Jajal banyak usaha sebelum menjajakan suvenir

Friday, December 22nd 2017. | Peluang Usaha

Didi Kurniadi besar di tengah keluarga dgn kondisi ekonomi pas-pasan. Ayahnya berprofesi sebagai pedagang soto ayam dan ibunya menjadi penjual sayur keliling. Kondisi ini membuat Didi lebih peka dgn keadaan ekonomi keluarganya.

Sejak kelas 3 SD sampai SMA, anak pertama dari lima bersaudara ini berjualan empek-empek untuk membantu keuangan keluarga. Bertahun-tahun berjualan membuatnya terbiasa dgn aktivitas ini.

Ketika menjadi mahasiswa di Universitas Lampung, Didi sempat menjadi pengurus anggaran dan usaha (danus) di salah satu organisasi kerohanian di fakultasnya selama tiga tahun. Dari situ, dia banyak belajar mengelola sebuah bisnis.

Lantaran telah terbiasa dgn profesi menjadi penjual, ketika lulus kuliah, pria kelahiran tahun 1980 ini sempat bergabung menjadi sales di sebuah lembaga pendidikan di Lampung.

Ketertarikannya berbisnis suvenir promosi berawal ketika dia menemukan sebuah iklan jasa suvenir promosi dari Jakarta berupa permen promosi di majalah pemasaran. Dia melihat, cara berpromosi dgn permen cukup menarik. Ketika itu di tahun 2004, tak ada media promosi selain spanduk dan pasang iklan di media massa di daerahnya.

Dari situ, Didi tertarik untuk menjadi tenaga penjual permen promosi tersebut. Dia akhirnya membuka usaha permen promosi cabang Lampung di akhir tahun 2004. Bermodal katalog dan contoh permen yg dia miliki, Didi mencoba menawarkan jasa promosi ini ke berbagai perusahaan di Lampung. Pada awal-awal berbisnis, Didi banyak mendapatkan penolakan.

Bahkan salah satu perusahaan mencemoohnya karena model penawaran Didi yg cukup menggunakan katalog dan contoh permen, bukan lewat proposal. “Saya pada saat itu cukup punya kemampuan menjadi tenaga penjual saja, untuk teknis penawaran ke perusahaan masih belum paham,” ujarnya.

Akhirnya dia memperbaiki sistem penjualannya dgn menggunakan proposal agar terlihat lebih profesional. Gayung bersambut, klien pertamanya datang dari salah satu calon wakil walikota yg sedang kampanye saat Pilkada. Saat itu orderan pertamanya sebanyak 150.000 unit permen dgn gambar sang calon wakil walikota berserta wakilnya. “Saya dapat bisa keuntungan Rp 4,5 juta pada saat itu,” ujarnya.

Seiring berjalannya waktu, permintaan jasa promosi melalui permen makin berdatangan. Beberapa kliennya adalah perusahaan besar seperti Bank BII dan Bank Mandiri cabang Lampung.

Namun sebab Didi belum dapat mengelola keuangan dgn baik, keuntungan yg dia bisa tak dia gunakan lagi untuk modal usaha. Sebagian besar keuntungan dia gunakan untuk keperluan pribadi. Akibatnya, Didi pun terlilit utang pada pembuat permen promosi sampai mencapai Rp 20 juta. Setelah memperbaiki sistem keuangan usahanya, dia dapat melunasi utang dgn cara mengangsur.

Usaha suvenir promosinya terus berkembang. Dia menambah variasi produk dgn menjadi agen penjual suvenir lainnya dari Jakarta. Di situ, pengalamannya terus bertambah. (Bersambung)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.