Sepekan Peluang Usaha: Es serut buat Jezzi

Monday, October 9th 2017. | Peluang Usaha

Akhir-akhir ini udara terasa panas. Terkadang kita sampai berpeluh dan harus kipas-kipas. Dalam kondisi seperti ini enaknya kita minum yg dingin. Tapi, di mana kita dapat mendapatkan minuman dingin. Eit, enggak usah bingung, kontan.coid telah menyediakan minuman pengusir gerah dan dahaga itu.

Nah, kita sikat saja Ice Story. Ini adalah es serut aneka rasa. Pokoknya dijamin dahaga dan panas akan hilang, yg ada cuma rasa enak. Adalah Quinala yg mengusung  merek Ice Story itu di Serpong, Tangerang.

Untuk mengembangkan usaha yg berdiri semenjak tahun 2010 ini, wanita yg akrab disapa  Nala itu secara resmi menawarkan kemitraan awal tahun ini. Nala mengatakan telah memiliki tiga gerai milik pribadi dan 10 milik mitra.  Paket kemitraan yg ditawarkan: paket mini senilai Rp 8 juta dan paket besar Rp 15 juta. Fasilitas yg didapat satu unit booth, mesin ice crusher, galon untuk flavour sweet, cetakan es, speaker, slick es, flavour aneka rasa buah dan susu berbentuk seperti spidol besar.

“Bedanya untuk paket Rp 15 juta mesin es yg ada rodanya, sehingga mudah berpindah tempat,” katanya. Nala membanderol harga es serut mulai Rp 1.500 sampai Rp 2.500. Mitra ditargetkan dapat menjual minimal 190  porsi dgn target keuntungan sebesar Rp 12,3 juta per bulan.

Belum juga hilang rasa hausnya, enggak usah malu, minum lagi. Kali ini kita akan menenggak Co-Co World Ice Blend.  Minuman ini juga mempunyai aneka rasa di antaranya, black phantom, choco dale, cola lemon, dark cino, double cho, funky purple, white rabbit, mango blast, dan pepermint.

Co-Co World Ice Blend resmi menawarkan kemitraan akhir tahun 2013. Kemitraan ini menyediakan empat paket investasi. Yakni, paket senilai Rp 4,9 juta, paket Rp 3,4 juta, paket Rp 950.000, dan paket senilai Rp 100.000. Paket Rp 4,9 juta dan Rp 3,4 juta mendapat fasilitas peralatan lengkap, seperti blender, stoples, wadah es, tempat bubuk, spanduk, pompa galon, stiker, dan bahan baku untuk 315 porsi. Bedanya, mitra yg memilih paket Rp 4,9 juta mendapatkan gerobak. Sementara itu, paket Rp 3,4 juta mendapat booth.

Wah, gerah dan dahaga telah hilang. Tapi, kok seperti ada yg merayap di kaki. Kecoak, itu kecoak…. Eit, jangan lari. Itu bukan kecoak melainkan jangkrik.  Ini pasti jangkrik yg dibudidayakan Bambang Setiawan. Jangan memandang sebelah mata ya, dari jangkrik ini Bambang dapat mendapat keuntungan Rp 15 juta per hari. Itu belum termasuk dari penjualan telur jangkrik untuk pembibitan. Jika ditotal, Bambang dapat meraup keuntungan sampai Rp 500 juta per bulan. Menggiurkan sekali.

Padahal, tahu enggak, ketika memulai usaha Bambang tak memiliki pengalaman dan minim pengetahuan soal budidaya jangkrik. Namun, tekadnya kuat untuk membudidayakan jangkrik. Makanya, Bambang lantas  merintis usaha budidaya jangkrik tahun 2010 dgn mengusung bendera usaha Trust Jaya Jangkrik di bawah naungan CV Jaya Tani di Cirebon, Jawa Barat.

Saat itu, ia baru saja lulus dari Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB). Kendati bergelar sarjana teknik, tak membuatnya malu ketika memutuskan menjadi peternak jangkrik. “Begitu lulus, saya langsung pulang kampung ke Cirebon dan buat usaha setelah beberapa bulan,” kata Bambang.

Saat ini, Bambang memiliki lebih dari 65 orang karyawan. Ia juga  tercatat sebagai pembudidaya jangkrik terbesar se-Cirebon. Adapun kapasitas produksinya 200 kilogram (kg) jangkrik dan 8 kg telur jangkrik yg siap dibudidayakan. Dari usahanya ini, ia pun diganjar sejumlah penghargaan. Tahun lalu, Bambang dinobatkan menjadi pemenang Wirausaha Muda Mandiri 2014 perwakilan Jawa Barat kategori bidang usaha industri, perdagangan, dan jasa.  

Kita tinggalkan Bambang dan jangkriknya. Kita mau belanja ikan asin ke Cilacap. Tapi, sebaiknya kita mematutkan diri dulu dgn pakaian yg layak untuk berpergian. Yuk, kita pakai batik.  Yang mau kita kenakan adalah batik sasirangan. Itu lo batik khas Banjarmasin. Dinamakan batik sasirangan karena batik ini dibuat di Kampung Sasirangan, Kalimantan Selatan.

Pionir yg membuka usaha batik sasirangan adalah Maskur dan sang istri, Lailani Lathifah. Mereka membangun usaha dari nol. Kini, lewat merek usaha Irma Sasirangan, Maskur mampu memproduksi ratusan lembar batik tradisional saban bulan. Dia memiliki rumah produksi dan galeri yg ramai dikunjungi turis maupun pembeli.

Saat ini Maskur memiliki sekitar 300 karyawan lepas dan 24 karyawan tetap yg membantunya memproduksi Batik Sasirangan setiap saat. Selain produk fesyen pakaian, Maskur juga melengkapi koleksi galerinya dgn berbagai produk mulai dari aksesori, dompet, bed cover, bantalan kursi, dan lainnya. Maskur membanderol harga koleksinya cukup banyak, mulai Rp 85.000 sampai dgn Rp 400.000 per lembar. Maskur mengatakan dapat mengantongi keuntungan sampai ratusan juta rupiah. Sayangnya, dia enggan mengatakan porsi keuntungan bersih yg didapatkannya.

Eh, hamper ketinggalan, ada juga batik papua. Batik ini  banyak didominasi motif  burung cendrawasih dan rumah hanoi. Tidak ketinggalan juga motif gambar alat musik khas Papua, tifa, dan binatang seperti kadal dan buaya.

Salah satu pengusaha batik yg turut mempopulerkan batik Papua ini adalah Hananto Tedjobaskoro, pria asal Pekalongan, Jawa Tengah. Ia telah melirik peluang bisnis batik Papua semenjak tahun 1993. Meski bukan asli Papua, Hananto melihat peluangnya sangat besar karena pemainnya masih sedikit. Selama mengibarkan batik Papua, Hananto banyak membidik konsumen kelas menengah atas dan pasar mancanegara.

Saban bulan Hananto dapat memproduksi 500 pieces pakaian jadi dan lebih dari 10 kain batik tulis ukuran dua meter. Harganya dibanderol mulai Rp 250.000–Rp 2 juta per helain. Dalam sebulan,  Hananto dapat meraup keuntungan sampai Rp 300 juta.

Celana jogger  dan Aditya

Waduh, batik sasirangan dan batik papua membikin penampilan kita beda. Lebih gaya. Tapi, bagus enggak ya, memadupadankan batik dgn celana jogger. Apa itu celana Jogger? Itu lo celana yg bentuknya seperti celana olahraga karena mengerucut di bagian bawah. Bila dilihat sekilas, jogger pants mirip dgn celana chino karena sama-sama memakai bahan bernama twill.

Nah, Abraham Nielsen adalah salah seorang pembuat jogger pants asal Bandung. Menurut Abraham,  celana ini mulai diminati semenjak akhir tahun lalu. “Tapi  lonjakan konsumen terjadi di akhir tahun 2014,” katanya kepada KONTAN.

Sebelum booming, ia cukup memproduksi 300 celana setiap bulan. Belakangan, produksinya naik menjadi 800 pieces per bulan. Sistem penjualannya pre-order, sehingga konsumen harus memesan dan membayar dulu orderan mereka. “Proses pengerjaannya satu minggu, jadi konsumen dapat mendapatkan barang setelah satu minggu membayar,” ujar Abraham.

Ia membanderol harga jogger pants Rp 130.000 untuk model stretch dan Rp 140.000 untuk yg tak stretch. Dalam sebulan, ia dapat meraup keuntungan sampai Rp 91 juta dgn keuntungan hampir 40%. Sebelum celana model ini ngetren, ia cukup mengantongi keuntungan Rp 39 juta per bulan.

Sudah keren, ayo kita ke Cilacap. Kita mau ke sentra penjualan ikan asin di tepi Pantai Teluk Penyu, Kecamatan Cilacap Selatan, Jawa Tengah. Ini merupakan tempat wisata pantai di daerah tersebut. Memasuki daerah wisata Pantai Teluk Penyu ini, tampak berjejer kios-kios penjaja ikan asin yg terletak persis di dekat pintu masuk.

Begitu masuk ke area ini, aroma khas ikan asin langsung menyergap. Begitu mata menatap sekeliling langsung menangkap gantungan plastik yg berisi aneka macam ikan asin segar yg siap diolah di setiap kios. Di sini ada sekitar 60 kios. Capek deh kalau harus melihat semua ikan asin yg tergantung di tiap kios.

Sentra ini telah ada semenjak tahun 1970-an.  Salah satu pedagang ikan asin di sana, Kasmini,  mengatakan bahwa ketika musim liburan keuntungan dapat mencapai Rp 2 juta per hari. Di luar momentum padat pengunjung, omzetnya cukup sekitar Rp 400.000 per hari. Jika dihitung, rata-rata keuntungan pedagang dapat mencapai Rp 12 juta per bulan di bulan-bulan biasa. Para pedagang lainnya pun mengatakan rata-rata mampu menghasilkan keuntungan sebesar itu.

Sudah yuk kita langsung ke Surabaya. Aduh kenapa sih pergi terus? iyalah, kita harus pergi karena telah rapi memakai batik  dan celana jogger. Oh, begitu, yuk mari.

Ternyata sentra tas di Jawa Timur bukan cukup terdapat di Tanggulangin, Sidoarjo. Di Surabaya, wilayah pusat produksi tas dapat dijumpai di Jalan Gadukan Baru, Morokrembangan, Surabaya. Tempat sentra tas Gadukan ini berada sekitar Jalan Raya Gresik. Untuk sampai ke lokasi, dibutuhkan waktu sekitar 40 menit bila diakses melalui ruas Tol Waru.

Sebagai patokannya, ada banyak gapura berpagar yg bertuliskan Gadukan. Kampung Tas Gadukan ini diramaikan lebih dari 60 perajin. Mereka tersebar di RW IV, V, dan VI Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Surabaya

Sentra tas ini biasa disebut dgn Kampung Tas Gadukan. Mendapat predikat Kampung Tas, geliat para perajin tas di wilayah Gadukan ini telah dimulai semenjak 1975. Awalnya cukup ada tiga perajin tas di kampung ini. Seiring berjalannya waktu, jumlah perajin terus berambah. Kini tercatat ada pulihan warga menekuni usaha ini.

Ali Patkhan, salah seorang pembuat tas mengatakan, awalnya tiga perajin tas itu bekerja bekerja di pabrik tas di Kapasan, Surabaya. Merasa mampu membuka usaha sendiri, mereka lalu memutuskan untuk memproduksi tas sendiri dgn memperkerjakan warga setempat. “Akhirnya banyak yg dapat dan karyawannya buka usaha satu per satu,” katanya pada KONTAN.

Ali Patkhan, salah satu perajin tas bilang, banyaknya pelaku usaha tas membuat suasana persaingan menjadi ketat. Menurutnya, sekarang banyak perajin yg takut desainnya dicontoh oleh perajin lainnya. Menurutnya, fenomena banting harga ini terjadi semenjak pertengahan tahun 2014 lalu seiring makin sepinya permintaan pasar. Alhasil, keuntungan yg dikantongi perajin pun terus menyusut. “

Sekarang pakaian kita makin lengkap. Pakai batik dan celana jogger dipadu dgn tas dari Gadukan. Wuih, kayaknya penampilan kita makin cihui saja. Tapi,sepertinya kita harus menemui dulu Aditya Rahma. Soalnya, dari tadi kita telah lihat-lihat tas di Gadukan, kita juga harus lihat tasnya Aditya. Tas itu diberi merek Niion. Sebuah merek tas berbahan nilon dgn warna-warna terang.

Usaha tas ini merupakan perwujudan dari mimpinya. Semangat untuk menjadi seorang entrepreneur inilah yg tertanam dalam diri Aditya Rahman semenjak belia. Dia terinspirasi sang nenek yg memiliki butik di rumahnya. Lantaran itu, Adit memutuskan keluar dari pekerjaannya pada 2012 silam. Saat itu, dia bekerja sebagai desainer interior di Singapura.  Dengan modal Rp 20 juta, hasil tabungannya selama bekerja, Adit mulai merintis bisnis tas pada akhir 2012.

Selain tas, arsitek lulusan Universitas Parahyangan ini juga mengembangkan bisnis wedding conceptor, desain interior dan busana muslim. Dari semua usahanya ini keuntungan ratusan rupiah pun mengalir ke kantongnya saban bulan.

Jezzi dan bambu kuning

Sudah ya Adit, ditinggal dulu. Kita mau menemui Jezzi Setiawan. Ternyata inilah perempuan yg cantik parasnya cantik pula perbuatannya. Jangan ge-er ya Jezzi. Tapi, Jezzi memang baik, dia akan memberikan bantuan pada pelaku UKM yg kesulitan permodalan.

Akhir Maret lalu ia meluncurkan platform Gandengtangan.org. “Saya tertarik membuat ini karena melihat banyak teman-teman entrepreneur yg kesulitan akses pendanaan,” katanya. GandengTangan membantu menggalang anggaran pinjaman tanpa kembang melalui situs GandengTangan.org.

GandengTangan juga fokus membantu permodalan wirausaha sosial. Banyak pelaku wirausaha sosial ini bekerja diam-diam padahal membutuhkan bantuan. GandengTangan membuka kesempatan bagi setiap orang yg ingin berperan dgn meminjamkan anggaran mereka minimal Rp 50.000 dgn kembang 0%.

Dengan kembang 0%, GandengTangan mengatakan tulus memberi pinjaman karena kreditur tak dikenakan kembang apa pun. Sementara itu, pemberi pinjaman tak mendapatkan imbalan. GandengTangan juga membantu mengkampanyekan ide dan gagasan yg dikembangkan oleh pelaku social entrepreneur. Tuh kan Jezzy memang moi. Selengkapnya.

Lelah juga kita jalan-jalan. Enaknya kita memandang tanaman hias biar sejuk di mata sejuk di hati. Nah, tuh ada tanaman bambu kuning. Kenapa disebut bambu kuning? Karena batangnya berwarna kuning gading, teksturnya halus, dan kontras dgn warna daunnya yg hijau terang.  Bambu kuning jika telah berusia dewasa, panjang tanaman ini mencapai 3 meter (m)-5 meter dgn diameter 8 cm-10 cm.

Menurut Ahmad Natan, pembudidaya bambu kuning asal Bogor, Jawa Barat, tanaman ini sering dijadikan tanaman hias untuk keperluan seni dan kerajinan, dan peralatan dapur. Ahmad mengatakan intens menanam bambu kuning selama empat tahun terakhir. Selain untuk kerajinan, belakangan ini bambu kuning banyak dipesan sebagai cara lain pilihan material pembangun rumah pengganti kayu.

Ahmad memiliki lahan seluas hampir 1.000 meter persegi (m²) yg ditanami tak cukup bambu kuning tapi juga berbagai jenis bambu lain seperti bambu hijau dan berbagai tanaman hias lain. Lewat bendera Alamanda Landscape, Ahmad menjadi pemasok bambu kuning di sekitaran Jabodetabek.

Dia bilang, panen bambu kuning dilakukan setiap delapan bulan sekali. Saat panen, Ahmad dapat mendapatkan lebih dari 150 rumpun bambu. Satu rumpunnya terdiri dari 12 batang sampai 15 batang bambu. Harga jual berkisar Rp 120.000 sampai Rp 200.000 per satu rumpun yg terdiri dari delapan batang bambu. Ahmad memanen aneka jenis bambu yg dibudidayakan secara bergantian. Setiap bulan dia mengatakan dapat menghasilkan keuntungan sampai Rp 30 juta. Wah, Ahmad, jadi ngiri.

Sepertinya rasa lelah kita telah sampai puncak, jadi mari kita pakai jaket biar enggak kedinginan. Walah. Kita sudahi dulu perjumpaan kita. Selamat berakhir pekan. 

 

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.