Budidaya Cacing Tanah, Kenapa memilih Jenis Lumbricus Rubellus?

Wednesday, July 20th 2016. | Analisis

buku budidaya cacing lumbricusBanyak jenis cacing yg dapat diternakkan dan memiliki potensi ekonomi luar biasa, meski banyak jenis cacing dgn harga jual yg lebih tinggi, namun ada jenis cacing yg ternyata lebih menjanjikan banyak keuntungan, yaitu jenis Lumbricus Rubellus. Untuk budidaya cacing tanah, Kenapa memilih Jenis Lumbricus Rubellus? Karena salah satu manfaatnya adalah potensi farmasi yg ada dalam kandungan cacing lumbricus tersebut, selain itu, cacing jenis ini juga sangat baik sebagai campuran pakan ternak dan ikan untuk menekan biaya pembelian pakan yg semakin tinggi, sehingga secara langsung juga akan meningkatkan persentase keuntungan bagi pengelola peternakan yg memanfaatkan cacing ini.

Seperti yg kita tahu, bahwa telah terbukti turun temurun, jika cacing jenis ini atau biasa dikenal di masyarakat sebagai cacing merah mampu menyembuhkan penyakit tipes. Cacing lumbricus memang dikenal sangat perakus, hal inilah yg membuat produktivitas kascing yg dihasilkan oleh lumbricus lebih banyak dibanding dgn jenis cacing lainnya. Cacing Lumbricus Rubellus sendiri mempunyai model tubuh pipih dan agak bulat. Jumlah segmen yg dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yg terletak pada segmen 27-32.

“Kandungan protein yg ada dalam cacing tanah, khususnya lumbricus juga cukup tinggi sehingga sangat bagus untuk campuran sumber pakan ternak. Karena inilah, beberapa peternak lele mengganti tepung ikan sebagai sumber protein dalam pellet dgn tepung cacing. Jika cacing ini hasil dari kebun atau ternakan sendiri, maka biaya pakan lele dapat di tekan seminal mungkin. Hal ini tentu saja dapat memaksimalkan keuntungan dari lele.” Ungkap Ahmed, pengelola budidaya cacing Wartawira Farm.

Kendala dan Hambatan Dalam Budidaya Cacing Tanah

Semua usaha memang tak terlepas dari kendala dan hambatan. Dalam budidaya cacing, sebenarnya hambatannya cukup minim. Bahkan, dapat dibilang tak ada jika kita mengantisipasinya sebelum hambatan tersebut datang. Beberapa kendala yg sering dialami oleh peternak adalah adanya semut merah, hewan pemangsa serta factor cuaca yg tak bersahabat.

Semut dapat dibilang menjadi kendala yg sering dialami oleh peternak. Khususnya semut merah yg kerap mengambil makanan dari cacing, serta memangsa anakan cacing yg masih kecil. Antisipasinya cukup mudah, jika sistem kolamnya dibuat rak, maka kaki-kaki rak tersebut dapat dikasih air, sehingga semut tak dapat naik ke atas.

“Namun, jika sistem kolamnya menggunakan jedingan atau batu bata. Luar kolam dijaga agar tetap bersih dan basah, sehingga semut tak mendekat ke kolam. Jika masih banyak semut, dapat diberi roti bolu atau air gula yg telah diberi sedikit regent (racun semut), dan usahakan jebakan semut ini jangan dikasih di dalam kolam, melainkan di luar kolam. Biasanya semuat akan membawa sumber makanan ke lubang mereka dan akan membasmi mereka semua.” Ungkap ahmed yg juga menjual bibit cacing jenis lumbricus serta kascing ini.

Kendala lain adalah hewan pemangsa cacing. Beberapa hewan pemangsa adalah ayam, burung, kadal, sampai tikus. Dengan membuat kadang bersih dan diberi batasan atau pagar dari jaring, biasanya akan menghambat masuknya hewan predator. Selain itu, atas kolam dapat juga ditutup dgn anyaman bambu. “Penggunaan anyaman untuk menutup kolam, selain dapat untuk menghindari binatang pemangsa juga mampu meredam panas dan mengatur suhu di dalam kolam.” Ungkap pria yg juga menjadi mentor untuk beberapa peternak mitranya ini.

Kendala lain yg sulit untuk diantisipasi adalah factor cuaca. Pada saat kemarau panjang, dgn suhu yg lumayan panas. Biasanya cacing tak dapat berkembang dgn baik. Hal ini wajar, karena pengaruh oleh panas dapat berefek pada reproduksi cacing. Pada saat musim kemarau, sebaiknya terus dipantau kelembaban media, jangan sampai media terlalu kering. Jika media kering, hal pertama yg dilakukan adalah segera memberi air di atas media dgn cara disiram.

Sistem Rak dan Kolam Sama-sama Menguntungkan

Kolam cacing dapat menggunakan beberapa sistem, sistem pertama adalah dgn sistem rak. Model kandang cacing dibuat bertumpuk dgn lebar tak lebih dari satu meter. Model kandang seperti ini, cukup memudahkan peternak dalam mengecek cacing tiap saat. Selain itu, pemberian pakan dan pemanenan juga lebih simple.
Model rak juga cukup efisien dalam menghalau hewan pemangsa dan semut merah. Selain itu, sistem rak juga cukup simple dan dapat ditempatkan di ruang sempit sekalipun. Namun, untuk mengejar kapasitas besar dan produksi kascing yg melimpah, sistem rak tak dianjurkan.

“Biasanya jika kita ingin menjual hasil kascingnya, kita dapat menggunakan sistem jedingan atau kolam permanen. Kolam dapat dibuat dgn ukuran 4 x 1 x 0,5 meter dan di bawah kolam diberi batu bata dgn list sement di pinggirnya, agar air dapat tetap terserap. Budidaya cacing dgn sistem kolam, cukup ampuh dalam mengejar kuantitas produksi cacing, dan juga dapat meningkatkan produktivitas kascing.” Tambahnya.

Pemasaran Cacing Ternyata Sangat Variatif

“Pada awal budidaya kami memang cukup kesulitan dalam memasarkan, karena sangat tergantung pada beberapa pengepul. Perlahan, kami mencari pangsa pasar cara lain untuk menyalurkan hasil panen. Beberapa pasar tersebut, cukup variatif, mulai dari pemancingan, peternak ikan lele dan sidat, pengusaha pupuk organic, sampai petani organic dan tanaman hias yg siap menampung kascing dari kami.” Ungkap Ahmed.

Banyak koperasi cacing didirikan di beberapa wilayah, hal ini menjadi angin segar bagi peternak cacing, bahwa pemasaran cacing mulai terjamin. Di daerah Sidoarjo, sekarang ini melalui koperasi cacing bahkan membuat diversifikasi produk dari olahan cacing, beberapa diantaranya bahkan cukup terkenal di masyarakat, seperti obat tipes dan minuman penambah energi yg dibuat dari campuran ekstrak cacing. Selain itu, banyak peternak ikan lele yg membuat pellet dgn menggunakan bahan campuran tepung cacing ini untuk mengganti tepung ikan yg sekarang ini harganya cukup tinggi. Bahkan, menurut pengakuan peternak ikan lele, pellet dgn campuran tepung cacing mampu meningkatkan bobot ikan lele di kolam dan mempercepat proses panennya.

Cacing juga menjadi komoditas ekspor yg cukup menjanjikan. Beberapa daerah, seperti Bandung dan Malang sebagai salah satu sentra penghasil cacing yg cukup besar menjadi penyumbang ekspor terbesar untuk cacing ini. “Kita juga dapat bekerjasama dgn peternak burung ocehan, semisal jalak suren dan murai medan untuk menyediakan bahan pangan cacing. Menurut beberapa penelitian dan pengalaman seorang peternak burung murai, burung ocehan yg diberi pakan cacing umumnya memiliki kesehatan yg prima dan produknya lancar.”

Jadi, tunggu apa lagi. Tak cukup bagus untuk kerjaan sampingan, budidaya cacing jika ditekuni juga dapat menjadi kerjaan utama dalam meraup keuntungan berwirausaha.

(**Dikutip dari buku Wirausaha “Cerdas Meraup Laba Budidaya Cacing Lumbricus Rubellus” hal. 73. )

Budidaya Cacing Tanah, Kenapa memilih Jenis Lumbricus Rubellus? appeared first on Info Wirausaha, Peluang Usaha dan Tips

Search terms:

pengepul cacing tanah di sidoarjo, alamat koperasi cacing sidoarjo, pengepul cacing tanah sidoarjo, analisa usaha cacing lumbricus rubellus, pengepul cacing, pemasaran cacing tanah di sidoarjo,

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.