Mengecat untung dengan cat curah

Wednesday, May 24th 2017. | Peluang Usaha

Permintaan cat curah terus meningkat tapi pasokannya masih kurang. Peluang usaha mendirikan pabrik cat curah pun menjanjikan. Apalagi, margin usahanya dapat mencapai 40%. Cuma, tetap dgn perhitungan matang, ya.

Cat memainkan peranan sangat penting pada bangunan. Rumah, kios, kafe, gedung sekolah, sampai kantor butuh warna. Sekokoh apa pun bangunan yg Anda dirikan, akan tampak kurang indah tanpa polesan cat, baik pada interior ataupun eksteriornya.

Ya, cat memang menjadi salah satu keperluan pokok, entah untuk renovasi atau membangun bangunan baru. Makanya, pasar cat tak cuma kontraktor atau pengembang properti, tapi juga pengguna langsung atawa ritel. Tak pelak, perputaran bisnis di industri ini cukup besar. Pelaku industri cat memperkirakan, nilai penjualan cat di Indonesia per tahun mencapai Rp 20 triliun.

Ada dua jenis cat yg beredar luas di pasaran. Pertama, cat bermerek yg dibuat oleh pabrik-pabrik besar dan  rata-rata milik perusahaan asing ternama. Kedua, cat tanpa merek yg lebih populer dgn sebutan cat curah. Cat KW dua ini umumnya dihasilkan oleh industri skala kecil.

Meski dari sisi kualitas dipastikan berada di bawah cat bermerek, cat curah bukan berarti kehilangan pelanggan. Harga miring menjadi cara lain bagi konsumen memakai cat curah ketimbang cat brand ternama, seperti Dulux, Vinilex, dan Nippon Paint.

Ambil contoh, harga cat bermerek berkisar Rp 20.000–Rp 30.000 per kilogram (kg). Sedang harga cat curah di pasaran cukup Rp 6.500–Rp 11.000  per kilogram (kg). Ketika kurs rupiah menembus Rp 12.900 per dolar Amerika Serikat (AS), harga cat bermerek turut melonjak. Maklum, hampir 80% bahan baku harus diimpor.

Lantaran harga cat curah yg miring itulah, tak heran peminatnya pun semakin banyak. Permintaan tak cuma datang dari pemilik rumah yg ingin memupuri dinding atau tembok tempat tinggalnya dgn cat curah. Bisnis properti yg terus tumbuh juga telah mendongkrak permintaan cat tanpa merek tersebut.

Agar kenaikan harga rumah yg ditawarkannya tak kelewat tinggi, pengembang berusaha keras menekan biaya material. Salah satu caranya, ya, memakai cat curah. “Setiap tahun permintaan cat curah terus naik,” ungkap Fatimah, distributor cat curah yg membuka toko di Jalan Raya Bojonggede, Bogor, Jawa Barat.

Sebelum tahun 2014, Fatimah menuturkan, penjualan cat curah di tokonya cukup berkisar
3 ton–5 ton per tahun. Tahun lalu penjualannya melonjak dua kali lipat jadi 10 ton. Permintaan paling besar datang saat menjelang bulan puasa dan Lebaran.

Selain pembeli eceran, peminatnya lebih dari 40% berasal dari pengembang perumahan, gedung, dan perkantoran di  wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. “Permintaan cat curah juga meningkat saat harga cat bermerek naik,” ujar Fatimah.

Pemain baru terus bermunculan

Nah, seiring dgn menanjaknya permintaan, makin banyak pula orang yg menekuni usaha pembuatan cat curah. Apalagi, celah pasarnya masih cukup besar. Sebab, jumlah pasokannya masih jauh lebih kecil ketimbang permintaan.

Meski prospeknya menjanjikan, terjun ke usaha pabrik cat skala kecil harus ekstra hati-hati, ya. Soalnya, pemainnya makin banyak. “Pasar cat lokal makin kompetitif,” kata Rudiyanto, pemilik pabrik cat curah di Bekasi, Jawa Barat.

Lewat usaha patungan bersama sejumlah rekannya, sekarang ini Rudiyanto mampu memproduksi cat curah sebanyak 3 kuintal–4 kuintal per minggu. Untuk keperluan produksi, dia mendapat suplai bahan baku dari seorang penyalur yg telah cukup lama dikenalnya. Sehingga, nyaris tak ada kendala dalam bahan baku.

Produk cat buatan pabrik Rudiyanto dipasarkan ke sejumlah pengembang perumahan dan sekolah yg menjadi rekanan. “Permintaan bagus ketika saat dollar AS menguat terhadap rupiah,” akunya.

• Modal usaha

Untuk mengawali bisnis ini, Rudiyanto, sih, mengatakan, cukup mengeluarkan modal awal Rp 30 juta–Rp 40 juta. Margin usaha sekitar 30%–40%.

Cuma, James Karosekali, pemilik PT Fanos Asias, pembuat cat di Cikarang, Jawa Barat,  mengutarakan, modal awal untuk membangun pabrik cat skala kecil setidaknya butuh duit Rp 100 juta–Rp 200 juta, dgn catatan punya lahan sendiri untuk tempat produksi. Tapi, idealnya untuk mendirikan pabrik cat modal awalnya  Rp 1 miliar–Rp 2 miliar.

Lalu, kapan dapat balik modal? James bilang, dari pengalamannya, balik modal usaha ini sangat tergantung kondisi pasar. Kalau permintaan terus naik,  “Dengan modal Rp 2 miliar dan tingkat penjualan sebesar 70%, maka satu tahun telah dapat balik modal,” ujar dia.

• Alat produksi

Modal telah di tangan, saatnya berburu peralatan produksi. Menurut Rudiyanto, peralatan untuk membuat cat curah mudah didapat. Untuk menghasilkan cat curah butuh alat pencampur alias mikser (mixer). Alat ini yg kemudian dipakai untuk mengaduk dan mencampur semua zat kimia yg menjadi bahan baku cat curah.

Umumnya, mikser dirakit sendiri oleh para pelaku usaha sehingga harganya relatif terjangkau. Misalnya, mikser yg terbuat dari pelek sepeda motor, lalu digerakkan dgn dinamo. Ada juga mikser yg dirakit dari setang sepeda dan putaran molen, kemudian dilas dgn besi plus dinamo sebagai penggeraknya. “Tapi, sekarang telah banyak mikser cat curah yg telah jadi dijual di pasaran,” tutur Rudiyanto.

Alat lain yg dibutuhkan untuk memproduksi cat curah adalah drum plastik untuk tempat pengolahan, penyaring yg terbuat dari kasa lembut buat menyaring bahan baku yg telah dicampur oleh mikser, serta kaleng atau galon untuk kemasan cat. Hanya, “Untuk alat penguji cat rata-rata masih harus diimpor,” kata Teddy Mulyana, penanggungjawab penjualan PT Sigma Utama, pabrik cat di Bogor.

• Bahan baku

Bahan baku cat curah juga gampang didapat. Cuma, sebagian bahan baku harus diimpor sebab produksi di dalam negeri masih terbatas. Meski begitu, banyak penjual bahan baku cat di Indonesia. Bahan yg digunakan dalam pembuatan cat sangat banyak dan bervariasi, tapi intinya terdiri dari resin atau binder, pigment, extender atawa filler, dan solvent.

Produksi cat curah melalui beberapa proses, yaitu tahap pre-mixing, grinding, let-down, filtering, color matching, dan packaging. Teddy menekankan, untuk mendapatkan kualitas cat seperti yg diharapkan, perlu melakukan berbagai pengujian atas bahan baku utama: resin, pigment, extender, serta solvent.

Jaminan kualitas dan inovasi jenis cat curah sesuai selera konsumen senantiasa harus dievaluasi. “Harga murah, iya, tapi kualitas harus tetap diperhatikan juga, agar konsumen tak kecewa,” imbuh Teddy.

Untuk menjaga kualitas produk, selain bahan baku dan proses pengolahan yg terukur, keberadaan tenaga ahli mutlak diperlukan. “Tenaga ahli ini harus mendapat sertifikasi dari Asosiasi Coating Indonesia (Ascoatindo) terutama untuk pengujian cat,” kata Teddy.

Walau bahan baku terbilang gampang didapat, James mengingatkan, pemilik pabrik harus pandai-pandai memilih pemasok, agar mendapat bahan baku yg berkualitas dgn harga terbaik. Menjalin relasi yg kuat dgn pemasok juga penting, supaya suplai bahan baku dapat berkesinambungan.

• Perizinan

Lantaran pabrik cat mengolah berbagai macam bahan kimia berbahaya, aspek keamanan lingkungan harus mendapat perlakuan khusus dari pelaku usaha. Makanya, ada izin yg berhubungan dgn lingkungan yg harus dikantongi oleh pemilik pabrik cat. “Sebelum pabrik beroperasi, izin-izin harus diurus terlebih dahulu,” terang Rudiyanto. Misalnya, izin usaha dan izin perdagangan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan setempat.

Selain itu, James menambahkan, pabrik cat sejatinya harus mengantongi izin analisis dampak lingkungan (amdal) dan izin upaya pengelolaan lingkungan (UPL), izin prinsip, izin usaha, serta izin gangguan.

• Pemasaran

Pemasaran menjadi salah satu kunci penting keberhasilan usaha pabrik cat curah. Itu sebabnya, butuh jaringan yg luas dalam memasarkan cat curah. Maklum, pemain baru terus bermunculan sehingga persaingan pun kian sengit. Agar mampu bertahan, pemilik pabrik harus terus mengembangkan jaringan pemasaran produknya. “Pasar cat lokal terutama untuk dekoratif makin kompetitif,” ujar Teddy.

Memang, James bilang, salah satu kunci sukses terjun ke industri cat curah adalah memiliki jaringan pemasaran yg luas dan market-nya telah jelas. “Kalau market-nya telah ada, baru tentukan produk, jangan kebalik,” jelasnya.

Dengan begitu, Anda tak bernasib sama dgn Ardhi. Pemilik pabrik cat di Depok ini cukup bertahan enam bulan dalam bisnis ini. Kala itu, ia memutuskan terjun ke usaha pabrik cat curah karena melihat peluang pasar yg menjanjikan. “Awalnya untuk memenuhi keperluan proyek sendiri, sebagian lagi ditawarkan ke proyek-proyek properti,” ujar kontraktor perumahan ini.

Kendala utama Ardhi mengembangkan usaha pabrik cat curahnya ada pada kualitas produk dan pemasaran. Dia mengakui, produknya masih kurang bagus karena agak luntur dan kurang tahan lama. Ia sempat memproduksi cat curah beberapa kuintal dalam sebulan. Tapi, itu cukup berlangsung enam bulan akibat banyak pelanggan yg komplain.

Memproduksi cat curah boleh dibilang gampang-gampang susah. Butuh pengetahuan dan keahlian dalam meracik bahan baku untuk menjadi cat. Menurut James yg mendirikan pabrik cat tahun 2010 lalu, banyak pabrik cat curah kecil yg beroperasi singkat gara-gara awalnya cukup coba-coba mencari keberuntungan, tapi kurang perhitungan.

Banyak yg baru punya modal mengetahui formula membuat cat curah saja telah berani membuka pabrik. Istilahnya, cukup bermodal pas-pasan. Padahal selain butuh modal awal yg besar dan tahu formula membuat cat, koneksi ke sumber bahan baku dan pengembangan produk sesuai permintaan pasar mutlak untuk memulai usaha ini.

Dengan pengetahuan pembuatan cat yg ala kadarnya, James menambahkan, tak mengherankan cat yg dihasilkan tak memenuhi standar, seperti warna yg belang-belang, cepat pudar, gampang luntur, dan tak awet atau jamuran. Secara perlahan tapi pasti usaha bakal tutup akibat produk kalah bersaing.

Jadi, meski pasarnya masih menjanjikan sekalipun pemainnya banyak, memulai usaha pabrik cat tetap harus dgn perhitungan yg matang.        

 

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.