Konsolidasi HSBC – Bank Ekonomi sampai 3 tahun

Friday, May 26th 2017. | Keuangan

JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sedang memproses rencana konsolidasi The Hongkong & Shanghai Banking Corp (HSBC) Indonesia dgn Bank Ekonomi Rahardja. Nelson Tampubolon, Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan, mengatakan, konsolidasi ini tengah memasuki proses pembentukan badan hukum dan organisasi.

Selanjutnya, konsolidasi kedua bank ini memutuskan akan menjadi bank lokal dgn menggunakan Perseroan Terbatas (PT) milik Bank Ekonomi, serta menghilangkan status Kantor Cabang Bank Asing (KCBA) HSBC namun ciri-ciri HSCB tetap hidup. “Konsolidasi ini akan memakan waktu selama 2 tahun – 3 tahun,” kata Nelson, kemarin. 

Tak cukup itu, konsolidasi kedua bank ini akan memperkuat permodalan bank sehingga mereka akan naik kelas. Saat ini, HSBC Indonesia ada di bank kelompok BUKU II, jika Bank Ekonomi masuk maka mereka akan naik kelas menjadi bank kelompok BUKU III. 

Data terakhir, HSBC Indonesia memiliki modal sebesar Rp 16,70 triliun per Desember 2014 dgn rincian modal usaha sebesar Rp 10,74 triliun. Sedangkan, Bank Ekonomi memiliki modal sebesar Rp 3,14 triliun yg terdiri modal inti sebesar Rp 2,92 triliun dan modal pelengkap Rp 220 miliar. 

Nelson menambahkan, jika konsolidasi ini berjalan mulus maka Bank Ekonomi akan kembali mengaktifkan statusnya menjadi bank terbuka (listing) dari sekarang ini tercatat sebagai perusahaan delisting yg telah tak aktif diperdagangkan di pasar modal. “Waktu mereka listing kembali statusnya telah bank besar,” tambahnya.

Sementara itu, Pemilik kantor cabang  bank asing HSBC Indonesia serta pemegang saham mayoritas Bank Ekonomi HSBC Asia Pacific Holdings (UK) Limited (HSBC Limited) memilih menunggu revisi Undang-Undang (UU) Perbankan untuk memastikan bisnis banknya di Indonesia.

Ali Setiawan, Managing Director Head of Global Markets HSBC Indonesia mengatakan, hasil revisi UU Perbankan akan menjadi rujukan bagi pemegang saham untuk memutuskan bisnis banknya di Indonesia. “Bila kantor cabang masih tetap beroperasi, dan tak harus berstatus perseroan terbatas, opsinya dapat saja kami tetap berbisnis seperti sekarang ini,” ujar Ali. 

Namun, bila UU Perbankan kelak mengharuskan kantor cabang bank asing berstatus perusahaan terbatas (PY), Ali bilang, HSBC Limited  akan patuh. Ini artinya, HSBC Limited  akan memiliki dua perusahaan yg sama-sama berstatus PT yakni PT Bank Ekonomi dan HSBC. 

“Bisa jadi opsinya digabungkan,” ujarnya. Tapi, sampai kini, HSBC belum memutuskan apakah kantor cabang  HSBC Indonesia akan melebur ke Bank Ekonomi atau sebaliknya.

Ali mengakui, HSBC telah menyampaikan opsi merger ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Opsi  itu mengacu aturan single present policy dan UU Perbankan. Bila  pembahasan revisi UU  Perbankan lancar, dapat jadi rencana penggabungan Bank Ekonomi dan HSBC Indonesia baru akan berlangsung tahun depan.

Yang pasti, kata Ali, HSBC tak akan hengkang dari pasar keuangan Indonesia. Potensi pasar yg besar menjadi alasan utama HSBC. “Penetrasi keuangan di Indonesia masih kecil, ini peluang yg akan kami manfaatkan,” ujarnya.  

Indonesia memiliki 240 juta penduduk, dgn jumlah golongan menengah yg besar menjadi daya tarik investor asing saat masuk, termasuk bagi HSBC.  

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.