Jalan panjang Nafi memasarkan boiler

Sunday, December 17th 2017. | Peluang Usaha

Bisnis bukan tak mungkin berawal dari niat membantu. Nafi Rasyid yg memiliki usaha pembuatan ketel uap (boiler) telah membuktikannya. Ia tertarik mengembangkan boiler karena ingin membantu roda bisnis pengusaha kecil dan menengah (UKM).

Perjumpaan Nafi dgn para wirausaha kelas tanggung ke bawah itu terjadi saat ia berstatus mahasiswa Teknik Mesin. Institut Teknologi Bandung (ITB), tempat Nafi menuntut ilmu, pernah menggelar program menciptakan alat semacam itu yg menggunakan briket batubara sebagai bahan bakar.

Untuk dapat merancang alat semacam itu, Nafi pun blusukan ke sentra pembuatan tahu di Jawa Barat. Ia mengamati kebanyakan pengusaha kecil menengah belum mengenal boiler atau mesin penghasil uap. Padahal, mesin yg telah dikenal semenjak abad ke-17 ini, cocok untuk digunakan dalam berbagai proses produksi.

Namun di negara ini, cuma pengusaha skala besar yg dapat menikmati fungsi boiler. “Bagaimana industri kecil dapat bersaing kalau mereka tak menyadari telah menggunakan bahan bakar lebih banyak 50%, dgn tak menggunakan boiler,” ujar Nafi menjelaskan asal mula ketertarikannya mengembangkan boiler.

Para pembuat tahu yg diamati Nafi menggunakan alat tradisional untuk memainkan peran seperti boiler. “Mereka membakar kayu yg uapnya ditahan dalam drum. Itu tak efisien dan tak terjamin keamanannya,” kata Nafi.

Pada tahun 2007, Nafi mulai mengembangkan boiler. Awalnya, ia membuat boiler reguler, yg belum terlalu ideal untuk pengusaha kecil. “Agar dapat digunakan pembuat kecil, saya merancang alat yg tahan banting, murah, dan butuh perawatan sederhana,” ujar dia.

Nafi menghabiskan waktu sampai dua bulan untuk membuat boiler pertamanya. Boiler itu dibeli pemilik pabrik tahu di Cicalengka, Jawa Barat.

Kendati punya awal yg baik, usaha Nafi ibarat berjalan di tempat. Banyak pebisnis UKM yg meragukan kegunaan boiler buatan Nafi. Apalagi, banderol harga yg dipasang Nafi lumayan tinggi untuk ukuran pengusaha kelas mini, sekitar Rp 45 juta. “Memang, harganya mahal. Tapi jika dihitung dgn penghematan yg diperoleh, UKM dapat balik modal dalam lima bulan,” tutur Nafi.

Namun Nafi juga tak menutup mata terhadap berbagai usulan. Selama hampir lima tahun, ia mengadakan riset merancang boiler yg lebih pas untuk pengusaha kelas bawah. Nafi juga tak bosan-bosan melakukan penyuluhan.

Tak tanggung-tanggung, ia mendatangi masyarakat dari rumah ke rumah. “Waktu di Garut, saya langsung masuk ke kampung-kampung. Di Bandung juga begitu,” tutur dia. Memang, fokus utama Nafi saat itu bukan penjualan, melainkan edukasi agar semakin banyak yg paham kegunaan boiler.

Mulai komersial

Di masa paceklik itu, Nafi sempat tergoda untuk pindah jalur, menjadi karyawan. Namun panggilan untuk membantu UKM ternyata lebih kuat dibandingkan dgn godaan untuk berkarier di perusahaan orang. “Saya menjadi optimistis ketika boiler yg saya buat berhasil mengembangkan sebuah UKM yg hampir bangkrut,” ujar dia. Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) menebalkan keyakinan Nafi bahwa boiler merupakan solusi berhemat pengusaha kecil.

Pada 2012 ia mulai menggunakan stainless steel sebagai bahan boiler. Ia juga mendesain boiler buatannya dalam ukuran lebih kecil daripada boiler biasa. Ia juga membuat boiler dgn roda sehingga gampang dipindahkan (portabel).

Sistem pembakaran yg digunakan boiler mini memungkinkan penggunanya menghemat bahan bakar sampai 50%. Keunggulan lain boiler mini adalah dapat menggunakan berbagai bahan bakar yg mudah ditemukan, seperti kayu, batubara atau cangkang sawit.

Setahun kemudian, bisnis Nafi bergulir lancar. Boiler mini tak kesulitan mencari pembeli. Momen ini tak disia-siakan Nafi. Bersama sang istri, Ratna Yanti Kosasih, ia mendirikan PT Bumibraja Nusantara di Bandung, Jawa Barat. “Saya cukup dapat membuat, tapi tak dapat menjual,” ucap Nafi. Ia mendelegasikan urusan bisnis ke sang istri dan rekannya, Adriansyah.

Kendati telah menggunakan bendera PT, Nafi tak mengubah misinya mendorong kemajuan UKM. Ia membuat program deposit bagi pengusaha kecil. “Kami meminjamkan boiler, tetapi mereka harus pesan bahan bakar dari kami,” kata dia.

Nafi masuk ke bisnis bahan bakar boiler, dua tahun lalu, juga untuk memenuhi permintaan pembeli boiler mini . Batubara yg disebut sebagai bahan bakar terbaik boiler, sulit diperoleh kebanyakan pembeli boiler Nafi. “Mereka tak mau membeli boiler kalau tak ada bahan bakar,” kata dia.

Permintaan bahan bakar dari pemilik boiler memperlihatkan tren peningkatan. Saat ini, Nafi dapat menjual 100 ton batubara saban bulan. Ia juga menjual 20 ton cangkang sawit. Cangkang ini juga dapat digunakan sebagai bahan bakar pada boiler.

Selama dua tahun ini, Nafi telah menjual 60 unit boiler mini . Tahun lalu, Bumibraja Nusantara mencetak keuntungan Rp 1,9 miliar. Adapun pemasukan dari penjualan bahan bakar sekitar Rp 800 juta selama setahun.

Kini, Bumibraja Nusantara memproduksi boiler dalam tiga ukuran, yakni kecil, sedang, dan besar. Harga per unit berkisar Rp 45 juta-Rp 150 juta.

Usaha Nafi memang masih punya kendala. “Kalau jarak pembeli jauh dari Bandung, kami kesulitan melakukan perawatan atau perbaikan,” ujar dia. Pengguna boiler kini berasal usaha pembuatan tahu, kerupuk, jamur, kembang tahu, agar-agar, batik. Ada juga pebisnis restoran dan binatu.

Nafi tak serta merta puas dgn hasil yg telah ia capai. “Karena tujuannya untuk membantu, kami akan terus kembangkan usaha ini,” ujar dia.

Rajin turut kompetisi

Kehadiran technopreneur atau wirausaha di bidang teknologi mulai terasa beberapa tahun terakhir. Naïf Rasyid mengakui, sekarang ini peluang sarjana untuk menggeluti dunia usaha terbuka lebar. Banyak pihak yg mendukung pengusaha berbasis teknologi ini melalui banyak kompetisi.

Dua lomba yg pernah diikuti Nafi adalah Yayasan Inovasi Teknologi (Inotek) dan Mandiri Young Technopreneur (MYT). Dari kedua kompetisi tersebut, boiler mini r buatan Nafi mendapat apresiasi positif. Di Inotek, ia berhasil mendapat anggaran hibah US$ 10.000 dan program inkubasi selama dua tahun. Baru-baru ini, ia juga diganjar gelar pemenang pertama kategori Non-digital dalam kompetisi MYT.

Nafi mengakui sempat menemui kendala ketika mengembangkan boiler mini sebagai produk komersial. “Saya ingin menciptakan produk dgn teknologi yg begitu canggih dan modern, tetapi ternyata tak tepat sasaran. Customer inginnya model yg murah dan sederhana, tetapi berguna bagi mereka,” tutur dia.

Dus, ia sangat menghargai saat sang istri, Ratna Yanti Kosasih, mau bergabung dengannya mengembangkan boiler mini . Padahal Ratna sempat bekerja di perusahaan minyak ternama, Schlumberger, selama lima tahun. “Dia mau keluar dari pekerjaannya dan kami pun mulai fokus menjadikan ini sebagai usaha, bersama dgn teman saya yg lain, Adriansyah,” ucapnya.

Kendati pemiliknya punya relasi personal, Nafi menyatakan, PT Bumibraja Nusantara tetap dikelola secara profesional. Ketiga pemilik saham Bumibraja telah menetapkan posisinya masing-masing semenjak awal.

Ratna menjabat sebagai Direktur Utama, sedang Nafi menjadi Direktur Teknik. Adapun Adriansyah, yg tengah bekerja di luar negeri,  kebagian peran sebagai Komisaris. “Konflik kecil pasti ada. Tetapi sejauh ini visi kami masih tetap sama. Dan setiap orang telah mengetahui perannya masing-masing,” cetus Nafi.                  

 

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.