Sukses membangun usaha suvenir promosi di Lampung

Saturday, October 3rd 2015. | Peluang Usaha

Berasal dari keluarga yg berlatar belakang pedagang menjadikan Didi Kurniadi memiliki jiwa berdagang semenjak kecil. Apalagi dgn tuntutan ekonomi keluarga yg pas-pasan, membuat Didi telah terbiasa menjalankan bisnis untuk membantu orang tuanya semenjak dia masih remaja.

Berbagai sektor usaha telah dia jalankan ketika menghabiskan masa sekolah di Lampung, mulai dari berjualan empek-empek, berjualan majalah sampai menjadi agen penjual atau reseller produk suvenir dari Jakarta. Siapa sangka usaha terakhirnya ini mampu membawa pria berusia  35 tahun ini menuju pada kesuksesan finansial.

Lewat merek usaha Radja Promosi, Didi berhasil membangun bisnis suvenir atau produk promosi di daerah tempat tinggalnya di Lampung. Dia memberi nama Radja karena itu nama tertinggi dalam kasta kerajaan. “Hampir semua yg nama radja itu baik, jadi biar terdengar unik,” ceritanya.  

Dia mengklaim Radja Promosi adalah usaha suvenir produk promosi perdana yg berlokasi di Lampung. Latar belakang dia menjalankan usaha ini karena dulu dia melihat  belum ada media promosi yg unik di Lampung. “Kalau ada yg mau berpromosi atau beriklan, ya kalau tak pasang iklan, pasang spanduk,” ujarnya kepada KONTAN.

Usaha yg Didi rintis semenjak tahun 2009 ini telah mampu memproduksi ribuan suvenir setiap bulan. Beberapa produk suvenir tersebut di antaranya adalah handuk, boneka, payung, kaus, spanduk, mug, kotak tisu, jam, topi, tenda, pulpen, kipas, gantungan kunci, dan masih banyak lagi.

Dengan dibantu 20 orang karyawan untuk operasional, Radja Promosi sampai kini telah banyak mendapatkan klien di berbagai daerah di Sumatra dan Jawa. Sebagian besar pelanggannya berasal dari perusahaan-perusahaan besar seperti Indosat, Bank Mandiri, Bank BNI, Bank BRI dan hotel-hotel.

Harga jual produknya banyak. Pemesanan dapat satuan sampai ribuan. Untuk Produk termurah misalnya pena seharga Rp 1.700 per unit. Produk promosi yg termahal adalah tenda promosi seharga Rp 8,5 juta per unit. Didi mengatakan dapat mendapatkan sekitar 30 konsumen sampai 50 konsumen per bulan. Nilai pemesanannya rata-rata sekitar Rp 9 juta sampai Rp 10 juta per konsumen. Maka tak heran jika keuntungan usahanya dapat mencapai Rp 500 juta per bulan.

Kesuksesan Didi merintis usaha jasa suvenir dari nol sampai mampu mencetak keuntungan ratusan juta per bulan di Lampung ini menarik untuk dicontoh. Ini  membuatnya beberapa kali mendapatkan tawaran untuk menjadi pembicara di seminar kewirausahaan.

Ia pernah menjadi salah satu pembicara seminar Kun Fayakun for Business yg diselenggarakan oleh PPPA Daarul Quran Lampung. “Saya senang kalau berbagi ilmu bisnis kepada orang lain,” ujarnya.

Dalam memasarkan produknya, Didi rajin memasang iklan di koran lokal untuk menjangkau konsumen di Lampung. Sementara untuk skala nasional, dia memanfaatkan media sosial mulai dari situs radjapromosi.com, Facebook, dan Twitter. “Sebagian besar pemesanan yg datang masih via offline,” jelasnya. (Bersambung)

Search terms:

usaha yang belum ada di lampung,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.