Sentuhan teknologi untuk berlimpahnya ikan

Thursday, September 13th 2018. | Peluang Usaha

Jumlah penduduk yg besar menyebabkan keperluan pangan di Indonesia sangat tinggi. Tak heran, segala usaha yg berkaitan dgn  pemenuhan keperluan pokok ini selalu menjadi peluang.

Metode untuk menghasilkan pangan secara optimal pun dapat menjadi ide bisnis. Seperti yg dilakukan oleh Muhammad Ihsan Akhirulsyah yg mengembangkan eFishery, suatu perangkat berbasis teknologi yg berguna mengontrol pakan ikan dalam sebuah kolam.

Ihsan dan dua orang rekannya mencium peluang menciptakan eFishery ketika melihat perlunya fungsi kontrol untuk mengatur pakan. “Kebutuhan pakan dapat mencapai 70% biaya budidaya. Kami mencoba membuat teknologi yg tepat agar tak terjadi kelebihan pakan atau over feeding,” jelas pria berusia 25 tahun ini.   

Selain dapat memberi pakan secara otomatis, perangkat ini mampu menganalisis data jumlah pakan yg dibutuhkan. Data itu dapat digunakan untuk membuat keputusan tentang keperluan pakan.

Ihsan menuturkan, eFishery dapat digunakan dalam budidaya ikan di air tawar, seperti ikan mas, lele, nila, dan udang. Satu perangkat dapat menangani ikan dgn kapasitas 3.000 ekor.

Pemilik kolam tinggal meletakkan eFishery di pinggir kolam dan disesuaikan menurut jenis ikan dan jumlah ikan dalam kolam. Alat itu disambungkan dgn dashboard (layar) dan dapat dihubungkan pula dgn smartphone atau tablet. Pemberian pakan di kolam dapat dipantau dan dikendalikan dari jauh dan kapan saja, tanpa harus datang ke kolam.

Dengan eFishery, Ihsan mengklaim pembudidaya dapat menghemat pakan berkisar 20%-30% dari volume pakan. “Jadi, pemberian pakan dapat lebih efisien, produktivitas meningkat sehingga memberi nilai tambah berupa peningkatan profit ke pembudidaya ikan atau udang,” kata Ihsan.

Dia menawarkan eFishery dgn harga Rp 6 juta sampai Rp 9 juta per unit. Kini, dalam sebulan, Ihsan dan timnya dapat memproduksi sampai 100 unit eFishery. “Kami memasarkannya untuk pembudidaya ikan dan udang,” kata Ihsan. Perusahaan-perusahaan pakan ternama juga sering memesan kepadanya. Hingga kini, eFishery telah tersebar ke pembudidaya ikan di Jawa Barat, Banyuwangi, Bali dan Medan.

Monitor tambak

Tak jauh berbeda, sentuhan teknologi untuk memaksimalkan budidaya dalam bidang perikanan juga dilakukan oleh Blumbangreksa, yg digawangi oleh Syauqy Nurul Aziz dan lima orang temannya. Bermula dari permintaan perusahaan agrikultur, PT Indmira, yg ingin memantau tambaknya, alumni Teknik Elektro Universitas Gajah Mada ini  membuat perangkat untuk mengawasi (monitoring) kondisi air di tambak udang.

Maklum, sebagai salah satu hewan budidaya, udang sangat sensitif dgn lingkungannya. Ada kesalahan sedikit saja dalam pemeliharaan, dapat mengakibatkan udang mati atau kena penyakit. “Selama ini, petambak udang cukup dapat memperkirakan kondisi air di tambak. Padahal, kondisi air sangat berpengaruh,” jelas Aziz. Alhasil, jika kondisi air diketahui, petambak dapat menyesuaikan kondisi yg ideal untuk menurunkan potensial loss yg mungkin dapat terjadi.

Sebenarnya, selama ini, ketika membeli bibit udang, petambak juga harus membeli pakan dari perusahaan tersebut. Lalu, perusahan akan mengirimkan karyawannya untuk mengukur kondisi air di tambak. “Tapi, pengukur itu datangnya tak jelas, misalnya seminggu sekali,” kata Azis.

Jadi, sebenarnya telah ada alat monitoring untuk tambak udang. Bentuknya seperti  meteran biasa, yg cukup dapat mengukur di tempat pada saat itu. Alat sensornya juga terpisah. Parameter pada alat monitoring pun terbatas, misal cukup mengukur PH atau sanitasi.

Sementara itu, Blumbangreksa dapat menyediakan data kadar oksigen dalam air, salinitas, Ph, suhu, dan kelembapan. Alat ini diletakkan di dalam tambak. Petambak dapat melihat langsung di layar untuk parameter yg berkaitan dgn keadaan air di tambak. Jika petambak tak ada di tambak, dia masih dapat mengecek kondisi tambaknya melalui SMS, atau website Blumbangreksa.

Aziz mengatakan, baru semenjak November mengembangkan Blumbangreksa. Dia menghabiskan waktu dua bulan untuk membuat perangkat ini. “Awal tahun, alat pertama kami letakkan di tambak udang di Bantul. Blumbangreksa pertama itu dihargai Rp 15 juta,” kata dia.  

Rencananya, Aziz akan membuat dua versi Blumbangreksa. Pertama, full package seperti yg sekarang. Alat monitoring lengkap dgn sensor sehingga dapat mengukur semua parameter untuk tahu kondisi air pada tambak udang.

Kedua, versi modular. “Harganya tentu lebih murah karena versi ini dapat mengukur salah satu parameter kondisi air,” jelas Aziz. Misalnya saja, mengukur PH di tambak. Rencananya, perangkat Blumbangreksa jenis ini akan dijual Rp 6 juta untuk tiap modul.

Dalam perhitungannya,
enam bulan dari sekarang timnya dapat memproduksi Blumbangreksa. “Tahun ini targetnya 20 unit full package Blumbangreksa kami jual untuk penetrasi pasar,” jelas dia.

Riset pengembangan

Lantaran keperluan pangan yg terus meningkat, baik untuk konsumsi dalam negeri atau keperluan ekspor, bisnis perangkat teknologi yg dapat mengoptimalkan hasil perikanan ini punya prospek cerah. Aziz pun menilai potensi bisnis Blumbangreksa sangat besar di masa mendatang.

Tengok saja, total luas tambak di seluruh nusantara mencapai 2,6 juta hektare (ha). Namun, sampai sekarang yg baru dimanfaatkan cukup 650.000 ha. Nah, 450.000 ha di antaranya digunakan untuk tambak udang.

Aziz menghitung, dari lahan-lahan tersebut, sekitar 9% merupakan tambak tradisional, 80% tambak semi-intensif, 10% intensif, dan 1% tambak super intensif. “Sasaran pasar kami ialah tambak semi-intensif dan intensif. Dengan kata lain, sasaran kami adalah tambak seluas 405.000 ha,” jelas dia.

Tiap satu ha tambak dibagi menjadi empat kolam. Jadi, satu kolam terdiri dari 2.500 meter persegi (m²). Satu unit Blumbangreksa digunakan untuk setiap kolam. Jadi, potensi penggunaan Blumbangreksa untuk tambak semi-intensif dan intensif ialah 1,6 juta unit. “Kalau pesimistis, jeleknya cukup 1% tambak yg bakal jadi pasar Blumbangreksa. Tapi dari 1% saja, keperluan Blumbangreksa mencapai 16.000 unit,” harap dia.

Ihsan pun melihat potensi pasar eFishery sangat besar. “Selama masih ada manusia, teknologi ini selalu dibutuhkan. Manusia membutuhkan makanan dan teknologi ini membantu mengoptimalkan hasil pangan,” jelas dia. Dan, selama ada inovasi, peluang akan terbuka.

Ihsan juga berharap ada banyak pengusaha yg tertarik saat masuk ke dalam bidang ini supaya di masa depan tak terjadi kerawanan pangan. Apalagi, pemerintahan sekarang fokus ke maritim. “Alat ini sesuai dgn program pemerintah,” ujar dia.

Jika tertarik turut meramaikan bisnis seputar teknologi di perikanan, Ihsan pun berpesan supaya pemain baru mempunyai modal yg cukup besar. Dia pun berbisnis, modal untuk merangkai bisnis eFishery ini lebih dari Rp 2 miliar. “Kebutuhan modalnya cukup tinggi terutam untuk riset dan pengembangan, karena kami berusaha menerjemahkan apa yg dibutuhkan konsumen dalam model teknologi,” kata Ihsan.

Dia mengalokasikan biaya untuk riset dan pengembangan ini sekitar 30%-40% dari keperluan modal. Sisanya, untuk infrastruktur, tenaga kerja dan material. “Saran untuk pengusaha baru harus menyiapkan nafas yg panjang untuk riset dan pengembangan ini. Sebab, mereka  harus mencari seperti apa keperluan yg diinginkan user, terus sampai menciptakan barang, sampai siap masuk ke pasar,” papar Ihsan.

Selain itu, pemain baru harus siap menghadapi tantangan dalam bisnis berbasis teknologi. Salah satunya adalah ketiadaan sejumlah material di Indonesia. “Jadi, kami harus impor,” kata Ihsan yg mengimpor beberapa komponen pembuatan eFishery dari China.

Tantangan kedua, pemain harus dapat menangkap keperluan konsumen. “Kami harus dapat menerjemahkan apa yg dibutuhkan user dalam model teknologi, harus punya kejelian, itu yg mendukung di bisnis start up teknologi ini,” tambah dia.

Jika telah menemukan perangkat yg akan dibuat, kreatifitas juga menjadi modal lainnya. Sebab, Anda harus pula memikirkan harga perangkat ini supaya dapat diterima pasar dgn baik. Tengok saja pengalaman Aziz yg harus mengganti beberapa komponen sensor dgn jenis yg lebih murah untuk menekan harga jual dalam penetrasi pasar. 

 

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.