Usaha biro perjalanan online, masih menarik?

Sunday, September 27th 2015. | Peluang Usaha

Belakangan ini sering terdengar promosi di sejumlah radio yg gencar menawarkan keagenan tur dan travel. Promosi itu begitu menggiurkan, sebab menjanjikan keuntungan dan balik modal yg cepat.

Salah satu pemain yg menawarkan usaha ini adalah Bardan Priyanto, pemilik Alfafa Tour and Travel di Bekasi, Jawa Barat. Melalui radio, Badran memang aktif menawarkan usaha tur dan travel online semenjak Oktober 2014 lalu.

Sejatinya, Bardan telah menjalani bisnis agen perjalanan ini semenjak dua tahun silam, dgn nama Alfafa Tour dan Travel. Dia fokus menawarkan paket haji dan umrah. Namun, semenjak tahun lalu, Badran menambah lini bisnisnya dgn menjual perangkat lunak (software) untuk penjualan tiket.

Badran mengatakan menambah lini baru untuk mendongkrak keuntungan. “Dari menjual tiket perjalanan, saya cukup dapat mengantongi Rp 40 juta per bulan,” tutur dia.

Software ini memungkinkan semua orang dapat menjadi agen perjalanan. Karena beroperasi dalam sistem web based, Badran bilang semua orang dapat menggunakannya dgn mudah. “Yang penting, agen memiliki ponsel dan jaringan internet, karena software ini tak perlu dipasang pada komputer,” kata dia seraya berpromosi.

Pada calon agen yg tertarik, Badran menjual software tersebut seharga Rp 1,75 juta. Setelah itu, pembeli akan mendapat username dan password yg dapat digunakan untuk melakukan penjualan. Pembeli software juga dapat mendapat pelatihan penggunaannya secara gratis di kantor Alfafa.

“Selain tiket pesawat, software yg saya beli dari MMBC Tour and Travel itu dapat digunakan untuk sejumlah transaksi,” ujar Badran. Software juga dapat menjual tiket kereta, hotel, paket tur perjalanan, paket haji dan umroh, serta pembayaran token listrik, telepon, air, internet, dan tv kabel, serta penjualan pulsa, layaknya jasa payment point online bank (PPOB). Para agen juga bebas memilih nama usaha sendiri.

Agen akan mendapat keuntungan sebagai berikut. Dari akses untuk menjual tiket 13 maskapai penerbangan, keuntungan berkisar 2%–3,5% dari penjualan tiket pesawat. Lalu, profit dari penjualan paket haji dan umroh sebesar Rp 3 juta per paket, sementara paket tur perjalanan Rp 250.000–
Rp 750.000, tiket kereta senilai Rp 3.500 per lembar, serta keuntungan dari pembayaran token sebesar Rp 3.000 per transaksi. Dan, dari tiap transaksi, Alfafa mendapatkan laba 0,1%.

Selain menjual software untuk menjadi agen perjalanan, Badran juga membuka tawaran untuk orang yg mau menjadi distributor software. Kini, dia menjual software pada distributor seharga Rp 5 juta.

Software yg mereka dapatkan sama dgn software yg milik Badran. Jadi, distributor dapat menjual kembali software sebanyak yg mereka dapat. “Hingga kini, saya punya 100 distributor dan sekitar 1.000 orang agen perjalanan di Jabodetabek,” terang Badran.

Badran mencium peluang untuk menjual software sebab sekarang ini banyak orang yg mau memiliki usaha sendiri, tapi bingung menentukan jenis usahanya. Dia menilai, peluang usaha agen perjalanan ini sangat menjanjikan karena banyak orang yg bepergian dgn pesawat. “Apalagi, modalnya tak terlalu besar, orang-orang dapat mendapat keuntungan asal mereka mau berusaha,” kata dia.

Untuk menjual software, Badran mengadakan seminar tentang usaha ini. Dari seminar itu, muncul orang-orang yg tertarik membeli software. Tiap seminar yg berlangsung selama tiga jam, peserta dikenakan biaya Rp 75.000 per orang. Seminar diselenggarakan tiap akhir pekan, yaitu hari Sabtu dan Minggu.

Awalnya, peserta seminar Alfafa cukup 30 orang. Namun, semenjak Desember, Badran mulai rajin berpromosi di berbagai radio Jabodetabek. Pengeluaran untuk iklan ini cukup besar. “Dalam seminggu, saya dapat menghabiskan Rp 200 juta untuk pasang iklan di radio serta mengisi talkshow di radio,” ujar dia. Sejauh ini, dia pernah mengiklankan Alfafa di lebih dari 20 stasiun radio.

Promosi ini berhasil mendongkrak peserta seminar. Kini, dia mengadakan seminar selama akhir pekan dibantu satu tim lain. Peserta seminar 100 orang–400 orang. Bahkan sekarang saya punya dua tim untuk seminar. “Saya telah melatih karyawan saya untuk dapat menjadi pembicara seminar juga,” ujar dia.

Setelah mengikuti seminar, biasanya peserta membeli software Alfafa. Tiap minggu, setidaknya dapat terjual software pada 75 orang sampai 100 orang. Nah, dalam sebulan saya dapat meraup penghasilan sekitar Rp 400 juta. Sekarang, penjualan software mendominasi pemasukan Alfafa.

Koneksi dan fokus

Salah satu orang yg tertarik untuk menjadi agen Alfafa adalah Eka Sihotang. Karyawan swasta ini membeli software pada 1 November 2014 lalu. Dia menjalankan usaha agen tiket ini sebagai bisnis sampingan.

Eka memberi nama usahanya Love Jalan (Loja) Travel. Dalam satu bulan pertama, bertepatan dgn persiapan libur akhir tahun, dia berhasil mendapatkan untung Rp 700.000. “Itu keuntungan karena bisnis ini berjalan tanpa modal,” ujar dia. Pasalnya, tiket pesawat akan dipesannya, setelah konsumen mentransfer sejumlah uang sesuai harga tiket. Modal yg dikeluarkan berupa deposit yg dipakai untuk pembelian pulsa. Minimal deposit Rp 500.000.

Eka bilang, penjualan terbanyak adalah tiket pesawat. Dari penjualan tiket ini, dia memperoleh untung 2%–3% dari harga jual tiket. Setelah tiket, penjualan laris lainnya adalah pulsa.

Dalam dua bulan selanjutnya, Eka mengatakan mendapat untung Rp 1 juta tiap bulan. Bahkan, dia meng-upgrade posisinya dari agen menjadi distributor sebab ada temannya yg tertarik mengikuti langkahnya. “Kalau jadi agen, saya tak dapat menjual software,” kata dia. Kini, dia telah memiliki satu agen dan satu distributor.

Lantaran sibuk pada pekerjaannya, Eka mengatakan kurang dapat fokus pada pekerjaan ini. Alhasil, dia tak menggarap perannya sebagai distributor dgn serius. Sebulan terakhir, dia juga kurang aktif berbisnis keagenan tiket.

Namun, dia bilang, kunci sukses bisnis ini adalah banyak jaringan dan fokus. “Kesuksesan bisnis ini tergantung koneksi, saya selalu rajin broadcast lewat BlackBerry Messenger,” ujar penyuka jalan-jalan ini.

Selain Eka, Danu Raga Aenudin juga tertarik mengikuti langkah Badran. “Saya turut seminar pada 3 Januari 2015 karena mendengar promosinya di radio,” ujarnya. Awalnya, Danu mendaftar seminar untuk ayahnya yg telah pensiun.

Dari seminar, Danu mengendus ada tawaran menjadi distributor software unlimited. Awalnya, dia mendapatkan harga Rp 25 juta. “Namun, setelah saya tawar, saya dapat beli seharga Rp 5 juta,” ungkap dia.

Tidak sampai seminggu, Danu mendapatkan username dan password. Lalu dia mengaajari keluarganya cara mengoperasikan software tersebut, karena belum percaya diri untuk memulai usaha tur dan travel. Bahkan, selama bulan Januari, pria 26 tahun ini mengikuti seminar Bardan sampai lima kali. “Ini untuk memantapkan pengetahuan saya mengenai software,” ujar dia. Tak cukup itu, Danu belajar soal cara pemasaran yg bagus untuk usaha agen perjalanan ini.

Lalu, pada Februari Danu mulai usaha dgn nama Maestro Travelindo. Dia menyewa ruko milik teman yg kebetulan juga punya usaha biro perjalanan umrah. “Jadi, untuk modal awal saya keluar Rp 30 juta. Selain untuk membeli software, turut seminar, sewa tempat, membeli peralatan kantor, modal itu juga untuk menyewa tiga orang lain sebagai karyawan,” ujar dia.

Dia pun mengikuti langkah Bardan dalam mempromosikan usaha software ini di radio dan melalui seminar. Tiap dua minggu sekali, Danu mengadakan seminar. Biasanya, orang yg datang mencapai 50 orang. “Nah, dari beberapa kali seminar, saya telah punya 40 agen yg bergabung,” ujar dia.

Danu pun mengakui memasang iklan di radio cukup efektif. Namun, hal itu juga harus dibantu dgn seminar. Dia juga bekerja sama dgn agen agar mereka mengajak teman untuk turut seminarnya.

Menurutnya, persaingan belum terlalu ketat karena yg pasang iklan di radio dan bikin seminar belum banyak. Peluang usaha masih terbuka lebar karena permintaan akan tiket dan vocer pulsa banyak sekali. Minimal pulsa dan tv kabel dan listrik digunakan sehari-hari oleh semua orang.

Kue makin kecil

Sejauh ini, Danu belum menemui kendala berarti. Pada bulan pertama usaha, keuntungan saya mencapai Rp 60 juta. Dia pun memasang target modalnya kembali dalam tiga bulan. Pengeluaran bulanan untuk usaha ini selain untuk menggaji karyawan dan operasional ialah biaya promosi yg mencapai 50% dari total pengeluaran.

Pengamat bisnis dari Proverb Consulting, Erwin Halim, menyatakan usaha ini sebenarnya bukan barang baru. Selama beberapa tahun belakangan, usaha biro perjalanan yg menjual software ini mulai gencar.

Namun, kondisi itu bukan berarti terjadi pergeseran pada usaha biro perjalanan. “Saya pikir ini cukup penggabungan beberapa fasilitas saja. Dari yg tadinya cukup menjual tiket pesawat, tapi sekarang dapat jadi bayar token listrik dan lainnya,” ujarnya.

Erwin pun menegaskan, usaha macam ini cukup tren sesaat. Pasalnya, peningkatan jumlah agen yg membeli software tak sebanding dgn naiknya keperluan terhadap tiket dan transaksi pembayaran. Secara volume memang bertambah, tapi pertambahan penduduk tak sepesat itu.

Erwin mengakui, keuntungan dari penjualan tiket pesawat memang sangat tipis. Inilah yg memunculkan ide untuk menambah fasilitas penjualan software pada usaha biro perjalanan. “Mereka memutar arah bisnis, jadi tak cukup mengandalkan komisi tapi juga menjual software,” kata dia.

Ia menambahkan, masyarakat harus waspada terhadap tawaran usaha ini. Walaupun tak merugikan secara ekonomi, usaha ini potensinya semakin kecil bila agen perjalanan yg membeli software bertambah terus. “Pembeli software alias agen memang tak dirugikan, tapi kue usahanya semakin kecil, apalagi jumlah agen kian meningkat,” tutur dia.

Usaha sampingan yg terdengar menggiurkan

Meski promosinya terdengar menggiurkan, lebih baik jika Anda menjadikan usaha penjualan agen perjalanan online sebagai usaha sampingan. Inilah yg dilakukan para pelaku usaha yg terjun menjual software agen perjalanan.

Danu Raga Aenudin, misalnya. Sebelum mendirikan Maestro Travelindo, pria berusia 26 tahun ini telah punya usaha penjualan buku bahasa Inggris. Nah, setelah jadi distributor software, ia tak lantas meninggalkan usaha itu.

Banyak alasan yg ia kemukakan. Salah satunya adalah usaha ini baru saja berjalan. Dengan demikian, ia harus punya cadangan jika saja usaha barunya ini tak berhasil. Walaupun dia mengatakan, keuntungan yg dihasilkan mulai terlihat menggiurkan.

Demikian pula dgn Bardan Prasetyo yg masih mempertahankan posisinya sebagai pegawai pemasaran di salah satu perusahaan otomotif ternama ketika memulai usaha ini. Seiring berkembangnya usaha, dia pun melepaskan pekerjaan utamanya itu dan fokus ke Alfafa Tour and Travel.

Eka Sihotang, pemilik Love Jalan Travel pun menempuh langkah yg sama. Bisnis biro perjalanan online ini dilakoninya sebagai usaha sampingan.  Karena itu, dia mengatakan kurang fokus dalam sebulan terakhir sebab harus berkonsentrasi pada pekerjaannya setelah mendapat promosi.

Untuk meningkatkan keuntungan, Eka yg gemar jalan-jalan ini juga merancang paket-paket wisata tersendiri. “Saya membuat paket perjalanan ke Pulau Derawan, Pulau Seribu, dan lainnya supaya profit bertambah,” ujar dia.                                           

 

Search terms:

pt karya arun marine batam, Pt karya arun marine, pt karya arun marine pulau sambu batam, pt karya arun marine pulau sambu, Pt Karya arum marine, lowongan kerja pt karya arun marine batam, alfafa universal kaskus, pt karya arun merine batam, dekorasi agen sembako, Contoh banner agen sosis,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.