Pertumbuhan laba bank-bank besar melambat

Friday, August 12th 2016. | Keuangan

JAKARTA. Ekonomi yg melambat mulai berimbas ke kinerja perbankan. Beberapa bank besar membukukan perlambatan laba di kuartal pertama tahun ini.

Ambil contoh, Bank Mandiri. Pada kuartal pertama tahun ini, bank beraset terbesar itu cukup mampu mencetak pertumbuhan laba 4,3% menjadi Rp 5,1 triliun, dari periode yg sama tahun 2014 sebesar Rp 4,9 triliun. Sebagai perbandingan, pada tiga bulan pertama tahun lalu, Bank Mandiri masih dapat mencetak kenaikan laba sebesar 14,5%.

Laba Bank Mandiri melambat sebab rasio kredit bermasalah alias non performing loan  (NPL) meningkat sebanyak 200 basis poin menjadi 0,89%.  Ini membuat Bank Mandiri menyiapkan provisi alias pencadangan sebesar Rp 1,5  triliun, lebih tinggi dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 1,2 triliun.

Saat bersamaan, cost of fund Bank Mandiri meningkat 35,3% menjadi Rp 6,85 triliun. Akibatnya, “Net interest margin (NIM) kami tergerus 0,3% menjadi 5,62%,” ujar Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri, Jumat (24/4).

Padahal, dari sisi pendapatan, Bank Mandiri masih mencatatkan pertumbuhan lumayan. Di kuartal satu lalu, pendapatan kembang Bank Mandiri naik 19,6% menjadi Rp 17,12 triliun. Pendapatan fee based income pun mekar 9,9% menjadi Rp 3,87 triliun. Begitu pula penyaluran kredit Bank Mandiri masih bertumbuh 13,3% menjadi Rp 532,8 triliun.

Sebelumnya, Bank Danamon juga tertekan di awal-awal tahun ini. Laba bank milik  Temasek  itu  turun  21% menjadi Rp 687 miliar pada kuartal satu 2015.

Bank CIMB Niaga lebih apes. Bank ini membukukan penurunan laba sampai 43,91% menjadi Rp  83 miliar. Sama seperti Bank Mandiri, CIMB harus menyisihkan provisi lebih besar, yakni Rp 7,37 triliun atau naik 80,6%.

Penyebabnya tak lain adalah rasio NPL gross yg membengkak dari 2,57% menjadi 4,07%. Nasib baik masih berpihak pada Bank Negara Indonesia (BNI). Di kuartal T 2015, laba bersih BNI naik 17,7% menjadi Rp 2,82 triliun. Periode sama tahun lalu, laba BNI tumbuh 15,46%.

Tekanan juga dialami Bank Internasional Indonesia (BII) sebab penyaluran kredit masih seret. Taswin Zakaria, Presiden Direktur BII menyatakan, kucuran kredit BII selama kuartal T 2015 cukup tumbuh di bawah 11%.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.