Sukses cetak omzet besar dari bisnis batik Papua

Tuesday, September 19th 2017. | Peluang Usaha

JAKARTA. Hampir setiap daerah di Indonesia memiliki batik dgn ciri khasnya masing-masing. Tak terkecuali daerah Papua yg merupakan provinsi paling timur di Indonesia.

Beda dgn batik dari daerah lain, batik Papua banyak didominasi motif-motif burung cendrawasih dan rumah hanoi. Tidak ketinggalan juga motif dgn gambar alat musik khas Papua, Tifa dan binatang seperti kadal dan buaya.

Salah satu pengusaha batik yg turut mempopulerkan batik Papua ini adalah Hananto Tedjobaskoro, pria asal Pekalongan, Jawa Tengah. Ia telah melirik peluang bisnis batik Papua semenjak tahun 1993.

Meski bukan asli orang Papua, Hananto melihat peluangnya sangat besar karena pemainnya masih sedikit. Selama mengibarkan batik Papua, Hananto banyak membidik konsumen kelas menengah atas dan pasar mancanegara. “Di pasar luar negeri banyak yg mencari,” katanya di sela-sela pameran Inacraft 2015 di Jakarta, Rabu (8/4).

Menurut Hananto, semenjak akhir tahun lalu sampai sekarang, Batik Papua semakin dikenal dan banyak dicari. Kebanyakan konsumen mencari batik ini untuk menambah koleksi kain tradisional khas Indonesia.

Hananto memiliki dua toko di Jayapura dgn nama Citra Batik Jayapura. Meski kedua tokonya ada di Jayapura, namun semua produksinya dikerjakan di Pekalongan, Jawa Tengah.

Ia tak memproduksi di Papua karena biaya operasionalnya tinggi. Sebelumnya ia pernah tiga tahun menjalankan produksi di Jayapura. “Sampai tahun 1997, saya pindahkan ke Pekalongan,” kata Hananto.

Hananto fokus memproduksi batik tulis dan batik cap. Selain dalam model lembaran kain, ia juga memproduksi batik menjadi pakaian jadi, seperti kemeja, dress, rok, dan kain pantai.

Untuk urusan desain dan motif, Hananto sendiri yg mengerjakan karena ia telah lama tinggal di Papua. Adapaun pilihan bahan kainnya bervariasi, mulai dari kain katun, semi sutra sampai sutra full.

Kapasitas produksi per bulan biasanya 500 pieces pakaian jadi dan lebih dari 10 kain batik tulis ukuran dua meter. Harganya dibanderol mulai Rp 250.000–Rp 2 juta per helain. Dalam sebulan,  Hananto dapat meraup keuntungan sampai Rp 300 juta.

Pemain lainnya adalah Merry Yani di Sorong, Papua Barat. Ia telah memproduksi batik Papua semenjak tahun 2009 dgn mengusung brand Aneka Papua. Merry fokus memasarkan produk batiknya ke wilayah Indonesia bagian timur, seperti Makassar dan Ambon.

Sama halnya dgn Hananto, Merry juga mengatakan penjualan meningkat. “Sekarang banyak pembeli yg memesan dalam jumlah besar buat dijual lagi di Jakarta dan Bandung,” katanya. Ia sendiri melakukan produksi di Jayapura.

Dalam sebulan, ia dapat meraup keuntungan lebih dari Rp 200 juta, dgn rata-rata penjualan per hari mencapai Rp 5 juta–Rp 7 juta.

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.