Nurana menerangi pulau dengan arus laut

Friday, November 10th 2017. | Peluang Usaha

Tak pernah terlintas di benak Nurana Indah Paramita untuk mempresentasikan bisnisnya di hadapan presiden Indonesia. Namun Kamis pekan lalu,  perempuan yg akrab disapa Mita ini dipanggil langsung oleh Presiden Joko Widodo ke panggung bersama dgn dua pengusaha muda lainnya.

Pada acara tersebut, Presiden Jokowi menanyakan perihal usaha yg dijalani perempuan berusia 29 tahun itu. Dengan percaya diri, Mita pun menerangkan usaha pembuatan turbin pembangkit listrik tenaga arus laut yg bernama L-Files.

Mita memang bukan perempuan biasa. Selama kuliah, ia telah berhasil menghasilkan turbin bernilai miliaran rupiah. Perusahaannya menjadi pionir dalam mendesain dan mengembangkan turbin dgn energi cara lain, yakni arus laut.

Ide untuk membuat turbin muncul saat Mita masih menjalani kuliah jurusan Oceanografi di Institut Teknologi Bandung. Ia mengajak teman-temannya dari berbagai jurusan untuk membuat kelompok belajar. Mereka pun membuat suatu produk diharapkan menjadi solusi bagi pemenuhan keperluan listrik di Indonesia.

Lahirlah turbin yg digerakkan oleh arus laut. Mita bilang, timnya butuh waktu tiga tahun sampai turbin pertama tercipta dan bernilai ekonomi. Pertama kali, turbin itu digunakan di Pantai Mutiara, Jakarta Utara.

Pada 2005, Mita memutuskan mendirikan PT L-Files Indonesia Pioneer. “Kalau tak jadi PT, nasib L-Files cukup berupa riset yg jadi bahan di laboratorium,” tutur dia. Lagipula, perempuan kelahiran Bandung ini memang bersemangat untuk jadi pengusaha.

Mita menggelontorkan modal Rp 10 juta untuk merintis usahanya. Mita bilang, modal awal itu didapat setelah mengikuti Program Kreativitas Masyarakat. Dana tersebut terpakai untuk membuat miniatur pembangkit listrik.

Mita menyodorkan alasan yg terkesan idealis saat memilih jurusan Oceanografi di bangku kuliah. Jati diri Indonesia adalah negara maritim. Bahkan, negara ini punya sejarah maritim yg cemerlang di bawah Kerajaan Majapahit. “Hal itu tak boleh dilupakan karena dgn begitu Indonesia akan kehilangan jati diri,” kata dia.

Kecintaan terhadap laut juga terpupuk semenjak Mita kecil. Di masa kanak-kanaknya, Mita kerap diajak kedua orangtuanya berekreasi di daerah pantai. Beranjak dewasa, Mita sempat menikmati kegiatan menyelam di laut. Pengalaman itu membukakan matanya terhadap pentingnya laut Indonesia.

Namun niat menjadi pengusaha memang baru tercetus di masa kuliah. Setelah mendirikan L-Files, Mita pun memantapkan pengetahuan bisnisnya dgn mengambil jurusan magister bisnis di ITB.

Menurut Mita, kunci utama kesuksesan L-Files adalah keberanian. “Saya nekat menawarkan produk ini ke banyak pihak, terutama pemerintah,” ujar dia. Hingga kini, klien L-Files memang kebanyakan pemerintah dan perusahaan.

Ia menjual turbin ke pemerintah agar masyarakat terpencil dapat menikmati listrik. “Rakyat tak dapat bayar, karena untuk makan saja sulit. Makanya kami jual ke pemerintah yg bertanggungjawab menyediakan infrastruktur,” ujar dia.

Mita juga menawarkan turbin ke perusahaan yg hendak menggulirkan program Corporate Social Responbility. Menurut Mita, ketimbang menggelar acara, lebih baik perusahaan menyediakan turbin ke masyarakat membutuhkan listrik.

Jadi rekan Singapura

Mita mengingatkan agar tak membayangkan turbin buatan L-Files dapat menghasilkan listrik yg mampu mengoperasikan alat elektronik skala berat. “Listrik dari turbin ini cukup digunakan untuk menyalakan lampu saja,” kata dia.

Mita bilang, melalui L-Files, setidaknya masyarakat dapat menikmati listrik dgn penerangan lampu. Nah, penerangan ini dapat digunakan untuk kapal bersandar di malam hari. Masyarakat di pelosok pun dapat menyelenggarakan pasar malam yg dapat meningkatkan roda ekonominya.

Ia melanjutkan, L-Files telah mengalami banyak pengembangan. Kala dibuat pada 2005, turbin ini cukup mampu menghasilkan daya sebesar 500 watt. Namun, daya itu kian meningkat. Kini, turbin bertenaga arus laut ini dapat menghasilkan listrik berdaya 10 kVa.

Harga jual turbin ini sama dgn solar sel. Namun, biaya memproduksi listrik dari turbin memang belum dapat menyaingi pembangkit yg menggunakan batubara. “Turbin lebih pas sebagai perintis untuk pulau yg tak punya listrik,” ujar dia.

Setiap kilowatt listrik yg dibuat turbin dijual seharga US$ 40.000 per kW. Mita bilang, tiap klien biasanya membeli turbin dgn daya 10 kW. Turbin berkapasitas itu dapat menghasilkan listrik untuk dua desa.

Mita mengatakan bisnis turbin L-Files memang menguntungkan. Perusahaannya telah mengerjakan beberapa proyek pengadaan turbin. Selain di Pantai Mutiara, turbin L-Files digunakan di Jembatan Suramadu serta Nusa Penida, Bali.

Namun, untuk mengembangkan L-Files, Mita masih butuh  investasi. Sementara, kenaikan harga jual turbin bukan jalan keluar yg bijaksana. “Sayang kalau harga jual mahal dan jarang yg beli, rakyat tak dapat menikmati listrik,” ucap Mita.

Mita dan rekan-rekan pun menambah lini bisnisnya dgn menerima orderan jasa yg berkaitan dgn engineering atau teknik. Sejauh ini, perusahaannya kerap diminta untuk mendesain produk, tempat, bahkan membuat bor untuk minyak. “Logika klien, kalau bikin turbin saja dapat, pasti hal-hal lain juga mampu,” ujarnya.

Nah, keuntungan dari proyek tersebut digunakan untuk mengembangkan L-Files. Di samping itu, semenjak tahun lalu Mita resmi jadi rekan bisnis SMRT Singapura. SMRT merupakan perusahaan transportasi publik di negara Singa itu. Tahun ini, L-Files akan bekerja sama dgn SMRT dalam satu proyek transportasi di Bandung.      

Panen penghargaan dan jabatan

Kerja keras Nurana Indah Paramita dalam membesarkan L-Files berbuah manis. Tak cuma meraup untung, Mita juga menjawab keinginan masyarakat di pulau terpencil menikmati pasokan listrik. Ia juga mengembangkan potensi kelautan yg memang semakin gencar dilakukan di negara ini.

Tak cukup itu, perempuan yg berulang tahun setiap 4 April ini menuai banyak penghargaan, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Inovasi dalam bidang teknologi yg dilakukan Mita dan rekan-rekannya pertama kali dilirik Jepang. Enam tahun silam, L-Files memenangkan peringkat kedua dalam ajang Business Plan Contest School of Internet (SOI).

Mita dan tim juga pernah menjadi runner up Global Entrepreneur Obama serta memenangkan penghargaan Global Initiative through Science and Technology (GIST) Amerika Serikat pada 2012. Penghargaan ini mengantarkan Mita ke negeri Paman Sam. Ia bahkan mendapat kesempatan belajar bisnis di Silicon Valley.

Di dalam negeri, kesuksesan Mita diganjar penghargaan oleh Bank Mandiri. Lewat perhelatan Wirausaha Muda Mandiri, L-Files terpilih sebagai juara pertama untuk kategori Mandiri Young Technopreneur Award. “Selain tambahan anggaran, saya dapat belajar banyak dari pelatihan yg ditawarkan setelah mendapat penghargaan,” tutur dia.

Selain membesarkan L-Files, Mita juga aktif dalam berorganisasi. Ia didapuk menjadi Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Bandung semenjak 2012 sampai kini. Menurut Mita, peran ini membuka akses untuk berbagi dgn sesama pengusaha muda.

“Saya ingin menginspirasi anak-anak muda lain untuk mengikuti jejak saya sebagai pengusaha melalui Hipmi,” ujar dia. Mita berharap, generasi muda tak lagi berpikir mencari pekerjaan, tetapi menciptakan sendiri lapangan pekerjaan.             

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.