau mengalami kenaikan sebesar Rp 487,48 triliun.

Hingga Maret tahun ini, Anggito memprediksi, pertumbuhan ekonomi cukup akan berkisar 4,9%-5% saja. Bahkan, Anggito menyebut, proyeksi pertumbuhan ekonomi di kuartal T itu akan berada di bawah 5% yg artinya merupakan level terendah dalam 5 tahun ke belakang.

Anggito mencatat, pertumbuhan ekonomi Indonesia masih akan dipengaruhi adanya penurunan pertumbuhan konsumsi yg selama ini berkontribusi sebesar 65% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). “Penurunan pertumbuhan konsumsi berasal dari penjualan semen, penjualan kendaraan, konsumsi BBM, kredit investasi, dan impor barang konsumsi,” jelasnya.

 

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.