Generasi penerus sentra tenun pilih pergi ke kota

Friday, March 10th 2017. | Peluang Usaha

Kelurahan Watusampu, Kabupaten Donggala, Sulawesi Tengah terkenal dgn sarung tenunnya. Sayangnya, sekarang ini jumlah perajin sarung tenun di Watusampu tinggal terisa 20 orang saja. Sebelumnya, sekitar 75% wanita di kelurahan ini bekerja sebagai penenun.

Jaena, salah satu penenun mengatakan, kebanyakan wanita di Watusampu beralih profesi dgn menekuni usaha lain, seperti membuka toko. Sementara para remaja putri telah tak mau lagi bekerja sebagai penenun. Mereka memilih bekerja di toko-toko di daerah perkotaan.

Lilik mengakui, banyak wanita di Watusampu kini beralih profesi. Lilik sendiri masih setia dgn kegiatan menenun. Dia mengatakan, telah berhenti menenun saat menjadi kuliah di salah satu perguruan tinggi di daerah Palu, Sulawesi Tengah. “Saya dulu belajar menenun dari orang tua,” katanya pada KONTAN.

Aktivitas menenun adalah salah satu ketrampilan yg harus dikuasai oleh semua perempuan di daerah ini. Tak heran, semenjak kecil wanita di sini telah diajari menenun.

Saat masih menjadi penenun, dia mampu memproduksi sekitar 24 lembar sarung tenun setiap bulannya. Produksi sebanyak itu dibantu tiga orang karyawan.

Lilik membanderol sarung tenunnya mulai harga Rp 350.000− Rp 900.000 per lembar. Omzet yg diterimanya tak menentu. Saat sedang ramai orderan, dia dapat mengantongi keuntungan sampai belasan juta. Tapi ada juga saat di mana tak satupun sarungnya laku terjual. “Keuntungannya cukup tipis karena biaya produksi yg cukup mahal,” jelasnya.

Maklum saja, rata-rata upah minimal untuk para penenun sekitar Rp 50.000 per benang. Dalam satu bantal bisa menjadi 17 lembar sarung tenun.

Ada pun harga jual satu bantalnya mencapai Rp 3 juta. Dia mengatakan, tak sulit mendapatkan benang karena telah ada toko langganan di Palu yg memasok keperluan benang.

Sekedar informasi, sebelum adanya bantuan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM) dari pemerintah, para penenun cukup memakai alat tenun tradisional. Alat ini cukup mampu memproduksi satu lembar kain dalam sebulan.

Sementara saat menggunakan ATBM, rata-rata para perajin bisa menyelesaikan satu lembar sarung tenun dalam waktu tiga hari.

Meski lokasi tampak sunyi, bukan berarti para perajin tak berproduksi. Jaena menceritakan, bila produksi dilakukan setiap saat mulai pukul 10 pagi sampai pukul 5 sore.

Para perajin disana kebanjiran orderan saat mendekati musim pernikahan. Maklum, sarung tenun ini menjadi baju yg wajib dipakai untuk acara adat atau acara istimewa.

Rata-rata pelanggan memesan sarung tenun dua bulan sebelum acara. Selain masyarakat umum, Jaena banyak mendapat orderan dari pemerintah setempat. (Bersambung)

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.