Taufiq sukses berkat kaus kaki dan sepatu inovatif

Sunday, March 11th 2018. | Peluang Usaha

Pepatah bilang, pengalaman merupakan guru terbaik. Pepatah ini pas menggambarkan perjalanan hidup Taufiq Rahman. Setelah 20 tahun melakoni peran sebagai  tenaga pemasar, ia bertekad mandiri dgn usaha sendiri. Saat ini Taufiq menikmati derasnya tetes rezeki dari bisnis produksi 250.000 pasang kaus kaki dan 1.000 pasang sepatu saban bulan.

Setelah merasakan kariernya telah mentok sebagai general manager marketing di sebuah perusahaan, Taufiq  memutuskan beralih haluan jadi pengusaha. Sejatinya, usaha kaus kaki dan sepatu bukanlah bisnis pertama pria kelahiran Jombang, 8 November 1964 ini.

Taufik merantau ke Ibukota, bekerja sebagai detailer perusahaan farmasi. Namun, dia tak dapat menghiraukan panggilannya sebagai wirausahawan. Ia sempat menjalani banyak bidang usaha. “Dulu saya pernah jadi pemasok komputer, lalu jadi pembuat pupuk organik. Bahkan saya pernah buka restoran seafood,” kenang dia.

Namun, tak satu pun usaha itu yg berhasil. Padahal, Taufiq sempat menggadaikan rumah demi mewujudkan impiannya berbisnis. Alhasil, Aisyah, sang istri, sempat berujar mungkin jadi pengusaha bukan jalan hidup Taufiq. Dia pun kembali bekerja. “Tapi, tak pernah keluar dari jalur marketing, jadi saya memang telah menguasai bidang ini,” ujarnya.

Pada 2003, Taufiq mencium potensi besar dari usaha pembuatan kaus kaki. Dari pengalaman enam tahun bekerja di pabrik kaus kaki, dia melihat produk ini merupakan keperluan hampir semua orang. Walaupun kecil dan harganya tak seberapa mahal, kaus kaki dibutuhkan orang semenjak lahir bahkan sampai menutup usia.

Awalnya, Taufiq memproduksi kaus kaki secara kecil-kecilan dgn sistem maklun di Bandung dgn ditemani seorang karyawan. Karena mengutamakan kualitas, permintaan terus meningkat. Dari maklun, Taufik membeli mesin jahit sendiri. Uang pesangon sebesar Rp 40 juta dari perusahaan tempatnya bekerja ia jadikan modal awal. “Untuk produksi dalam jumlah kecil, maklun membantu, tapi karena jumlah orderan semakin banyak, tak dapat lagi dgn sistem itu karena saya sangat menjaga kualitas dan ketepatan waktu,” kata dia.

Dari usaha ini, dia berhasil membuktikan, bisnis kaus kaki tak mengenal merek. Mengandalkan kualitas yg sama dgn produk dari perusahaan, namun memasang harga yg lebih kompetitif, Taufiq mencuri pasar.  Bahkan, kini dia kerap menolak orderan. “Saya menolak 30% dari total order tiap bulan,” ucap dia.

Taufiq bilang, kunci utamanya dalam usaha ialah membidik pasar yg tepat untuk produknya. “Saya sangat fokus dalam hal marketing, positioning, dan segmentasi,” cetus dia. Dus, sampai sekarang ia meluncurkan 30 merek untuk produk kaus kaki dan sepatu. Tiap produk disesuaikan dgn pasar yg disasar.

Inovasi serat bambu

Menyadari bahwa ia bukan pemimpin dalam pasar kaus kaki, Taufiq memutar otak. Ia mencari cara agar produknya tak cukup laku di pasar, tapi juga memiliki nilai tambah. Pada 2010 ia menemukan bahan baku baru, yakni  bahan dari serat bambu.

Melalui riset, Taufiq mendapati serat bambu telah lazim menjadi bahan kaus kaki di luar negeri. “Saya lihat pasar dunia bergeser. Tak cukup fungsi, konsumen juga menginginkan kaus kaki yg anti bau,” tandasnya. Selain itu, serat bambu ramah lingkungan karena tak menghasilkan limbah. Namun kaus kaki  serat bambu ini tak begitu saja diterima pasar. Taufiq butuh waktu dua tahun sampai produk ini laku.

Dia pun sempat merugi. Tapi, Taufiq menganggap kegagalan itu seperti biaya sekolah.  “Tak mengapa rugi, yg penting saya mendapat pengalaman dan pembelajaran dari kegagalan itu,” tegas dia.

Baru pada 2012, Taufiq mencoba strategi pemasaran baru. Ia mengikutsertakan produknya dalam banyak pameran. Strategi ini berhasil mengangkat produk kaus kaki serat bambu. Taufiq menambahkan, untuk dikenal masyarakat luas, pengusaha harus rajin turut pameran. “Jangan cukup sekali, tapi berkali-kali,” tuturnya. Setelah berhasil memasarkan kaus kaki dari serat bambu, Taufiq tak langsung puas. Ia juga mengembangkan sepatu dari bahan yg sama.

Sebenarnya semenjak 2010, Taufiq telah memproduksi sepatu dari bahan kulit asli. Ia menggunakan kulit sapi jawa yg ditengarai sebagai kulit berkualitas terbaik di dunia. Sepatu dgn merek Parker, Alea, dan Le Coultre ini dibanderol mulai Rp 600.000 sampai Rp 1,5 juta per pasang.

Pengusaha sukses umumnya memiliki kreativitas tinggi. Pria yg berusia 50 tahun ini menuturkan hambatan dalam bisnis membuat dia kreatif. Misalnya, ketika sulit mendapat bahan kulit sapi lokal, dia mengembangkan kulit hewan lain untuk dijadikan bahan baku pembuatan sepatu.

Selain kulit sapi, Taufiq juga punya sepatu berbahan baku kulit eksotik. Sejauh ini, ia menggunakan kulit ular, biawak, dan ikan nila untuk membuat sepatu. “Justru kalau ada jenis kulit yg aneh saya tertarik. Itu yg membuat saya berpikir kreatif,” cetusnya.

Tahun ini, Taufiq akan meluncurkan produk baru, yakni sepatu dari kulit katak lembu (bullfrog). Taufiq mengklaim, sepatunya merupakan produk pertama dari bahan tersebut. Rencananya, produk tersebut akan dipamerkan pada perhelatan Indonesia Fashion Week tahun ini.

Taufiq juga baru saja membuat toko online. Selain dapat didapatkan di department store kaus kaki dan sepatu buatan Taufik dapat dipesan lewat internet.                                            

Pelaku UKM yg tak takut gagal

Kegagalan bukanlah momok yg ditakuti Taufiq Rahman, pemilik CV Citra Baru Busana. Justru, dari kegagalan ayah tiga orang anak ini dapat mendapat pengalaman berharga. Cara pandang itu yg mengantarkan dia menjadi pengusaha sukses.

Bisa dibilang Taufiq akrab dgn kata gagal. Dulu, ia sempat berganti-ganti bidang usaha karena tiap usaha yg ia geluti tak berujung pada keberhasilan. Makanya, ia sempat lama jadi karyawan meskipun sangat ingin jadi pengusaha.

Mimpi jadi pengusaha baru dapat diwujudkan ketika Taufiq berumur 39 tahun. Taufiq mengakui pengalaman yg membuat ia berhasil mengembangkan bisnisnya yg terakhir. Memiliki pengalaman puluhan tahun di bidang pemasaran membuat Taufiq lebih jeli melihat peluang bisnis.

“Pengusaha dapat sukses kalau dia benar-benar paham pada usaha yg dijalani,” tegas dia. Sama seperti Taufiq yg dapat berhasil menjadi pembuat kaus kaki karena memang telah lama mempelajari seluk-beluk bisnis kaus kaki dari perusahaan terdahulu.

Saat ini, Taufiq memba-wahi hampir 200 orang karyawan. Namun, ia belum mau menjadikan bisnisnya dalam model perseroan terbatas atau jenis badan usaha lain. “Saya bergerak dalam bisnis usaha kecil dan menengah dulu,” ujarnya.

Bagi Taufiq, UKM lebih siap menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yg sebentar lagi akan dihadapi. Dalam penilaian Taufik, skala bisnis UKM lebih efisien dalam produksi dan manajemen usaha.

“Ini jadi kelebihan UKM sehingga lebih siap untuk MEA dibandingkan dgn perusahaan besar,” katanya. Taufik menambahkan, pemerintah juga telah cukup tanggap dalam menyiapkan pebisnis tingkat UKM untuk menghadapi MEA melalui pelatihan dan seminar yg diberikan selama ini.  

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.