Berhasil merintis usaha batik Banjarmasin dari nol

Saturday, August 12th 2017. | Peluang Usaha

Dikenal sebagai pioner yg membuka usaha batik khas Banjarmasin di Kampung Sasirangan, Kalimantan Selatan, tak pernah terbersit di benak Maskur. Namun, berkat kegigihan dan ketekunan membangun usaha dari nol, Maskur dan sang istri, Lailani Lathifah, menjelma sebagai pembuat batik khas Banjarmasin bernama Batik Sasirangan.

Lewat merek usaha Irma Sasirangan, Maskur kini mampu memproduksi ratusan lembar batik tradisional saban bulan. Dia memiliki rumah produksi dan galeri yg ramai dikunjungi turis maupun pembeli. Saat ini, Maskur memiliki sekitar 300 karyawan lepas dan 24 karyawan tetap yg membantunya memproduksi Batik Sasirangan setiap saat.

Hingga kini, Maskur tetap mempertahankan produksi dgn cara tradisional. Itu sebabnya, dia mengklaim kualitas kain buatannya lebih bagus daripada pembuat lainnya yg menggunakan alat tenun modern. Untuk menyelesaikan 10 lembar kain batik ini, dibutuhkan waktu sekitar 30 hari. “Yang paling lama adalah proses merajut yg dilakukan oleh karyawan lepas,” kata dia.

Sebagian besar konsumennya berasal dari kalangan pemerintahan, wisatawan lokal, dan warga setempat. Batik khas daerah ini seiring berjalannya waktu dijadikan seragam pegawai dan seragam sekolah di kota itu. Itu sebabnya, Maskur mengatakan kerap kebanjiran orderan saat musim tahun ajaran baru tiba. Bahkan, dia sering kehabisan persediaan batik jika orderan sedang membeludak. Maklum, pembuatan batik tradisional membutuhkan waktu yg lebih lama ketimbang menggunakan alat yg lebih modern.

Maskur memproduksi Batik Sasirangan dgn berbagai jenis bahan mulai dari katun biasa, viscose atau katun rayon, dobi, sampai sutera. Motif yg dia buat pun ada ratusan. Bila konsumen ingin tampil beda, mereka juga menerima orderan batik dgn motif yg sesuai keinginan konsumen.

Selain produk fesyen pakaian, Maskur juga melengkapi koleksi galerinya dgn berbagai produk mulai dari aksesori, dompet, bed cover, bantalan kursi, dan lainnya. Maskur membanderol harga koleksinya cukup banyak, mulai Rp 85.000 sampai dgn Rp 400.000 per lembar.

Maskur mengatakan dapat mengantongi keuntungan sampai ratusan juta rupiah. Sayangnya, dia enggan mengatakan porsi keuntungan bersih yg didapatkannya.

Namun, pencapaian keuntungan sampai sebesar itu tak dia dapatkan dgn mudah. Maskur bersama sang istri memulai usaha ini awalnya dari rumah mereka di dalam gang pada tahun 1990 silam.

Berbekal dari pembinaan dan pelatihan membuat batik yg dia bisa dari Kementerian Perindustrian kala itu, Maskur memulai usaha ini bersama sang istri. Kebetulan, sang istri memang telah dapat membuat batik. “Setelah ada pelatihan kita mulai kembangkan bisnis secara perlahan,” katanya pada KONTAN.

Menjadi orang pertama yg membuka usaha batik Sasirangan membuat mereka dikenal sebagai perintis batik Sasirangan dikampung Sasirangan yg berada di jalan Seberang Masjid, Banjarmasin, Kalimantan Selatan. (Bersambung)

Artikel Lainnya:

.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.