Sepekan Peluang Usaha: Mi dan sampo Aprie

Wednesday, September 26th 2018. | Peluang Usaha

Waduh,  sepagi ini perut telah keroncongan. Boleh juga kalau yg nyanyi Sundari Sukoco. Ah, apa sih? Ini bukan soal lagu keroncong melainkan soal perut yg telah minta diisi. Soal lagu nanti saja kita omongin lagi, soalnya telah enggak tahan nih. Soalnya… soal melulu, kapan jawabannya. He, he, he…dapat aja. Soalnya… eh, soal lagi.

Oke sekarang janji enggak bakal ngomong soal, tapi masalah perut lapar. Jangan takut, telah terdapat kok mi ayam hangat. Tapi, kalau makan jangan lupa siapa yg bikin minya. Mi ini dibikin sama pabrik Mi Gloria. Pasti yg punya namanya Gloria. Salah. Pemilik usaha ini bernama Wiyono Gunawan.

Mi Gloria berdiri di Malang, Jawa Timur, semenjak 1971 oleh ayahnya Wiyono Gunawan. Namun, Wiyono tak cukup meneruskan usaha ayahnya, dia juga mengembangkan dgn membuka gerai penjualan mi, serta Depot Cui Mi di Malang bersama keluarganya.

Mi Gloria memasok mi basah untuk puluhan pedagang mi gerobak, depot, restoran, hotel, dan katering di Malang, Surabaya, dan Kediri. Kapasitas produksi Mi Gloria per hari lebih dari 300 kg. Harga jual mi basah produksi Wiyono berkisar Rp 10.000–Rp 17.500 per kg. Dus, keuntungan yg ia peroleh dari bisnis ini mencapai Rp 100 juta per bulan. Bikin ngiler saja nih Wiyono. Jadi pengin bikin pabrik mi juga.

Dengar nama Gloria, jadi pengen lihat dan merasakan yg manis. Hus, enggak ada hubungan dgn cewek ya. Tapi, ini ada hubungannya sama roti, yaitu selai. Ambil roti terus olesi dgn selai. Wah, enak sekali, padahal ini selai yg dibikin di rumah. Salah satu yg membikin selai rumahan adalah Kalalina, di Jakarta Utara. Selainya dimereki Lynelle.

Ketika merintis bisnis pada 2011, Lina bilang cukup memproduksi sekitar 10 botol selai per bulan. Ia membanderol selai tersebut Rp 45.000 per botol ukuran 275 gram. Kini, kapasitas produksinya naik drastis sampai 300 botol selai saban bulan. Modalnya usaha selai rumahan juga kecil, cuma Rp 2 juta. Itu kata Amina, pembuat selai rumahan lainnya.

Sudah habiskan roti dan selainya. Soalnya, eh soal lagi. Sori. Masalahnya, kita akan mencicipi makanan lain yg enggak kalah yummy. Eng, ing eng…ini dia Waffle Toast. Rasanya enak. Kalau enggak percaya, coba saja. Usaha ini dibesut Kladius Lisias semenjak 2010 di Serpong, Tangerang. Tapi, baru tahun lalu Kace, ini nama panggilannya Kladius Lisias, menawarkan kemitraan.

Ada tiga paket investasi yg ditawarkan. Pertama, paket gerobak seharga Rp 16 juta. Kedua, paket booth dgn investasi Rp 60 juta. Ketiga, paket resto dgn investasi Rp 100 juta. Dengan harga jual waffle  Rp 13.000 sampai Rp 35.000 per porsi, Kace menghitung, mitra dapat meraup keuntungan sekitar Rp 45 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya operasional, keuntungan bersih mitra dapat sampai 40% dari keuntungan. “Balik modal sekitar 15 bulan dgn catatan lokasi usaha sesuai dgn segmen anak muda,” ujar dia.

Ayo, kita tinggalkan Kace diam-diam. Kalau dia tahu, nanti kita disuruh bayar, he, he, he,…. Sori Kace, becanda.   Sekarang kita mau menggeruduk Cheese Chicken si ayam goreng tepung keju. Adalah  Muchlis Yusuf yg memiliki inovasi bikin ayam keju tadi. Biar bagaimanapun Muchlis pengen ayamnya menang di tengah persaingan ketat di dunia perayamgorengan.

Lewat CV Bosi Indonesia, Muchlis menjalankan usahanya pada 2012 silam. Tapi, baru 2014   Muchlis mulai menawarkan kemitraan.  Jika berminat mengecap Cheese Chicken, silakan Anda merogoh kocek sekitar Rp 70 juta. Nilai tersebut telah termasuk biaya kerjasama selama tiga tahun, fasilitas lengkap memasak, dekorasi gerai, seragam karyawan, pelatihan karyawan, dan materi promosi.

Pusat mengutip biaya royalti sebesar 12,5% dari keuntungan tiap bulan. Harga menu mulai dari Rp 10.500 sampai Rp 14.000 per porsi. Muchlis menargetkan minimum target penjualan sebanyak 250 potong ayam per hari. Dengan begitu, Muchlis memprediksi rata-rata setiap gerai dapat menghasilkan keuntungan Rp 90 juta−Rp 150 juta per bulan. Setelah dikurangi biaya operasional, mitra masih dapat meraup laba bersih 30%−35% per bulan. Mitra dapat balik modal kurang dari setahun.

Pakaian sampai obat herbal

Nah, biar usaha kita kelihatan serius dan bonafide perlu seragam karyawan. Kita pengen karyawan kita tampil trendi dgn mode terkini. Setuju. Tapi, modelnya bagaimana? Enggak usah bingung, kita kan kenal sama Aria Rajasa.  Itu lo yg bikin toko online mode. Nama tokonya Tees.co.id. Para konsumen dapat memesan produk fesyen yg terdapat di toko ini dgn desain yg mereka inginkan alias customized.

Situs ini dibuat berawal dari pengalaman Aria yg kesulitan membeli kaus-kaus clothing line yg sedang tren di kalangan anak muda semenjak beberapa tahun silam. Clothing line adalah bisnis pakaian dan produk fesyen karya desainer independen yg biasanya dipasarkan lewat distro-distro atau melalui jejaring sosial (online).

Aria juga mempersilakan desainer untuk membuka lapaknya tees.co.id.  Sistem kerjasama antara Aria dgn para desainer yg membuka lapak sendiri di situs ini adalah cukup dgn mendaftar saja dan tak dipungut biaya atau gratis tanpa modal. Manajemen Tees.co.id berusaha semaksimal mungkin untuk mempermudah orang dalam berjualan.  

Nah, bagi keuntungannya  cukup dgn mengenakan ongkos produksi cetak kaus sebesar Rp 120.000 per unit. Misalnnya harga jual kaus ke konsumen sebesar Rp 149.000 per unit, Aria cukup mengambil untung dari harga produksi kaus sebesar Rp 120.000. Pemilik desain akan mendapat sisa hasil penjualan sebesar Rp 29.000 per kaus. Oke juga si Aria.

Tapi, biar lebih oke, pakaian hasil customized tadi dipadu sama tas. Pasti keren abis. Buktikan sendiri. Soalnya, tas yg mau dipadukan sama pakaian tadi telah teruji mutunya. Tas kulit itu bermerek Abekani. Tahu enggak siapa yg bikin? Yang bikin pasangan suami istri Robertus Adi Nugroho dan Tunjung Pratiwi.

Sejoli ini bahu-membahu membesarkan Abekani. Mereka juga berbagi tugas. Adi bertugas berbelanja bahan serta membangun komunikasi dgn pemasok dan perajin kulit. Tunjung fokus mengurus customer dan penjualan.  Alhasil, Abekani pun semakin besar.  Kini, sekitar 60% produk Abekani merupakan tas perempuan. Kebanyakan produk ini dipesan secara inden dgn kisaran harga Rp 590.000–Rp 790.000 per buah. Adapun tas klasik uniseks dgn bahan kulit nabati (keras) dibanderol seharga Rp 265.000 – Rp 490.000 per buah. Padahal, usaha ini dimulai dgn modal Rp 2 juta saja.

Kalau Tatang Gunawan lebih keren lagi.  Dia mengawali usaha kerajinannya dgn limbah bulu domba.  Pria lulusan IPB ini membuat kerajinan boneka  domba dan binatang lain yg terbuat dari bulu domba asli yg dipadukan dgn akar wangi. Selain berfungsi sebagai pajangan, boneka domba ini juga berfungsi sebagai pengharum ruangan dgn akar wangi tersebut.  

Produknya itu dimereki Ecodoe yg berasal dari kata eco yg berarti lingkungan dan doe yg berarti domba.  Dari usaha ini Tatang dapat meraup keuntungan sekitar Rp 5 juta−Rp 10 juta per bulan. Harga jual produknya sekitar Rp 70.000−Rp 135.000 per unit.

Bagaimana kalau kita borong semua, pakaian, tas, dan bonekanya, untuk dijadikan buah tangan untuk raja. Enggak perlu. Kita memang mau ke istana, tapi istana ini enggak ada rajanya, yg ada cuma Krida Prasetia dari Surakarta, Solo. Pasalnya, yg mau kita kunjungi adalah Istana  Herbal.

Istana Herbal itu toko herbal yg didirikan Krida Prasetia semenjak 2007 silam. Setelah memiliki produk dgn merek sendiri dan sistem manajemen, Krida akhirnya membuka peluang kemitraan pada 2014. Ada dua paket investasi yg Istana Herbal tawarkan: paket Rp 200 juta dan paekt Rp 300 juta.

Menurut prediksi Krida, mitra dapat meraup keuntungan Rp 100 juta—Rp 400 juta per bulan dgn laba bersih sekitar 12%−20% per bulan. Dari sini, mitra dapat balik modal dalam waktu 8−36 bulan.  Menarik juga ya.

Nah, kalau tadi yg manis itu selai, sekarang yg manis itu Aprie. Ya, Aprie Angeline si pembuat sampo dgn keuntungan ratusan juta rupiah saban bulan. Kok dapat? Ya, dapat dong, meskipun awal terjunnya ke bisnis enggak sengaja.

Aprie mengawali bisnisnya dgn menjadi reseller di bisnis online. Itu dilakukan karena dia merasa tak cocok kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas gadjah Mada. “Bisnis menjadi pelampiasan karena saya merasa tak kuat di jurusan itu tapi tak berani bilang ke orangtua,” kenang gadis kelahiran Sorong, 5 April 1991 ini.

Melihat kemajuan toko online-nya yg diberi nama Billion Shop, akhirnya Aprie coba-coba membikin sampo herbal. Samponya dimereki Angeline Hair Treatment (AHT). Eh, ternyata samponya laris banget. Dengan modal awal senilai Rp 10 juta, Aprie memproduksi 200 botol sampo. Penjualannya pun terus meningkat. Kini, dia dapat menjual lebih dari seribu paket produk AHT saban bulan. Omzet usahanya pun mencapai Rp 230 juta. Bukan cuma sampo, Aprie juga membikin produk herbal lain. Awal tahun lalu, Aprie meluncurkan gula dari nira kelapa dgn kadar glukosa yg rendah. Semua produknya laris manis.

Melihat keberhasilan Aprie, enak juga terjun ke bisnis. Yang enggak enak, terjun ke kali.  Waduh. Kayaknya telah waktunya kita untuk berpisah. Semoga kebersamaan kita memberi semangat baru untuk beraktivitas di akhir pekan ini. Selamat berakhir pekan.

 

Artikel Lainnya:

tags: , , ,
.:[Close ads]::[Click 2x]:.

.:[Close ads]::[Click 2x]:.