Sepekan Peluang Usaha: Kokoru dan raja promosi

Wednesday, December 27th 2017. | Peluang Usaha

Senang kita dapat bertemu lagi. Pagi ini Kontan.co.id akan menjamu Anda. Kalau sedikit pahit, diminum saja ya namanya juga jamu. He, he,he… Sudah kita enggak usah bercanda lagi. Tapi, kok, diam saja, pengin makan ya. Oke jangan khawatir. Kontan.co.id punya makanan dan minuman.

Silakan dicicip pancake yg lezat ini. Sudah yuk sikat saja, lagian ini pancake istimewa. Pancake ini berasal dari Medan, namanya Maidanii Pancake. Adalah Marzuki Halimi yg mengusung pancake ini semenjak 2012. Enam bulan kemudian Maidanii Pancake resmi menawarkan kerjasama reseller.

Saat ini telah ada 50 reseller yg bergabung dan tersebar di seluruh Indonesia. Antara lain di Balikpapan, Medan, Jakarta, Bandung, Pontianak, Jaya pura, dan lainnya. Para calon reseller yg berminat, harus menyiapkan satu unit freezer dgn ukuran minimal 100 liter untuk tempat penyimpanan.

Nah, reseller yg berminat kudu mengeluarkan duit minimal Rp 1,45 juta untuk pembelian 25 boks pancake durian. Harga untuk reseller sekitar Rp 58.000 per boks, harga jual eceran minimal Rp 80.000 per boks. Marzuki juga memberikan kebebasan kepada reseller untuk membanderol harga jual pancake tersebut. “Bisa disesuaikan dgn wilayah masing-masing,” katanya.

Kalau tadi kita telah menyikat makanan pembuka, sekarang kayaknya kita akan makan berat. Ayo jangan ragu, makanan kita ini enggak mengandung MSG. Pokoknya, ini makanan sehat. Jangan-jangan makanannya hobi olahraga, makanya sehat. Ngawur ah. Yang pasti makanan ini dipesan dari  Gorrygourmet.com.

Gorry Gourmet menawarkan bermacam makanan rendah kalori, tanpa pengawet, MSG,  dan bebas minyak lemak tak jenuh. Berbagai jenis menu makanan dikelompokkan dalam beberapa kategori, di antarannya Ala Carte, Daily Catering Program, dan Frozen Food Catering.  Pendeknya, tujuan Gorry Gourmet untuk memfasilitasi pelanggan dgn jadwal yg padat sehingga butuh makan yg praktis

Tapi, Gorrygourmet.com tak cukup menawarkan menu makanan sehat, situs ini juga menyediakan jasa konsultasi langsung pada dokter spesialis ahli gizi dan banyak lagi. Usaha ini didirikan oleh Herry Budiman dan William Susilo pada Maret 2014, namun  Gorrygourmet.com baru resmi diluncurkan pada September 2014.  Gorry Gourmet telah memiliki database 3.000 pembeli produk aktif. Sejauh ini mayoritas pelanggannya berasal dari daerah sekitar Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi. Saat ini Herry bilang, pembagian komposisi pelanggan Gorry Gourmet berkisar 90% berasal dari Jabodetabek dan 10% di luar Jabodetabek.

Kenyang belum? Eit, hampit lupa, dari tadi kita cuma makan, sekarang kita minum bubble. Nah, ini ada  B&B Bubble asal Jakarta. Si pemilik usaha, Rio Braja, telah menjalankan usaha ini semenjak tiga tahun lalu.  Jika berminat, dapat kok turut program kemitraannya. B&B Bubble menawarkan satu paket investasi dgn nilai investasi Rp 12,5 juta. Mitra akan mendapatkan booth, blender, bubuk minuman 1 kg untuk lima rasa, gelas 100 cup, sedotan bubble, topping, tempat es, dan peralatan promosi.

Enaknya bermitra dgn B&B Bubble, pusat tak mengutip biaya royalti ataupun biaya kerjasama.  Dengan target penjualan mitra sekitar 100 cup dalam sehari,  keuntungan yg didapatkan rata-rata sekitar Rp 1,6 juta per hari. Mita dapat balik modal kurang dari tiga bulan.

Aduh masih lapar. Dasar perut karet, enggak ada kenyangnya. Tapi, silakan deh sekarang menyantap siomay. Ada Siomay Addict asal Bekasi, Jawa Barat. Usaha ini merupakan besutan dua bersaudara Andy Putra dan Tommy Putra  semenjak September 2014.

Siomay Addict menawarkan kemitraan dgn investasi Rp 50 juta. Dengan modal tersebut, mitra mendapatkan booth alumunium, perlengkapan memasak, perlengkapan promosi, produk awal sebanyak 100 buah dan perlengkapan tambahan lainnya.

Andy bilang, Siomay Addict membidik konsumen kelas menengah ke atas. Itu sebabnya harga jualnya lumayan mahal sekitar Rp 7.000 per buah. Dalam sehari, mitra dipatok bisa menjual sekitar 150 buah sampai 200 buah siomay. Bila dihitung, dalam sehari, target keuntungan sekitar Rp 1,4 juta. Jadi total penjualan mitra mencapai Rp 42 juta per bulan.

Sudah, telah, jangan makan lagi. Oke, kita sekarang akan ke Kalimantan. Tapi, ini masih ada hubungannya sama makanan: ketupat! Aduh, ampun, telah kenyang. Jangan khawatir kita enggak makan, tapi mau melihat Kampung Ketupat yg berada di Pekapuran, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Tempat sentra ini berada disepanjang Sungai Martapura.

Kampung Ketupat ini, menurut Agus Banjaria, salah seorang perajin ketupat, telah ada semenjak 1980-an. Di kampung ini banyak orang yg berusaha dgn membuat selongsong ketupat. Harga ketupat di sini relatif murah.Kita cukup perlu menyiapkan duti Rp 5.000 untuk ditukar dgn 10 selosong ketupat.  

Agus Banjaria dalam sehari dapat menjual 200 biji ketupat. Tapi, saat akhir pekan, penjualan dapat melonjak sampai dua kali lipat. “Biasanya setiap Sabtu dan Minggu banyak orang yg menikah, jadi orderan banyak,” jelasnya.  Bila dikalkulasi dalam seminggu, Banjaria bisa mengantungi keuntungan sekitar Rp 900.000. Untuk keuntungan bersihnya sekitar 50% dari keuntungan.

Sekarang yuk kita ngemil emping. Tapi, sori cuma ada sedikit, soalnya kita bukan mau ngomongin emping, tapi melinjo. Sudah tahu kan kalau emping dibuat dari melinjo. Nah, kita temui Eman Suhendi yg membudidayakan melinjo di Sumedang, Jawa Barat.

Eman mulai fokus menanam melinjo dan semenjak tahun 2000. Melinjo si Eman ditanam dilahan seluas satu hektare.  Eman memanen melinjo dua kali setahun, setiap Juni dan Desember.  Lahan seluas satu hektare  biasanya dapat ditanami lebih dari 100 pohon melinjo. Setiap pohon dapat menghasilkan 10 kg biji melinjo. Alhasil, sekali panen, Eman dapat menghasilkan sekitar 1,3 ton-1,5 ton melinjo siap kirim. Harga jual biji melinjo kupas rata-rata Rp 7.500 per kg. Eman mengatakan dapat mengantungi keuntungan senilai Rp 15 juta sekali panen. Lumayan juga ya.

Kita telah bertemu sama Eman, sekarang kita temui kokoru. Jangan kaget ya kalau kokoru cuwek bebek sama kita.  Kita ngomong apa saja, dia bakal diam. Enggak seru. Jelas saja enggak seru, kokoru itu bukan orang atau binatang, ini merupakan kerajinan melipat kertas. Betul, seperti origami, cukup kertas yg digunakan berbeda. Kokoru belum begitu dikenal karena trennya baru muncul selama dua tahun terakhir.

Salah satu perajin yg turut mempopulerkan seni melipat kertas ini adalah Pagy. Pemilik kokorusovenir.blogspot.com asal Tangerang ini bilang, ciri khas kokoru menggunakan kertas bergelombang aneka warna. “Kerajinan kertas kokoru ini merupakan perpaduan dari seni menggulung kertas dan melipat kertas,” katanya.

Dibandingkan dgn origami, kertas kokoru relatif lebih tebal dan memiliki kontur bergelombang. Kertas kokoru bisa digunakan untuk membuat objek tiga dimensi (3D) maupun 2D dgn cara melipat, menggulung, menggunting, dan mengelem.

Kokoru terdapat dalam dua jenis ukuran. Kokoru berbentuk seperti garis panjang bernama Ichi, dan kokoru hachi memiliki dimensi yg sama dgn kertas A4.  Ciptaan dari kokoru ini ia banderol mulai harga Rp 20.000–Rp 100.000 per pieces. Dalam sebulan, ia dapat mendapatkan minimal 50 orderan dalam model eceran maupun borongan,  dgn keuntungan Rp 2 juta.

Kokoru dapat juga dijadikan suvenir.  Bisa enggak ya jadi alat promosi? Ngomong-ngomong promosi, kita temui saja rajanya. Kita harus santun kalau mau bertemu raja. Eh, si raja ini bernama Didi Kurniadi. Kenapa disebut raja, karena usahanya memang bermerek Raja Promosi.

Syahdan, ada sebuah keluarga pedagang, di keluarga inilah Didi Kurniadi tinggal. Karena berlatar belakang keluarga pedagang, Didi memiliki jiwa berdagang semenjak kecil. Berbagai sektor usaha telah dia jalani ketika menghabiskan masa sekolah di Lampung. Mulai dari berjualan empek-empek, berjualan majalah, sampai menjadi agen penjual atau reseller produk suvenir dari Jakarta. Tak dinyana usaha terakhirnya ini mampu membawa pria berusia  35 tahun ini menuju pada kesuksesan finansial.  

Lewat merek usaha Radja Promosi, Didi berhasil membangun bisnis suvenir atau produk promosi di daerah tempat tinggalnya di Lampung. Dia mengklaim Radja Promosi adalah usaha suvenir produk promosi perdana yg berlokasi di Lampung. Latar belakang dia menjalankan usaha ini karena dulu dia melihat  belum ada media promosi yg unik di Lampung. “Kalau ada yg mau berpromosi, kalau tak pasang iklan, ya pasang spanduk,” ujarnya.

Usaha yg Didi rintis semenjak tahun 2009 ini telah mampu memproduksi ribuan suvenir setiap bulan. Harga jual produknya banyak. Pemesanan dapat satuan sampai ribuan. Untuk Produk termurah misalnya pena seharga Rp 1.700 per unit. Produk promosi yg termahal adalah tenda promosi seharga Rp 8,5 juta per unit. Didi mengatakan dapat mendapatkan sekitar 30 konsumen sampai 50 konsumen per bulan. Nilai pemesanannya rata-rata sekitar Rp 9 juta sampai Rp 10 juta per konsumen. Maka tak heran jika keuntungan usahanya dapat mencapai Rp 500 juta per bulan.

Maaf,  Raja Promosi, waktu telah mau habis. Terpaksa kita berpisah. Lagi pula di akhir pekan banyak hal yg harus dilakukan. Kalau begitu, kita berpisah dulu, dan  selamat berakhir pekan.
 

 

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.